Saya yakin para pesbuker nusantara faham betul tentang permainan petak umpet. Permainan ini dapat dimainkan oleh banyak orang dengan syarat ada seorang yang jaga atau bertugas untuk mencari teman-temannya yang lain sedang bersembunyi dan apabila si penjaga tadi dapat menemukan orang yang bersembunyi maka penjaga itulah yang menang. akan tetapi jika orang yang bersembunyi tadi kembali ke tempat awal permainan sebelum ditemukan oleh penjaga, maka orang yang bersembunyi itulah yang menang.

Baiklah kawan, jika membaca dan mengamati pemloncoan KPK melalui Hak Angket oleh DPR. Dua lembaga ini sesungguhnya sedang bermain petak umpet, hanya saja KPK itu masih anak kecil yang bisa diakali oleh DPR yang katanya merasa dewasa. Kalian tidak percaya mereka sedang bermain petak umpet? jika tidak, silahkan baca dibawah ini. jika percaya, jangan lanjutkan. lebih baik kita yang bermain petak umpet. ya kan?

Perjalanan hak angket saat ini sudah mencapai tahap pembentukan pansus hak angket KPK, banyak kecaman dari masyarakat Indonesia akan tindakan wakil ratyat ini. KPK sebagai lembaga penegak hukum yang telah sukses akan penangkapan para koruptor bangsa, saat ini sedang dalam proses pembatasan ruang gerak. Akan tetapi pendapat tersebut dibantah secara menyeluruh oleh para politisi dan para pakar HTN yang kebetulan dibayar untuk menjadi pansus hak angket KPK. mereka menyatakan bahwa, "filosofi hak angket adalah untuk perkuat KPK dan penegakan hukum dalam hal pemberantasan korupsi yang transparan, akuntabel, adil dan nondiskriminasi. jika ada yang mengatakan hak angket untuk membatasi gerak KPK, maka itu adalah Logika yang Sesat!!

Oh Tuhan, maafkan saya yang sesat dalam berlogika ini. karena logika saya memberitahu bahwa DPR itu adalah lembaga yang berwenang membentuk serta mengesahkan hak angket tersebut tapi selain itu banyak tokoh di dalamnya yang ditangkap oleh KPK karena kedapatan melakukan korupsi (penjaga) dan KPK adalah lembaga penegak hukum yang akan diatur oleh DPR dan sebuah lembaga yang mana menekan berkurangnya korupsi di Indonesia (Orang yang bersembunyi).

Wahai saudaraku, bagaimana kita bisa menangkap atau menang akan sesuatu jika gerak kita sendiri sudah dibatasi bahkan diketahui oleh musuh kita. DPR dan KPK itu kalo bisa ngobrol tu kayak gini mungkin..
DPR : eh KPK kamu bebas sembunyi sejauh apapun dan selama apapun boleh kok, tapi kamu nggak boleh kembali ke tempat awal permainan ini. Atau kamu boleh kok kembali ke tempat awal permainan, tapi kamu harus sembunyi di belakang pohon itu.
KPK : la kalo gitu, aku nggak bisa menang dong?
DPR : kan aturan aku yang buat.
KPK :