Di sebuah pesta ulang tahun terdapatlah seorang tua yang tengah mengidap “critical syndrome”. Saya tidak tahu pasti apakah istilah tersebut sudah umum dipakai atau belum. Tetapi yang ingin saya sampaikan dengan istilah tersebut adalah kondisi seseorang yang cenderung mengkritik segala sesuatu yang sudah menjadi mainstream.

Kondisi ini biasanya dialami oleh mahasiswa, terutama mahasiswa filsafat, di semester-semester awal. Kecenderungan mengkritik ini biasanya bersifat demonstratif (dipertontonkan) untuk menunjukkan pandangan-pandangannya ke publik.

Saat para tamu menyanyikan lagu “Panjang umurnya...panjang umurnya...panjang umurnya serta mulia...serta mulia...serta mulia”, seorang tua tersebut menggerutu kepada teman di sebelahnya tapi juga terdengar oleh tamu-tamu lain, “Lah, masa panjang umurnya, kan umur itu yang ada semakin berkurang!”

Para tamu diam saja, entah karena menganggap itu bukan pembahasan penting atau juga karena bingung mau menjawab apa sambil diam-diam setuju dengan seorang tua itu.

Seorang pemuda yang agak kurang sopan membalas dengan nada bercanda, “Ya sudah pak, kalo nanti pak tua ulang tahun nanti lirik lagunya kita ganti ‘pendek umurnya...pendek umurnya...pendek umurnya...” Hahahahaha ... seluruh tamu undangan tertawa terbahak-bahak kecuali seorang tua yang mengidap “critical syndrome” tadi. Bergegas ia keluar dengan air muka yang masam.

Antara harapan dan kenyataan memang sudah pasti berbeda. Hanya saja nanti bedanya jauh apa dekat. Nyanyian ulang tahun adalah sebuah harapan/doa, bukan fakta tentang siklus hidup manusia yang memang semakin mendekati mati. Pak tua telah gagal membedakan mana harapan dan mana kenyataan. Ia mengkritik harapan dengan kacamata kenyataan.

Taufik Ismail, sastrawan Indonesia, juga melakukan kesalahan sejenis pak tua. Kalau pak tua tadi gagal membedakan antara harapan dan kenyataan, maka Pak Taufik ini gagal membedakan mana sastra, mana doktrin. Ia mengatakan bahwa baris terakhir pada lagu Bagimu Negeri yang berbunyi “Bagimu negeri, jiwa raga kami” adalah syirik. Jiwa dan raga itu dari-Nya dan untuk-Nya, bukan untuk negeri. Begitulah kira-kira bunyi argumennya.

Maka telah musyriklah seluruh pujangga yang pernah mengatakan kepada kekasihnya (pasangannya), “Duhai cinta, hidupku tiada berarti tanpamu, hidup dan mati hanyalah untukmu.” Demikian konsekuensi dari gaya Pak Taufik dalam menafsirkan sastra. Aspek estetis tidak lagi menjadi hakim dalam sastra. Padahal, siapa juga yang bakal musyrik gara-gara mendengarkan lagu Bagimu Negeri atau rayuan khas pujangga?

Terakhir, seorang kakek sedang mendongeng kancil kepada cucunya menjelang tidur. Di ujung cerita, sang cucu bertanya, “Kakek, kok kancil bisa ngomong ya?” Dengan tersenyum ramah sang kake menjawab, “Ah, cucuku memang berbakat jadi sastrawan besar.”