Sebelum berkenalan dengan Tari Nawung Sekar, ada baiknya kita pahami maknanya. Nawung berasal dari  bahasa Jawa yang memiliki arti menata dan juga mengumpulkan, sementara Sekar berarti bunga. Secara harfiah, tentu bisa dikatakan bahwa arti dari Nawung Sekar adalah menata dan atau mengumpulkan bunga.

Berdasarkan pengertian di atas, tentu juga bisa kita simpulkan bahwa Tari Nawung Sekar adalah sebuah  tarian Jawa klasik gaya Jogyakarta yang menggambarkan tentang gadis cilik yang begitu cantik dan pandai menari, seperti bunga kecil tertiup angin, yang dengan senyum anggunnya, melenggak lenggok mengalun indah, gemulai laksana menata dan mengumpulkan bunga.

Hari Minggu, tanggal 16 September 2018 kemarin, memang menjadi malam yang indah bagi seluruh insan yang hadir dan terlibat dalam pementasan Tari Rantaya Putri oleh murid tamu asing dari Republik Ceko dan Tari Nawung Sekar oleh kelima murid dari sebuah sanggar tari yang berada di lereng gunung Sakya, yang terletak di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah ini. Keindahan dan pesona Tari Nawung Sekar pun ditampilkan setelah Tari Rantaya, di hadapan para hadirin dan murid tamu dari Ceko malam itu.

Seperti Sakya yang dalam bahasa Sanskerta berarti kebahagiaan, demikian pula bagi kelima gadis cilik yang menarikan sebuah tarian yang dikenal dengan nama Nawung Sekar itu. Mereka pun juga tampak begitu bahagia, tak hanya tersirat dari wajahnya yang jelita, tapi senyum mereka yang merekah sepanjang waktu pementasan, benar-benar tak bisa menyembunyikan kegembiraan yang dalam. Kegembiraan yang benar-benar dari hati, tak sekedar euforia semata, karena mereka memang menari untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka memang benar-benar rajin berlatih sebelum pementasan, meskipun dengan waktu tak sampai seminggu. Tak kenal lelah, percaya diri tapi tetap bersahaja dan juga penuh dengan semangat yang terkendali. Tak hanya belajar menghafal gerakannya saja, kelima gadis cilik mulai dari usia 7 tahun sampai 9 tahun ini pun juga kompak meghafal dan mencoba mempraktikkan Falsafah Joged Mataram yang merupakan standar nilai moral seorang penari Tari Jawa Klasik, sebagai pedoman bagaimana sepatutnya mereka menjadi seorang penari Tari Jawa Klasik yang sejati.

Dengan penuh semangat yang tak diragukan lagi, mereka pun menghafal arti dari sawiji dengan gerakan tangan dan tubuh yang memudahkan mereka. “Sawiji adalah fokus dan konsentrasi total menyatukan pikiran, hati, jiwa dan raga ke dalam tarian yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Tak hanya sawiji, demikian pula pula dengan greged, sengguh dan ora mingkuh pun juga mereka dalami di sela-sela dan pada saat mereka berlatih. Intens dan sepenuh hati adalah kata yang bisa mewakili bagaimana proses mereka berlatih, dengan waktu tidak sampai seminggu itu. 

Pekerjaan rumah dari pamong sanggar untuk memperlakukan sampah dengan baik, seperti membuangnya pada tempatnya dan memilahnya sesuai jenisnya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan pun, juga benar-benar mereka lakukan. Melakukan senam mata saat bangun tidur juga disarankan oleh pamong sanggar, kepada mereka menuju hari pementasan, dalam mempersiapkan mental, jiwa dan raga mereka.

Senyum sumringah pun akhirnya selalu menghiasi wajah mereka kerap kali berlatih bersama. Tampak jelas itu mengekspresikan ketidaksabaran mereka menanti indahnya malam pementasan. Bagi Agatha Dani Setyaningsih, bocah berusia tujuh tahun ini, proses berhias merupakan hal yang sungguh dinanti dan sangat membahagiakannya. Wajahnya pun sudah berbinar-binar bahagia, hanya dengan membayangkannya saja setiap selesai berlatih.

Dani kecil juga tampak senang ketika Nikola, murid tamu dari Republik Ceko tersebut, mendapatkan nama Jawa yang sama dengan nama belakangnya yakni Setyaningsih dari Pamong Sanggar tempat ia berlatih menari. Dengan nama Jawa yang memiliki makna anak perempuan, gadis, dan atau perempuan yang setia dan penuh kasih, keduanya diyakini dapat menyuguhkan tarian Jawa dengan indah, yang mencerminkan kasih, yang sesuai dengan makna namanya di saat malam pementasan.

Nama memang bukanlah sekedar identitas, karena nama juga memiliki makna dan pengaruh bagi yang menyandangkan.  Ia bisa memengaruhi jiwa dan kehidupan pemiliknya. Secara tidak langsung, bila kita menyebut sebuah nama seseorang, maka doa dan harapan pun terucap sesuai dengan makna nama tersebut.

Dengan nama Setyaningsih, gerak gemulai dalam balutan dodot pun mengalun sempurna tatkala Tari Rantaya Putri, ia tampilkan di malam pementasan itu, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setyaningsih (Nikola Sichlerová) memang benar-benar bersyukur karena selama seminggu ini, ia mendapat kesempatan belajar filosofi dan tarian Jawa. 

Seperti kelima penari cilik yang menarikan Tari Nawung Sekar, Setyaningsih (Nikola Sichlerová) murid tamu dari Republik Ceko tersebut juga memiliki kendala atau hambatan dalam proses persiapan pementasan. Bila kelima anak-anak penari Tari Nawung Sekar harus membagi waktunya dengan tugas dan kegiatan sekolah, serta belajar menyiapkan ujian, Setyaningsih ternyata juga sempat terkulai lemas, jatuh sakit, dua hari menjelang pementasan.

Setyaningsih adalah mahasiswa master jurusan Bahasa Hindi, di sebuah universitas di Praha. Tak hanya mendalami Bahasa Hindi, ia pun juga mempelajari Bahasa Indonesia. Ia adalah sukarelawati di bidang lingkungan yang ditempatkan selama dua minggu di Candi Gedong Sanga, Kabupaten Semarang. Takdir akhirnya yang membawanya ke sanggar tari ini, seminggu sebelum kepulangannya.

Setyaningsih, sangat antusias dalam mempelajari filosofi  seni dan budaya Jawa. Karena dari seni dan budayanya, kita memang bisa belajar dan memahami karakter manusia atau masyarakatnya.  Dan itu sangat penting bagi seorang sukarelawan untuk memudahkannya berkomunikasi dan bekerjasama dengan masyarakat setempat. Namun, sayang sekali pada saat dua hari menjelang pementasan, ia terlihat pucat menahan sakit di perutnya.

Air matanya merembes di pipinya yang putih tatkala tim sanggar menjemputnya di camp, tempat ia tinggal untuk dibawa ke dokter. Rasa sakit dan rasa haru sepertinya membaur dalam tetesan air matanya.

Makanan penduduk setempat selama seminggu yang disantapnya, yang tidak familiar di lidahnya, ternyata meningkatkan asam lambung dan juga kadar kolesterol dalam darahnya. Untunglah ia tidak terlambat dibawa ke dokter setempat dan mendapatkan perawatan yang baik. 

Menu sehari-hari ala Eropa pun akhirnya tersaji di meja makan sanggar selama dua hari sebelum pementasan. Roti, keju, kentang panggang dengan taburan keju, pasta dan salad saus keju serta buah-buahan segar membuat Setyaningsih perlahan pulih dan bisa berlatih kembali. 

Untuk pemulihan, Setyaningsih pun akhirnya dirawat di sanggar dan ikut berlatih bersama anak-anak dengan intens, yang ternyata juga menjadi salah satu obat yang mempercepat kesembuhannya. Setyaningsih tersenyum gembira, wajahnya pun memerah bahagia menunjukkan tanda-tanda kesembuhannya, yang begitu cepat.

Kedatangan murid tamu asing, memang merupakan berkah tersendiri bagi sanggar ini, karena dapat bertukar pengetahuan tentang kebudayaan. Bagi anak-anak sanggar sendiri, mereka pun juga sangat senang karena bisa berhitung dalam bahasa Ceko saat berlatih.

Tak hanya belajar berhitung 1-8, mereka pun menjadi hafal gambar bendera Republik Ceko, bahkan mereka juga menjadi tahu tentang tarian tradisionalnya dan sekilas tentang sejarah Republik Ceko yang merdeka bersama Slovakia dan akhirnya berpisah secara damai pada tahun 1993.

Nikola atau Setyaningsih terlihat gemulai menarikan Tari Rantaya Putri, yang merupakan untaian gerak dasar tari Jawa klasik gaya Surakarta malam itu. Dan gending untuk Tari Rantaya Putri yang dipakai di sanggar ini adalah Ladrang Ketawang Ibu Pertiwi yang liriknya menggambarkan tentang rasa syukur kepada Ibu Pertiwi yang dengan kasih tanpa pamrihnya, telah menyediakan keperluan hidup seluruh makhluk.

Sesuai dengan makna nama Jawa Nikola yang penuh kasih, maka keselarasan antara penari dengan tariannya, demikian pula dengan gending dan makna yang terkandung dalam liriknya, malam itu benar-benar menciptakan keindahan alunan gerak alam ke dalam tarian yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tak hanya sosok penari, penonton yang hadir dalam pementasan tersebut pun menyatu menjadi satu rangkaian indah pada acara malam itu. Sembahan yang diikuti para hadirin saat para penari melakukan gerakan manembah merupakan simbol bahwa tarian ini dan seluruh rangkaian acara malam itu memang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Berdoa dan alunan lagu nasional Indonesia Pusaka pun membuka acara malam itu diikuti Tari Rantaya Putri yang dibawakan oleh Setyaningsih, murid tamu dari Ceko didampingi oleh dua penari dari sanggar ini, yakni Maharanisayloem dan Daioe Vrabukarsasuci.

Tari Nawung Sekar tampil setelah Tari Rantaya Putri. Dengan lembut para penari Tari Rantaya Putri pun duduk bersimpuh di antara para undangan menyaksikan indahnya Tari Nawung Sekar malam itu. Dengan penuh semangat, kelima penari cilik yang terdiri dari Agatha Dani Setyaningsih, Moza Gresia Gandi, Maria Lavina Nadine, Rosarie Nayda Artanti dan Najwa Risna Nurfaiza, mempersembahkan keindahan Tari Nawung Sekar kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan sawiji, salah satu dari Falsafah Joged Mataram yang mereka pelajari.

Setelah Tari Nawung Sekar berakhir, rangkaian bunga melati yang menghiasi rambut Setyaningsih pun, harumnya tiba-tiba saja semerbak memenuhi ruangan pendopo dan memecah keheningan malam, tatkala ia, Setyaningsih menyampaikan sambutannya dalam dua bahasa, bahasa Ceko dan bahasa Indonesia, setelah ia menerima sertifikat penghargaan dan juga setelah lagu kebangsaan Czech berkumandang malam itu.

Baginya Tari Jawa khususnya Tari Jawa Klasik, ternyata sungguh anggun dan indah, bisa membahagiakan pikiran, menghaluskan jiwa dan juga raga. Dalam speech nya malam itu, ia juga mengucapkan terima kasih atas keramahan pengelola sanggar yang telah mewakili bangsanya sesuai dengan karakter yang terlihat dari seni dan budayanya.

Malam semakin indah saja, tatkala lagu kebangsaan Republik Ceko berkumandang. Pendopo sanggar dengan kapasitas terbatas yang hanya bisa menampung kurang lebih 50 orang ini, memang menjadikan setiap acara yang terselenggara terkesan eksklusif, karena setiap acara selalu dikemas padat, sakral dan indah. Pendopo pun juga selalu dihias janur kuning dan taburan bunga mawar merah putih yang senada dengan warna kayu pendopo, yang semakin menyempurnakan keindahannya.

Gerak gemulai Setyaningsih memukau seluruh hadirin. Tak ada yang menyangka, Setyaningsih segemulai itu. Tentunya menjadi harapan bagi Ibu Nurtatik, Kepala Desa tempat sanggar ini berada, dalam sambutannya, agar generasi muda bangsa ini menjadi terpacu untuk tetap dan terus melestarikan budayanya. 

Tak hanya gemulai Tari Rantaya Putri yang memukau, keindahan Tari Nawung Sekar yang dibawakan oleh kelima penari cilik sanggar ini pun menghipnotis seluruh yang hadir. Mereka benar-benar luar biasa hebat. Setiap gerakannya benar-benar anggun dan gemulai. Penuh perasaan dan penuh kebahagiaan. Darah terasa mendesir menyaksikan keindahannya malam itu.

Setyaningsih pun tak hanya membawa pulang pengalaman menari Tari Rantaya Putri ke negerinya, keindahan Tari Nawung Sekar telah memikat hatinya. Ia pun meminta gending dan video pementasan Tari Nawung Sekar. Ia benar-benar terpikat. Keindahannya benar-benar dalam, bila ditarikan dengan konsep menari untuk Tuhan. 

Kelima penari kecil itu memang sanggup membawakan Tari Nawung Sekar dengan indah malam itu. Hawa kegembiraan pun juga memancar  dari tubuh bidadari-bidadari kecil itu. Bagaikan turun dari Keinderaan, dengan gemulai kaki-kaki kecilnya menyibak taburan bunga mawar di lantai pendopo tempat mereka mempersembahkan tariannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Konsep menari untuk Tuhan dengan kostum dan riasan yang mendukung, juga nuansa tempat pementasan yang indah, membuat seolah semesta ikut hadir mendukung acara tersebut. Bahkan Moza kecil salah satu dari kelima penari tersebut, hampir saja membatalkan pementasan karena pusing berat dua jam sebelum pementasan. Namun satu jam kemudian, mendadak ia bangkit dari sakitnya. 

Seolah mendapatkan energi yang lebih, Moza pun akhirnya melakukan persiapan dan hadir, bahkan menari dengan indah bersama teman-teman kecilnya. Setyaningsih begitu terpikat dengan Tari Nawung Sekar, apakah kita juga terpesona membayangkan keindahannya? Keindahan dan Pesona Tari Nawung Sekar.