Pesawat kertas kini kurang diminati, khususnya bagi generasi yang lahir di era 2000-an. Permainan ini hanya menyisakan kenangan dan memudar seiring perkembangan teknologi.

Belum luput dalam ingatan kita, satu tahun yang lalu tersebar kabar bahwa pesawat kertas diinovasi kembali. Penemuan inovasi ini menjadikan pesawat kertas tampil begitu canggih. Cukup dengan melipat kertas menjadi pesawat dan memasang Dart di bagian sisi dan belakang pesawat, pesawat kertas dapat terbang dikendalikan dengan smartphone layaknya drone.

Saya pun mengingat ‘Pesawat Kertas Tujuan Surga’ yang saya luncurkan perdana di tahun 2014. Tahun pertama saya menjajal kemampuan mengajar setelah lulus dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sumatra Selatan. 

Lulus dengan IPK tertinggi tidak menjadi jaminan. Beruntungnya saya berkiprah di organisasi pelajar tertua di Indonesia, Pelajar Islam Indonesia (PII). Pengalaman mengelola kelas dalam pelatihan kepemimpinan pelajar di Sumatra Selatan ini menjadi pelecut semangat untuk tampil prima di hadapan 27 siswa.

Hal pertama yang harus guru lakukan di pertemuan awal tatap muka, yaitu memberikan kontrak belajar. Kontrak belajar yang dimaksud ini mengenai kesepakatan berupa aturan di dalam kelas, silabus, dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran.

Kesempatan ini tidak saya habiskan hanya untuk berkenalan saja. Ya, itu memang penting. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mencipta kesan awal yang bermakna.

Menanamkan kesan bahwa belajar bersama akan sangat menyenangkan memang bukan hal yang mudah. Namun, bukan berarti hal itu sulit untuk kita lakukan. Saya merenung cukup lama untuk mengonsep ‘Pesawat Kertas Tujuan Surga’ ini.

Saya memberikan perlakuan yang sama pada semua kelas. Hasilnya dapat dilihat bahwa hipnosis berhasil. Setiap instruksi atau apa pun bentuknya, tersimpan baik dalam alam bawah sadar mereka. Tanpa diminta, mereka akan mengingat apa yang harus mereka lakukan.

Hal ini bisa menjadi referensi bagi rekan semua untuk menciptakan kesan awal yang bermakna di dalam kelas. Utamanya bagi fresh graduate yang baru akan memulai pengabdian sebagai pembangun insan cendekia.

Saat pertemuan awal di kelas, betapa terkejutnya mereka. Saya masuk ke kelas dalam kondisi sudah mengenali wajah dan nama mereka satu per satu. Meskipun tidak semua orang mampu mengingat nama puluhan siswa secara cepat, tapi ini harus coba dilakukan.

Bagaimana caranya? Siapkan daftar presensi lengkap dengan foto serupa dengan posisi duduk di kelas.

Saat masuk kelas, kita bisa langsung menyapa mereka dengan sebutan nama. Efek yang terjadi, mereka merasa dekat dengan kita. Perasaan begitu dihargai akan menumbuhkan rasa percaya diri. 

Setelah itu, saya tidak memulai kontrak belajar dengan menyodorkan sederet aturan kelas. Namun, saya mulai dengan bertanya mengenai liburan sekolah mereka.

Beberapa siswa mencoba bercerita, "Saya ke Bangkok, Miss. Ke Pataya, foto dengan Justin Bieber." Ditutup dengan senyum kegirangan. 

Diteruskan dengan cerita dari yang lain, "Ke Bandung, Miss, tapi dari Jakarta ke Bandung macet 24 jam. Mending naik pesawat."

Ibarat melempar bola ke lapangan, pertanyaan yang saya ajukan berhasil ditendang dan masuk gawang. Pengalaman mereka yang mayoritas sudah pernah naik pesawat ini langsung saya jadikan bahan untuk membuat analogi.

Saya keluarkan pesawat kertas berwarna biru yang saya bentuk dari kertas origami. Lalu, saya menyalakan beberapa instrumen dengan volume sedang untuk memberi semangat anak-anak.

Suara saya menembus dinding kelas. Memang modal dasar yang harus dimiliki guru adalah vokal yang jelas dan suara yang lantang. Sehingga ketika mengajar tak perlu menggunakan microphone.

Saya lempar pertanyaan, "Anggap saja kita sekarang dalam sebuah pesawat. Mau kita beri nama apa pesawat kita ini, Nak?" Lalu usulan berdatangan. Kelas pun ramai.

Setelah dibahas, nama pesawat disepakati, yaitu Al-Azhar 7B Airlines. Kemudian, saya ajukan pertanyaan lain, "Mau ke mana kita dengan pesawat ini?"

Semua tujuan yang mereka ajukan saya tulis di papan tulis, seperti Segitiga Bermuda, Paris, Mekkah, Amerika Serikat, Palestina, dan lainnya. Namun, saya terus mengarahkan mereka untuk menjawab tujuan ke surga dengan memberi doktrin secara tidak langsung.

Saya katakan bahwa pesawat ini hanya diproduksi khusus untuk mereka. Pesawat ini hanya bisa terbang menuju satu tujuan. Sehingga mereka memang harus berpikir mau ke mana untuk satu kali kesempatan yang dimiliki.

Suasana hening. Tiba-tiba ada satu anak perempuan yang berujar dari pojok kanan kelas, "Ke surga aja, Miss.”

Akhirnya, tanpa diskusi panjang, seisi kelas sepakat bahwa tujuan pesawat kertas menuju surga. 

"Bila ingin menuju surga, banyak tantangan yang akan dihadapi dalam perjalanan nanti. Apakah semua siap melalui itu?" tanyaku dengan sedikit berteriak.

Serentak semua menjawab "Insyallah, siap, Miss."

Ketika semua sudah mulai tersugesti, saya mulai tanamkan aturan tanpa menyebutkan kata 'aturan' itu sendiri. "Sudah siap terbang bersama Miss?"

"Insyallah, siap, Miss." teriak mereka kembali dengan semangat.

Saya bagikan kertas origami berwarna biru. Lalu mereka menuliskan apa saja aturan dalam pesawat yang harus disepakati bersama. 

Kenapa saya meminta mereka untuk menuliskannya? Karena dengan menulis, semua akan mengingat apa yang telah disepakati bersama. Dengan begitu, apa yang menjadi kontrak belajar selama satu tahun dapat mereka laksanakan tanpa terpaksa.

Beberapa dari aturan dalam kontrak belajar yang disepakati, seperti sebelum masuk ke pesawat semua harus membawa tiket. Tanpa tiket, jangankan terbang, masuk ke dalam pesawat pun tidak mungkin. Tiket yang dimaksud adalah buku paket bahasa Indonesia. 

Suatu keharusan di dalam pesawat semua HH/gawai dinonaktifkan. Di tahun 2014, Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Palembang belum menggunakan iPad dalam pembelajaran. Tidak hanya itu, sebelum terbang, semua sudah duduk di kursi masing-masing. 

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Al-Azhar 7B Airlines dengan tujuan surga. Penerbangan ke surga akan kita tempuh selama 360 hari. 

Sebelum landas, kami silakan kepada Anda untuk menegakkan sandaran kursi, mengencangkan sabuk pengaman, dan tak lupa berdoa. Atas nama kapten dan awak pesawat, saya mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini. Terima kasih atas pilihan Anda terbang bersama kami," ucapku menyerupai pramugari.

Sebenarnya saya ingin menekankan pada mereka untuk berkonsentrasi 10 menit pertama dan terakhir, yakni posisi saat take off dan landing. Posisi yang dimaksud adalah posisi 10 menit pertama saat saya menjelaskan materi dan melakukan refleksi di akhir pembelajaran. Begitulah kira-kira beberapa aturan teknis yang disepakati.

Materi pertama, Teks Hasil Observasi dimulai. Saya tampilkan lagu "Tanah Air" yang dinyanyikan oleh salah satu finalis Idola Cilik. Saya minta mereka mengamati terkait dengan pendekatan scientific pada kurikulum 2013, yakni mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

Pembelajaran pun berlangsung. Menuju surga tidak bisa dilakukan hanya satu atau dua penerbangan. Penerbangan yang kami lakukan baru sampai 'Gunung Kidul'. 

Melalui teks observasi, saya mencoba mengajak mereka melihat bagaimana keindahan ekosistem yang masih terjaga di daerah itu melalui sebuah gambar yang dianalogikan bahwa gambar itu adalah gambar asli yang dilihat dari kaca pesawat.

Begitulah lebih kurang cara yang saya terapkan untuk mengikat siswa di kelas yang saya asuh di tahun 2014. Amanah sebagai wali kelas 7B saya sanggupi. Jumlah kelas yang saya ampuh untuk pelajaran Bahasa Indonesia sebanyak tiga kelas.

Bila dihitung, lima tahun sudah saya berkontribusi di SMP Islam Al-Azhar Cairo Palembang ini. Seumpama kesetiaan Gerakan Pramuka, pengabdian ini sepantasnya sudah diberi penghargaan Lencana Pancawarsa.

Saya jadi rindu pada mereka yang telah lulus dan diterima di SMA favorit yang tersebar di seluruh Indonesia. Semakin berkembang sekolah ini, jumlah siswa pun bertambah setiap tahunnya. Mulanya saya mengasuh hanya tiga kelas, sekarang di tahun 2019 bertambah menjadi lima kelas.

Tidak hanya bertambah jumlah peminat, kini sekolah ini telah melahirkan banyak cabang yang tersebar di penjuru negeri. Seperti, Al-Azhar Cairo Banda Aceh, Bandung, Yogyakarta, Pagar Alam, Jati Bening, dan sekolah binaan di Bali.

Tidak terasa semester genap segera usai. April depan, siswa kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan mengikuti serangkaian ujian: Ujian Praktik, Ujian Sekolah (US), Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Artinya, awal tahun pelajaran baru akan segera dilalui.

Sudah tidak sabar dengan penerbangan selanjutnya. Melanjutkan kembali cerita pesawat kertas dengan penumpang yang baru. Satu tahun ke depan harus dikemas pembelajaran yang berkonsep 'Pesawat Kertas Tujuan Surga'. 

Saya akan ajak mereka melintasi surga di segala penjuru dunia. Saya pun akan buktikan bahwa apa saja yang tertulis dalam Alquran tidak hanya sebatas tulisan di atas kertas tanpa makna. Terhampar surga dunia di Bumi Allah bagi mereka yang berpikir.

Bukankah tujuan surga itu dapat kita raih dengan melewati salah satu pintu? Seperti yang Rasulullah SAW katakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, "Barang siapa yang menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya menempuh jalan ke surga."