Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan termasyhur di Indonesia, bahkan manca negara. Pasalnya, lembaga pendidikan ini dalam mengajarkan keilmuannya sangat kompleks dan luas. Faktanya, pesantren tidak hanya mengajarkn ilmu saja, karakter (akhlak) juga menjadi bagian utama dalam pendidikan.

Di samping itu, pesantren juga mengajarkan berbagai jenis keilmuan sosial, dari mulai ilmu falak, balaghah, mantiq, khithobah, dan sebagainya. Nah, dari berbagai keilmuan yang diajarkan itu, ternyata pesantren juga mengajarkan para santri tentang pornografi. Perlu diketahui ilmu ini dalam pembelajarannya hanya untuk santri kategori atas (ulya).Sekali lagi, bahwa ilmu pornografi yang dimaksud adalah ilmu tentang pergaulan antara suami isteri yang berhubungan intim.

Pembelajaran ilmu ini tentu tidak serta merta di peruntukkan atau dipelajari oleh semua kalangan pesantre. Begitu juga dalam mengambil referensi buku (kitab), tidak semua kitab dijadikan acuhan. Adapun kitab yang menjadi rujukan yang sering dipelajari ada dua kitab. Pertama, kitab Qurratul Uyun karya Syaih Muhammad al-Tahami bin Madani.

Kitab Qurratul Uyun merupakan kitab yang paling vulgar dalam pembahasan hubungan suami-isteri. Kitab ini terdapat dua puluh pasal tentang pornografi dalam rumah tangga. Selanjutnya, kitab ini biasanya diajarkan kepada para santri yang sudah berusia (baleq), dan terkadang juga karena hampir menikah. Hal ini supaya tidak mengganggu pikiran mereka yang dibawah umur, apabila kitab ini dikaji santri yang belum baleq.

Pasal-pasal yang terkandung dalam kitab Qurratul Uyun sangat pas dan tepat untuk para remaja yang akan menikah. Pasalnya, dalam pembahasannya begitu terperinci tentang hubungan suami isteri. Seperti contoh ada pasal yang mengulas tentang posisi bersetubuh yang harus dihindari. Selanjutnya, pembahasan terkait tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam bersetubuh dan tata kramanya.

Pemaparan berhubungan suami isteri sangat vulgar dan bahkan detail. Sebagai contoh ada kalimat yang mengatakan, kurang lebihnya yang artinya: “dan gerakkanlah bibir vagina dan jangan engkau perduli dan teruskanlah dan jangan engkau cabut dzakarmu sampai klimaks”.

Penjelasan yang demikian tentu harus jelas dan tidak ada kesan tabu dalam penyampaiannya. Kitab ini tentunya tidak hanya mengajarkan tata cara berhubungan suami isteri berhubungan intim saja. Namun, kitab ini juga mengajarkan nasihat-nasihat sebelum menikah, seperti kewajiban suami terhadap isteri dan sebaliknya, selain itu juga mengajarkan untuk memilih calon pasangan yang baik.

Kitab selanjutnya adalah kitab Syarah Uqudullujain fi Bayan Huquq al-Zaujain karya Syekh Nawawi al Bantani bin Umar Al Jawi. Kitab ini terdiri dari empat bab terkait dengan berbagai hal penting bagi pasangan suami isteri yang mendambakan keharmonisan dalam membina rumah tangga dan keluarga.

Adapun bab pertama kitab ini membahas tentang hak istri pada suami, sementara bab kedua membahas hak  suami pada istri. Pada bab ketiga membahas tentang keutamaan shalat istri di dalam rumahnya. Terakhir adalah bab keempat yang mengulas tentang keharaman seorang lelaki melihat wanita lain yang bukan muhrimnya dan sebaliknya. Kitab ini menjadi salah satu kitab yang wajib dikaji di seluruh pesantren di Nusantara.

Kedua kitab yang membicarakan seksualitas secara gamblang bukanlah hal yang harus dijauhkan dari kehidupan karena mengandung unsur jorok. Hal ini melainkan harus dipahami secara mendasar. Pembelajaran ini tentu bertujuan supaya hubngan suami isteri nantinya dapat bahagia dan harmoni.

Sekali lagi bahwa sesungguhnya seksualitas dalam pendidikan pesantren tidak hanya dibahas oleh kedua kitab tersebut. Namun, dalam beberapa kitab juga telah dibahas secara gamlang juga dalam literatur fiqih klasik. Bahkan di dalam kitab fiqih ini tingkat ibtida iyah(tingkat dasar) juga boleh mempelajarinya.

Kitab fiqih biasanya membicarakan seksualitas kerap kali dibahas dalam Bab bersuci. Salah satu pembahasannya adalah tentang mandi besar (junub). Kemudian disusul dengan pembasan tentang nifas, haid dan bahkan tentang pernikahan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa lembaga pendidikan pesantren mengajarkan seksualitas kepada para santrinya. Selain itu, pesantren juga mengajarkan tentang kesehatan reproduksi. Hal ini jauh sebelum masyarakat sekarang menekankan bahwa pentingnya pendidikan seksualitas dan reproduksi pada anak-anak.

Sebagai masyarakat awam kini mereka berpendapat bahwa pendidikan seksual terhadap anak-anak dan remaja merupakan sesuatu yang tabu bahkan larangan tersendiri untuk anak-anak. 

Masyarakat berpikir bahwa dengan mengajarkan pendidikan seksual pada anak dan remaja nantinya akan mendorong mereka untuk mencoba-coba. Nantinya hal itu justru akan menimbulkan dampak negatif terkait kekerasan seksualitas atau hamil diluar usia nikah.

Apabila seksualitas tidak diajarkan pada anak dan remaja. Hal ini justru akan merusak prilaku mereka melalui coba-coba yang seharusnya tidak dilakukan di bawah usia. Namun, jika pendidikan seksual pada anak-anak diterapkan dengan baik dan benar, maka akan dapat menghindarkan anak dari resiko pelecehan seksual ataupun kekerasan seksual. 

Dengan pendidikan seksual yang tepat dan benar, maka nantinya anak-anak akan mengetahui mana yang boleh atau positif dan tidak baik atau negatif mengenai seksualitas. Kemudian mereka akan memahami kapan mereka mengalami pelecehan seksual.