Berita seputar hasil hitung cepat pemilihan Presiden menjadi daya tarik utama publik. Jokowi yang sempat menunda pidato kemenangannya versi hitung cepat, akhirnya tak tahan juga untuk menyampaikan suara hatinya. Sementara itu, Prabowo dan pendukungnya terus berusaha meyakinkan diri dan publik bahwa dialah yang memenangkan kontestasi lima tahunan ini.

Sesaat setelah Sandiaga Uno menghilang dan warganet gaduh, saya sempat berbincang dengan Prabowo Subianto, berbincang mengenai keyakinannya dan sikapnya. Berikut petikan obrolan itu:

"Mengapa sampeyan ngeyel memenangkan pemilihan presiden ini, Pak?" tanya saya membuka obrolan.

"Karena saya yakin. Itu yang melansir dan menyimpulkan kemenangan Pak Jokowi kan lembaga survei. Sementara lembaga survei itu kan bukan penyelenggara pemilu. Saya hanya ingin mengajak publik berpikir waras, jangan terjebak kesimpulan-kesimpulan yang bersifat ejakulatif," jawab Prabowo.

"Bukankah selama ini kesimpulan dari berbagai lembaga survei itu linear dan banyak benarnya, Pak?" lanjut saya.

"Iya. Ini bukan soal benar-salah hasil survei. Ini soal penghormatan kepada mekanisme hukum. Siapa penyelenggaranya, bagaimana aturannya. Lembaga survei itu sesungguhnya sudah mengudeta KPU dengan mendeklarasikan seakan-akan tahapan pemilu sudah selesai," kata Prabowo.

"Andai memang hasilnya seperti hasil survei itu, bapak memang kalah dalam pengumpulan suara?" tanyaku agak khawatir.

Tak disangka, kekhawatiran saya sangat tak beralasan. Prabowo di mata saya menjelma menjadi sosok peramah, bukan pemarah.

"Ya nggak papa. Kan dalam pidato saya saat debat pernah saya sampaikan bahwa saya siap mengorbankan apa pun demi negara. Saat ini saya sedang mengorbankan harga diri saya. Saya tahu kalau di luar lingkaran saya, di kelompoknya sahabat saya Pak Jokowi itu, saya dianggap gila, dianggap megalomania. 

Saya mengorbankan harga diri dan perasaan saya agar masyarakat Indonesia kembali kepada konstitusi, bahwa saat ini tahapan pemilihan Presiden belum selesai. Masih ada yang harus ditunggu penyelesainnya, yaitu hitung nyata atau real count," kata Prabowo.

Diam-diam saya mulai kagum dan bersimpati. Andai pertemuan ini terjadi sebelum pemilu, barangkali saya akan menggunakan hak pilih saya untuk mencoblos fotonya di surat suara.

"Sampeyan ingat Pilkada DKI, bagaimana hasil hitung cepat lembaga survei yang menempatkan Ahok menjadi pemenang? Saya tetap bersikukuh bahwa Ahok menang. Dan hasil hitung nyata, KPU akhirnya membenarkan hal itu, bukan? Saya sebenarnya hanya sedang mengajak publik untuk menghormati proses, menghormati mekanisme, dan aturan yang disepakati," katanya.

"Adakah pesan tersirat lainnya?"

"Begini. Kembali ke zaman Pilkada DKI. Waktu itu Pak Anies Baswedan sudah seperti patah semangat. Kami menemukan banyak kecurangan, dan kami yakin itu bukan atas perintah Ahok, apalagi Presiden. Itu kecurangan yang dilakukan oleh entah. Semua lembaga survei menempatkannya sebagai pihak yang kalah. 

Setelah saya menyampaikan bahwa Pak Anies menang, beliau kembali bersemangat. Saksi-saksi juga kembali bersemangat mengawasi jalannya perhitungan suara. Hasilnya bisa sampeyan lihat sendiri, kan?" katanya.

"Jadi ini lebih ke berbagi semangat agar pengawasan pemilu berjalan seperti yang seharusnya?" saya berusaha meyakinkan kesimpulan saya.

"Iya, benar. Saya sebenarnya tidak sedang berhalusinasi. Bukankah kecurangan pemilu sudah gamblang, terang benderang? Saya tak ingin menuduh Pak Jokowi curang, tapi banyak politisi instan yang menjilat kekuasaan, menghalalkan segala cara. Nah, orang-orang itulah yang curang. 

Di Malaysia jelas banget. Di TPS-TPS lain juga. Cobalah lihat video-video di media sosial, ada yang KPPS-nya tak mau tanda tangan karena kami menang. Ada juga yang hitungannya diubah. Ini jelas kecurangan yang harus dilawan. Pak Jokowi sendiri bukankah sudah meminta agar diusut? Tapi kita lihat, bukankah aparat seperti setengah hati?" katanya.

Prabowo kemudian menjelaskan sejauh ini tak pernah ada hukuman atau sanksi terhadap lembaga-lembaga survei yang hasil surveinya jauh menyimpang. Dalam Pilkada DKI, tak ada satu pun lembaga survei yang dibekukan. Bahkan para bos lembaga survei itu masih tetap bisa menangguk miliaran dari para kandidat.

"Publik kita seperti dibodohi. Jelas sekali bukan lembaga-lembaga survei yang berlindung di balik kedok akademik itu nyatanya sudah mengudeta KPU sebagai penyelenggara KPU yang sah. Ini menyebabkan KPU dalam tekanan besar. 

Andai hasilnya tak seperti lembaga survei, tentu KPU akan dianggap takut. Tapi jika dibiarkan, KPU tak ada fungsinya. Buat apa Pemilu menghabiskan triliunan rupiah jika kesimpulan ada di lembaga survei yang menggorok leher para kandidat?"katanya. 

"Menurut Pak Prabowo, dalam situasi saat ini, adakah yang bisa dipegang ucapannya?" tanya saya.

"Ada. Misalnya Pak Mahfud MD. Dia itu orangnya baik lho. Beliau berani bicara apa adanya. Tidak memihak saya meski pernah dikecewakan dan dijegal partai pendukungnya Pak Jokowi. 

Ada juga pak SBY. Kenegarawanannya teruji, bahkan saat saya ditegur langsung ketika dianggap melewati batas. Beliau juga sangat taat pada hukum. Jika tidak, bagaimana mungkin beliau rela mengorbankan partainya remuk demi penegakan hukum. Bandingkan dengan Golkar, PDIP, atau partai mana pun yang ketahuan kadernya korupsi. Pasti mereka buru-buru cuci tangan dan melempar salah kepada pihak lain. 

Terakhir, Pak SBY malah berpesan agar menghindari dan tak terlibat dalam upaya-upaya yang melanggar konstitusi. Ada baiknya mendengar dengan hati jernih apa yang disampaikan beliau," katanya.

"Lalu bagaimana game ini akan berakhir?"

"Kalau harapannya sih, saya benar-benar memenangkan kontestasi. Tapi kalaupun tidak, saya akan menerima dengan legawa. Saya akan bersikap sportif, mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi, sambil mengingatkan ada kekuatan dahsyat yang mencoba menyetir pemerintahan beliau. Ada upaya sistematis yang seolah-olah memperkuat beliau, tapi sesungguhnya menjerumuskan. Kecurangan yang dilakukan itu bukti kalau ada kekuasaan yang tak bisa dikontrol Presiden. 

Sekali lagi, saya menyebutkan kecurangan itu ada dan ini dilakukan oleh kaum komprador busuk penghisap darah rakyat yang berlindung di balik Presiden," katanya.

Perjalanan sudah sampai Hambalang. Prabowo turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk saya.

Azan terdengar. Rupanya ini hari Jumat dan saya segera membereskan imajinasi saya. Menutup laptop dan berangkat ke masjid.