Jika ada kekurangan/kesalahan seseorang, nilailah dengan akal. Berbeda dengan kekhilafan yang harus kita tanggapi dengan qalbu (hati yang dalam).

Sayangnya, hal demikian sangat susah dicoba oleh berbagai kalangan masyarakat saat ini. Seringkali kita temui Kebanyakan orang masih terbalik menggunakan akal dan qalbu. Sehingga terbelit dengan permasalahan yang sebenarnya sederhana.

Perintah semua agama, apapun agamanya, pasti memiliki tujuan yang damai, kebaikan dan kebermanfaatan. Agama dapat dipahami dan diterapkan ajarannya jika sudah menggunakan akal sebagai sarana dalam menilai benar atau salah, dan qalbu yang menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Tidaklah mengherankan jika ada seseorang yang berpindah agama karena hasil dari pencariannya sendiri.

Ada juga yang tidak berpindah agama . semuanya itu berasal dari gabungan akal dan hati. Ada yang menjawab hatinya sudah cocok dengan agama yang ia anut, ada juga yang masih mencari cahaya kedamaian. Kita harus mengakui kebenaran masing-masing agama, jangan memaksakan kebenaran agama yang kita miliki kepada penganut agama lain.

Akhir-akhir ini agama seolah menjadi momok dan dianggap sebagai hal yang tidak senyaman dulu lagi. Rumah-rumah ibadah sudah tidak lagi sesuai hakikatnya. Seringkali para pemuka agama, apapun agamanya membawa masalah-masalah politik kedalam ibadahnya.

Pemuka dari suatu agama mengisi ceramah di hari minggu seolah tak mau kalah mengusung calonnya dengan para pemuka agama lain yang seringkali menyerukan tidak memilih pemimpin yang berbeda agama. Damainya agama tidak boleh dijadikan sebagai alat mencapai kekuasaan. 

Manajemen Akal dan Qalbu

Cak Nun pernah mengatakan “Jika engkau tanyakan pada hati, apakah mau uang dua milyar? Hati menjawab: Mau. Dua puluh Milyar? Mau! Dua ratus milyar? Pasti hati mau! Tapi ada akal yang akan mengatakan: apakah butuh sebanyak itu?”. Dari kalimat Cak Nun itu kita harus menanyakan kepada diri masing-masing, termasuk juga para pemuka agama “Butuhkah saya mengucapkan hal-hal berbau kebencian di rumah ibadah masing-masing?

Terlalu membawa perasaan karena pemimpin X tidak menyetujui pendapat kita, lalu kita sebarkan rasa itu kepada ummat dengan cara ceramah? Ceramah itu sudah mengubar kebencian. Padahal kebencian itu bisa diredam dari diri sendiri dengan menggunakan akal.

Di saat perasaan sedih karena pendapat ditolak, gunakanlah akal dengan berfikir positif. Pikiran lebih cenderung jujur, rasional dan tegas dibandingkan opini yang berasal dari hati yang sedang terbawa arus perasaan. Di sisi lain, Jangan memaksakan Kehendak yang berasal dari akal tanpa menggunakan hati.

Posisikan Diri Kita Jika Kita yang Dikritik

Mungkin saja pemimpin X itu tidak menerima pendapat kita karena sudah ada pendapat yang lebih bagus dari opini kita. Haidar Bagir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia menyebutkan bahwa opini kita bisa saja salah, dan opini teman bicara kita yang benar. Bisa juga saat ini opini kita yang salah itu besok menjadi benar, begitupun dengan pendapat teman kita yang suatu saat tidak benar lagi.

Hal yang sangat disayangkan adalah ketika belum munculnya bukti siapa yang benar, kita sudah berani mengkritik bahwa yang dilakukan oleh teman kita merupakan suatu kesalahan. Betapa beraninya kita mendahului ketentuan tuhan dengan kritik itu.

Tuhan saja mengkritiknya dengan caranya sendiri, lalu kita ingin menyamai tuhan dengan mengkritiki sesama manusia? Pemuka agama harus mengajarkan agar setiap individu menilai apakah perlu kritikan itu diangkat ke permukaan? Siapa tahu tidak perlu.

Pendidikan yang Menggunakan Konsep Tuhan Maha Penyayang

Tuhan saja tidak membuat hati hamba-Nya sedih. Mengapa kita tega sekali membuat orang marah, sedih dan terluka dengan ucapan? Tuhan saja mengatakan “Jagalah Lisan dan Perkataan”. Detailnya tuhan menyuruh kita agar menjaga hubungan dalam bermasyarakat agar tidak terpecah belah dengan ujaran kebencian. Saling menyayangi dengan ucapan yang romantis dan menunjukkan keserasian.

Para guru (guru formal/non formal, maupun guru agama) haruslah menerapkan konsep tuhan maha penyayang karena tuhan saja memerintahkan kita agar senantiasa menjaga lisan. Senantiasa menjunjung tinggi nilai kebaikan, bukan malah ikut mengajarkan kebencian karena guru lain tidak sependapat dengan guru yang sedang memberikan ilmu kepada muridnya.

Fenomena dilapangan, seringkali guru malah menyindir, mengkritiki temannya sesama guru karena masalah kalah pamor di depan muridnya. Ada kondisi dimana murid yang memulai membandingkan guru yang satu dengan yang lain karena masalah nilai saja, dan guru yang dibandingkan itu merasa senang karena dia berada di posisi yang disukai.

Semestinya, ia langsung menghentikan penilaian murid itu terhadap masing-masing guru. Jika mencintai ataupun menyukai seseorang, cukup simpan saja dalam doa. Begitupun jika tidak suka dengan seseorang, doakanlah agar diberikan cahaya kasih sayang dari tuhan. Guru yang demikian semakin jarang ditemukan karena tidak adanya pendidikan tentang kasih sayang.

Keluarga yang Damai

kehidupan bernegara boleh diibaratkan dengan konsep keluarga. Tidak pernah seorang anak ingin menggantikan posisi ayah menjadi kepala keluarga, karena Ayahlah yang cocok menjadi nakhoda suatu keluarga. Ibu sebagai pengelola keuangan dalam keluarga itu tak sedikitpun dikritiki oleh anaknya dengan kebijakan uang jajan yang diberikan, karena si anak tahu ibunya pasti menggunakan kebijakan rasional dan kasih sayang. Anak boleh meminta hak jika ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak. Bapak dan ibu tentu tujuannya ingin membahagiakan anaknya.

Para pemimpin negeri ini tentu harus membuat kebijakan yang membuat rakyatnya sejahtera, dan bahagia sesuai hakikatnya. Pemuka agama ibaratkan orang yang dituakan oleh bapak dan ibu, bisa saja sebagai pihak memberi masukan dengan pengalaman dan ilmunya di bidang keagamaan demi kemajuan suatu keluarga. Kurang cocok jika pemuka agama itu sudah menyalah-nyalahkan bapak atau ibu yang kurang pengalaman mendidik anak.

Masyarakat yang Tidak Ada Niatan Menjadi Penguasa

Terbentuknya kelompok masyarakat yang berasal dari beberapa individu yang menyatakan bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri adalah konsep yang bagus. Seperti kelompok masyarakat yang bersifat paguyuban di Indonesia.

Tidak ada yang memiliki niatan menjadi penguasa adalah contoh keharmonisan suatu kelompok. Adanya keinginan menguasai adalah niatan yang perlu dipikirkan lagi. Dengan akal dan qalbu, apakah butuh kita menjadi penguasa?

Sudah saatnya kita menjadi pilihan diantara yang dipilih? Jika memang hati dan pikiran mengatakan “iya”, dan didukung dengan permintaan masyarakat. Majulah menjadi pemimpin diantara masyarakat. Jika kalah dalam kontestasi pemilihan pemimpin, kembalilah menjadi anggota masyarakat itu. Memberikan masukan agar pemimpin yang terpilih menjadi bijaksana dalam menetapkan keputusan yang berkaitan dengan kemaslahatan.

Pemimpin yang Sudah Memahami Nilai-nilai kepemimpinan

Pemimpin disini maknanya sangat dalam. Bukan hanya pemimpin di pemerintahan, pemimpin di agama, ataupun keluarga. Pemimpin terhadap keegoisan diri sendiri. Seringkali 5 hal diatas tidak dapat dilaksanakan karena kita kalah dalam memimpin pribadi masing-masing.

Penting sekali kemampuan memanajemen diri sendiri agar kelak lahirlah pemimpin umat yang sudah selesai dengan keegoisan pribadinya. Begitupun pemimpin agama yang senantiasa membawa kenyamanan dan kedamaian sudah pasti memiliki jiwa yang damai.