Hujan..

Entah mengapa aku menyukainya, teramat menyukainya

Berharap dia akan turun setiap hari, setiap saat jikalau boleh

Sehingga aku bisa menantikannya diujung jendela kamarku, melihatnya jatuh luruh serentak

Membasahi celah-celah pijakan dikaki bumi, beserta kemelut debu yang mengiringi

Atau mencurahkan karunianya pada setiap dahan dan tangkai bunga di kebun depan rumah

Semoga saja hujan paham bahwa bunga-bunga itu ingin bersolek indah setelah tibanya

Hujan..

Mungkin juga sama seperti kehadiranmu yang tanpa ampun menggoda sebatas bayangan saja

Kamu dan hujan itu sangatlah serupa, persis adanya

Coba kamu saksikan sejak kapan aku berdiri bersandar ditiap sudut jendela ini

Meraba-raba bayanganmu yang sangat jauh dalam jangkauan setiap hari

Bagaimana pula seorang sepertiku menjamahmu secara nyata dalam kehidupan

Tidak mungkin..

Sangat tidak mungkin..

Hujan..

Selalu menerbitkan kembali serupa wajahmu itu, wajah paling indah yang memikat

Bahkan sampai kini masih aku ingat setiap jengkal lekukan diwajahmu itu

Hidung bangir dengan alis mata tebal dan tulang pipi yang kokoh

Senyum manis yang sering kau sembunyikan lewat tingkahmu yang sedikit malu-malu

Hingga sampai pada tubuh tinggi jangkung, rambut gondrong, yang bahkan mampu kukenal dari kejauhan sekalipun

Bahkan hanya sebatas punggungmu pun aku kenal, sangat kenal

Hujan..

Rasanya aku kenal gemericih suaranya, akrab bersapa ditelingaku

Saat kita berada dalam cuaca yang sama, berusaha menepis terpaannya

Aku ingat saat tangan basahmu menawariku jas hujan warna abu-abu

Sedang engkau memilih biru, atau sekadar memadukannya dengan motormu yang juga sama biru

Tentu saja sangat lucu, sebab kamu tawarkan dengan malu-malu

Aah, ternyata kamu lelaki yang pemalu

Meski demikian aku menikmati momen itu, diantara gemuruhnya langit kelabu

Hujan..

Sehubungan dengan itu aku juga menyukai rambut gondrongmu yang basah

Kamu, kamu semakin menarik dengan itu semua, sangat menarik

Hingga sejak itu aku menganggap lelaki dengan rambut gondrong selalu menarik

Oh iya, juga pada cerita hangatmu tentang kopi hitam dan buku-buku

Aku juga menyukainya, hingga sekarang, sangat menyukainya

Bahkan aku belajar menjadikan itu semua bagian hidupku

Kamu lihat bukan, bagaimana asmara mengubah manusia menjadi gila

Hal apa saja menjadi sebuah alasan atas nama cinta dan cinta

Hingga sesederhana hujan saja cukup mewakili penjelasan atas rasa

Kamu, sang pecinta kopi dan bertumpuk-tumpuk buku dalam pustaka

Sudahkah membaca pesan hujan diluar jendela kamarmu sana

Diujung lembaran buku yang kamu baca setiap waktunya

Terselip juga diantara kepulan asap dan aroma manis kopi hitam diatas meja