Setara Institute meluncurkan indeks kota toleran 2015, yang merupakan hasil penelitian 94 kota dari total 98 kota di seluruh Indonesia dari 3 Agustus hingga 13 November 2015. Lembaga penelitian ini membuat kategori sepuluh kota intoleran di antaranya: Bogor, Bekasi, Banda Aceh, Tangerang, Depok, Bandung, Serang, Mataram, Sukabumi, Banjar dan Tasikmalaya.

Kategori itu menyangkut indikator soal kebebasan beragama dan berkeyakinan serta banyaknya peraturan daerah (Perda) yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat yang diskriminatif terhadap kelompok minoritas.

Tidak hanya itu, Setara Institute juga pernah melakukan survei tentang persepsi siswa sekolah menengah tentang toleransi beragama dan radikalisme. Hasilnya dari 684 responden, sebanyak 8,5 persen mengatakan tahu dan setuju dengan paham ISIS.

Setara melakukan survei terhadap siswa 76 SMU di Jakarta dan 38 SMU di Bandung (meliputi Cimahi, Kabupaten Bandung, dan kota Bandung) antara tanggal 9-19 Maret lalu. Penelitian itu menggunakan metode wawancara dan kuesioner.

Deklarasi Damai

Namun, bagaimana jadinya bila pemuka agama menyerukan damai? Ya, saya akan menebak terasa kesejukan antarumatnya. Betapapun mengawangnya pertanyaan itu, saya pikir dengan gerakan melakukan penyeruan terhadap perdamaian sangatlah penting ketika teror terasa di muka kita.

Misalnya, gerakan ISIS sampai ke teror bom bunuh diri. Sejatinya, gerakan menyerukan perdamaian menegaskan bahwa setiap ajaran agama mengajarkan kebajikan, cinta, dan welas asih.

Pada Kamis 25 Februari, prodi Religious Studies (RS) Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (SGD) Bandung, Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS), Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ) Indonesia, Lima Jari, Pondok Pesantren Al-Musyahadah Bandung, Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menggelar acara World Interfaitfh Harmony Week (WIHW) Kota Bandung 2016 dengan tajuk "Satu Kata dalam Damai Antariman untuk Dunia".

Menariknya, acara itu diisi dengan pelbagai pemutaran film Iman and the Pastor, Doa dan Testimoni Damai Pemuka Agama-Agama, Kota Bandung untuk Perdamaian Dunia, Pementasan Musik Damai dan Pembacaan Ulang Deklarasi Sancang di Aula Pascasarjana. Tak ayalnya, peserta baik mahasiswa dari pelbagai jurusan serta tamu dari ormas keagamaan turut hadir dalam perayaan tersebut.

Karena itu, setiap pemuka agama menyerukan deklarasi damai (Deklarasi Sancang) secara bergantian. Mereka memberikan testimoni dengan mengajak semua pihak untuk terus melakukan gerakan perdamaian ini.   

Tujuannya, untuk mengajak sekaligus meningkatkan saling kerukunan dan kerjasama antarmanusia meskipun mereka memiliki latar belakang tradisi budaya dan agama yang berbeda.

Seperti dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Pangeran Ghazi dari Yordania menyatakan bahwa tujuan dari Pekan Kerukunan Antariman Sedunia (Interfaith Harmony Week) itu akan tercapai bila “secara terus menerus dan teratur para pemuka agama mengajak  dan menganjurkan perdamaian”, serta agama-agama menyediakan sarana yang siap pakai bagi mereka yang mau melakukan seruan damai ini.

Jika para pemuka agama dan para guru melibatkan diri pada kegiatan tahunan demi perdamaian ini, maka saat krisis atau provokasi menyebar, masyarakat tidak menjadi takut lantaran berwawasan sempit dan curiga sehingga dengan demikian mereka akan lebih bijak menghadapi isu yang terjadi.

Makna Damai

Untuk menebar kedamaian itu harus dimulai dari diri sendiri. Ini yang diyakini kuat oleh Mr. Javier Perez de Cuellar, mantan Sekjen PBB, “Kedamaian harus dimulai dalam hati setiap kita. Melalui refleksi yang tenang dan serius mengenai arti kedamian, cara-cara baru dan kreatif dapat ditemukan untuk mengembangkan pengertian, persahabatan, dan kerja sama di antara orang-orang.”

Kedamaian itu erat kaitannya dengan rasa mencintai. Saking pentingnya mencintai daripada kebencian. Nelson Mandela berkeyakinan setiap orang bisa mengajarkan cinta kasih.

Ia pernah berucap, "Tidak ada orang yang lahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci. Dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, maka mereka juga bisa belajar untuk mencintai karena cinta datang lebih alami ke hati manusia dibanding kebalikannya."

Harus diakui, segala tindakan kejahatan dan kebencian itu bersumber dari hawa nafsu sekaligus angkara murka. Jika kita kuat memegang sikap cinta, kasih sayang, welas asih niscaya hidup kita akan bahagia, damai dan mampu berdampingan tanpa melihat segala perbedaan agama, suku, ras dan golongan.

Dari itu pula, kita akan mengingat pokok perdamaian sebagai tujuan utama dari kemanusiaan sekaligus menjadi tanggung jawab semua umat untuk menciptakan perdamaian di tengah keberagaman dan perbedaan yang ada.

Namun, untuk menciptakan perdamaian harus dilakukan upaya memenuhi rasa keadilan, kesejahteraan dan rasa aman individu (komunitas), baik dari ancaman fisik maupun ekonomi. Pasalnya, dengan kedamaian kita bisa mengontrol emosi dan pikirannya agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain yang bisa memicu terjadinya konflik, kekerasan atas nama agama secara terbuka. Amin!