MALAM DI PEGUNUNGAN 

Malam di pegunungan
Aku ikut berdetik seperti jam berputar
Apakah yang membikin dingin?
Matahari pagi yang kita nantikan
ataukah rumah-rumah pucat pasi
Segala tampak lebih lengang dari kejauhan
pepohonan, juga jalan setapak turun
Hilang di dalam bayangan

SEKEPAL KAPAS

Hari-hari yang dihitung, melalui kaca jendela
Sorot dari orannye matahari pagi
Waktu yang memejal juga hembusan segala, rindu

Aku menatap sekepal kapas
Menaungi kemanapun kita ingin pergi
Dihembus seperti edelwis,
dengan harum bunga-bunga,
dengan aroma segar rerumputan
hening di pagi buta

Menyusur setapak putih
Lagu-lagu melankolia

Malam di peraduan,
diperam lalu dilepaskan,
Melati atau sekedar mawar merah muda
ataukah bunga-bunga, semak juga rerumputan 

TOKO BUKU BUDI

Sebuah toko dengan kedai
Berderet-deret buku-buku indie
Digemari orang dari berbagai kota
Aku memesan jus jeruk dan mie

Sebelum beranjak, aku melihat semua
Judul-judul dan sepilihan cerpen
Kumpulan puisi dan novel
Tentang melerai sepi,
sampai petualangan ke sebuah negeri

Di toko Budi ada buku-buku
tentang Tuhan yang menari
Seperti kata GM, sebab
Kita manusia harus ;
lebih sering bahagia

RUMPUT GAJAH

Rumput-rumput gajah yang dihembus angin
Pagi-pagi hingga pukul delapan
Matahari mulai tinggi, lalu
terus bernyanyi hingga senja tiba

Pukul lima seorang petani tua dengan caping
dan seruling di tangannya
dengan kenangan tentang kerbau dan sawah
Telah mengisi diantara balada
Duduk meratap ketepian

Kenangan batu yang mengalir dengan buih-buih sungai
Beberapa daun jatuh dan mengikuti kemana arus itu pergi
Beberapa dan bersandar di batu kali berhenti
Beberapa menepi dan kuning, garing, mengering 

ROMLAH & SAYURNYA

Aku duduk mengikat besek
Di depanku Romlah dengan tiga ikat daun lembayung,
dan satu karung kedelai juga sepuluh ikat kacang panjang
menuju ke pasar

Di tepi sebuah warung seseorang menunggu
Kuli-kuli angkut telah turun, berdiri dengan para juragan
dengan gendongan dan berkarung-karung bawang

Di tepi sebuah warung yang lain
Supir-supir bak terbuka menghitung
sembari memegang seplastik kopi hitam

Aku dan Romlah bermain sebentar
Di tepi pasar itu, sebelum sebuah kancing baju lepas
Tersangkut boncengan sepeda orang,
Aku dan Romlah bermain sebentar
Di tepi pasar itu

Lapar
Sore itu, kami membeli bakso urat, juga teh hangat,
beberapa sunduk telur untuk dibawa pulang
Pukul empat kami berboncengan dengan jengki
menuju ke rumah,
pulang

RUMAH & WAKTU

Rumah dan waktu yang menggilas
Seperti senjata yang dikokang
Apakah itu yang ingin kita kenang?
Hari-hari berlalu menari bersama
burung-burung camar

Sering aku bertanya,
ingin menjadi apa aku di suatu hari?
Rumput yang meliat kuat
ataukah burung-burung terbang bebas
ataukah ayam-ayam dikandangkan

Sebelum menulis aku membuat segelas kopi hitam
ingin sekali kutuangi susu kental manis
dengan gula aren dan sedikit bara

DI SEBUAH ZAMAN

Di sebuah zaman yang centang perenang
aku duduk di tepian, di Legian
Sebuah lapangan agak luas dengan banyak semak
Beberapa akar pohon Bayan menggantung
Menaungi jalanan yang belum diaspal
Aku ingin duduk begini saja, duduk si atas bebatuan
sembari menatap orang-orang berseliweran
Setelah manyantap ayam betutu
beberapa orang memilih menyantap selai kacang
di dalam beberapa suwir roti tawar

Di sebuah zaman yang bernyanyi
Aku menanam sebuah pohon leci,
juga beberapa tanaman hias
dengan dedaunan berwarna-warni
Aku memesan sebuah daun langka
dari datang ke toko-toko bunga
untuk menanami kebunku

Di sebuah zaman yang berlari
Aku telah berdiri di sebuah telaga
dengan perahu dan berbicara dengan ikan-ikan
Menari bersama pinus-pinus meninggi
Menatap gunung berkabut sembari mengingat
rasa kopi tumbuk sebelum tiba
Di Jonggring Saloka

RAHSA

Aku dengan sebuah kamera menelusur, jalan setapak penuh rindu.
Aku dengan wangi bunga edelwis kering. Memperbaharui lagi, rahsa.
Sebelum film lain berhasil kami tonton. Aku membuat sebuah prosa, kukirim
kepada kawan di sebuah kota di dekat Amsterdam. Agar ia tahu aku begitu merindukannya.

Di sebuah zaman yang aku ingin tertidur di dalamnya,
aku menyanyi di kamar mandi
Lalu memakai baju yang dijahit ibu
juga kaca mata baca baru
Menelaah para mata-mata di layar komputer
sambil menyanyi lagu-lagu Gun & Roses
juga beberapa dari the Beatles 

PERTUNJUKAN

Kesedihan hanya diproduksi oleh bajingan yang sakit
Sebab ketika melihat pertunjukkan balet, kita tidak menangis
Kita menangis hanya jika melihat pertunjukkan drama
Tapi, kita tidak membeli tiket agar dapat menangis sepanjang hari 

Kita ingin melihat bagaimana sebuah serial dimulai dan diakhiri
Kita melihat dengan begitu jeli, tapi jika kita menangis
Bukan berarti kita sengaja memesan air mata
Kita hanya tahu, itu hanya bagiannya saja

Sekali lagi, awalnya kita tak memesan
tiket pertunjukkan drama ....