Dari awal digelar, pemilukada DKI bukan hanya dijadikan konsumsi media nasional tapi juga internasional. Ini belum pernah terjadi di negara manapun saya kira, bahkan untuk kota sekelas Londonpun baru kita ketahui belakangan bahwa yang terpilih menjadi walikota adalah seorang muslim. Tetapi proses ketika dia menjalani tahapan pemilihan dan intrik yang terjadi dibelakangnya kita tidak pernah tahu. 

Tapi memang benar adanya, pemilihan gubernur DKI telah begitu banyak menyedot perhatian kita semua. Bagi pengguna sosial media, langsung ataupun tidak langsung pasti pernah bikin status atau komentar tentang hiruk pikuk yang terjadi di DKI, membosankan memang.

Apalagi ketika kemudian kita ketahui ada kandidat yang disinyalir menggunakan sentimen agama dan etnis untuk memuluskan usahanya menguasai DKI, sangat disayangkan sekali. Isu-isu primordialisme memang komoditas paling sering digunakan untuk menyerang lawan yang tidak pernah diketahu kelemahannya. Isu ini juga sering kita pakai dulu sekali saat masih berbalut seragam SD kan, bagaimana dulu kita memandang aneh kepada teman yang beda keyakinan dan warna kulit dengan kita, sistem nya memang sudah salah dari awal sih. 

Apalagi yang mengalami jaman ORBA, bagaimana menderitanya etnis Tionghoa saat itu. Jadi jangan salahkan kalau etnis tertentu sekarang lebih memilih untuk membentuk komunitas dengan sesamanya karena memang stigma itu belum sepenuhnya hilang dimata masyarakat. Nyatanya sekelas ketua MPR masih menggunakan istilah pengusaha pribumi dan non pribumi, artinya cara berpikir rasialis tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan, ketua MPR cuy, kurang berpendidikan apa dia? 

Keadaan ini diperparah dengan banyaknya orang yang selama ini kita kenal karena intelektualitasnya tiba-tiba ikut larut dalam lingkaran primordial ini hanya karena mendukung secara membabi buta dan tidak menyukai  lainnya karena beda agama!! 

Jadi adagium dari Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa Untuk menguasai orang bodoh maka bungkuslah kebhatilan dengan kemasan agama memang benar adanya. Lho berarti mereka sejatinya adalah oang bodoh ? Entahlah .... silakan dinilai sendiri.

Kembali ke pilkada DKI yang sekarang sudah masuk putaran ke -2 dan hanya menyisakan dua kandidat. Tidak ada konsolidasi yang menonjol yang di agendakan oleh Basuki Tjahaya Purnama selain mendatangi konstituen dengan tanpa kawalan yang berarti dan tanpa kehadiran wartawan. Begitupun dengan Djarot yang justru pulang kampung untuk bertemu para sesepuh dan kyai di Jawa Timur. 

Mesin partai yang mengusung mereka juga terlihat santai, mungkin karena sudah banyak diuntungkan dengan hasil kerja Basuki selama menjabat jadi gubernur DKI. Mungkin yang perlu dilakukan adalah menarik simpati dari eks pendukung Agus Harimurti yang 17 % lebih itu. Bisa jadi sinyalemen melipirnya SBY ke istana beberapa waktu yang lalu menjadi indikasi kuat kemana arah suara dari Partai Demokrat akan berlabuh, mungkin saja walaupun sebelumnya mereka sudah berdarah-darah dalam membentengi Agus saat bertempur di putaran pertama.

Sementara itu dari kubu Anies dan Sandi pemandangan justru terasa kontras sekali, mereka terlihat sibuk sekali menggalang dukungan. Dan yang paling update selain dari Hari Tanoe mereka juga merapat dengan kubu Tommy Suharto. Ini sangat luar biasa, terutama bagi meraka yang pernah merasakan bagaimana cara-cara dari dinasti Cendana saat 32 tahun berkuasa. Tidak mudah tentu saja melupakan apa yang terjadi selama rezim ini berkuasa. 

Bukan rahasia lagi para pengusung Anies dan Sandi adalah produk Orde Baru, sebut saja Prabowo yang notabene adalah mantan mantu penguasa saat itu. Belakangan merapat lagi Titiek Hediyati, mantan istrinya, walaupun partai Golkar dimana Titiek bernaung sekarang adalah pendukung petahana. Satu lagi murid Suharto di kubu ini adalah Fadli Zon yang memang sejak lama berteman dengan Prabowo.

Strategi yang sangat rapi, mungkin bagi sebagian pendukung Ahok disebut licik, karena memang tidak ada yang menyangka bahwa Anies akhirnya hanya dijadikan boneka saja oleh para zombie Orde Baru untuk memperoleh kekuasaan kembali di DKI. Setelah berhasil mengkebiri potensi Ahok bersenjatakan fatwa ulama radikal dengan isu agama sehingga kasusnya diangkat ke ranah hukum, sekarang mereka menggalang kekuatan yang sebenarnya. 

Saya jadi miris kalau-kalau ormas Islam yang selama ini berada dibelakang mereka hanya dijadikan alat oleh dalang yang sebenarnya. Alangkah rendahnya moral mereka kalau memang ini sampai terjadi, karena  akhirnya mereka yang pada awalnya dengan militan dan gigih berusaha menggulingkan Ahok akan tidak dianggap sama sekali. Jadi jangan mimpi Jakarta akan menjadi lebih baik ketika akhirnya Anies yang memenangkan pertarungan ini, boro-boro menerapkan syariat Islam, dianggap saja tidak. 

Apalagi mengingat bagaimana para penguasa Orde Baru saat itu memperlakukan umat Islam dengan berbagai pelanggaran HAM berat. Penerapan DOM di Aceh, peristiwa Talangsari, peristiwa Tanjung Priok, Madura dan banyak lagi yang tidak pernah terliput dalam pemberitaan. Agak mengherankan juga  kenapa para ulama yang merapat ke kubu Tommy dengan mudah bisa melupakan peristiwa yang sangat mencekam umat Islam saat itu.

Bagi para ulama radikal mungkin berpikiran inilah saatnya menegakkan syariat, dan umatnya yang bodoh akan sangat mudah dipengaruhi dengan ratusan dalil dan ayat tanpa harus menjelaskan konteksnya. Maka yang terjadi kemudian adalah puluhan banner yang berisi penolakan memandikan jenazah pendukung ahok bermunculan di pelosok masjid di Jakarta. Kalau memang hukum Islam seperti itu logikanya seluruh masjid di indonesia yang tak terhitung banyaknya akan melakukan tindakan serupa. 

Pemimpin non muslim bukan hanya di Jakarta, apakah mereka, kaum buih ( meminjam istilah Prof.Dr.KH Nadirsyah Hosen ) tidak pernah berpikir sampai kesana? Apa mau dikata, bagi kaum seperti itu persetan dengan logika, akal mereka sudah mati dijangkiti virus kebencian walaupun tidak beralasan. Dalil bahwa hanya yang beragama Islam saja yang berhak menjadi pemimpin pun sebenarnya masih perlu dipertanyakan lagi. 

Karena di berbagai level struktur pemerintahan seperti bupati, walikota, gubernur bahkan sampai kades dan ketua RT ternyata banyak non muslim jadi pemimpin dan diusung oleh partai yang berasaskan Islam, kecuali kades dan ketua RT tentunya. Miris sekali kalau melihat ternyata baru sampai level ini saja mereka dalam ber- Islam. Umat tidak sadar bahwa militansi dan fanatismenya sedang digugah hanya untuk dijadikan senjata merebut kekuasaan, gosipnya Presiden pun akan dimakzulkan dengan isu kebangkitan PKI yang sekarang sering rapat di Istana tentu saja dibumbui dengan isu endesbrai-endesbrai lainnya.

Haloooo...ada uang sebesar 70 triliyun setiap tahun yang dianggarkan oleh pemkot DKI dan akan terus naik setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan ekonomi. 70 triliyun itu uang semua cuk !! Tidak ada satu rupiahpun yang berbentuk bergedel apalagi rambak !! Tidak sadarkah kalian kaum buih bahwa inilah yang sedang mereka bidik ? Inilah sebenarnya peperangan itu, it’s all about the money guys, jadi bukan karena Ahok kafir atau bukan kafir ! Potensi dirampoknya uang sebesar itu sangat besar, bukan hal yang susah buat mereka untuk memanipulasi dengan berbagai modus.

Dan Ahok sudah terbukti  bisa mengelola anggaran sebesar ini dengan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan masyarakat Jakarta, dia bahkan bisa menyelamatkan uang yang sedianya akan dijadikan bancakan koleganya di DPRD, juga melakukan efisiensi milyaran rupiah di Dinas Pendidikan saat awal dia menggantikan posisi yang ditinggalkan Jokowi, hal yang mungkin tidak akan berani dilakukan oleh orang selain Ahok bahkan jika dia adalah seorang muslim sekalipun. 

Ahok tidak tersandera kepentingan politik atau siapapun, terbukti dia mengundurkan diri sebagai kader Gerindra ditengah masa jabatannya dan berani memilih jalur independen di awal pencalonannya. Bagaimana mungkin orang sebersih ini kalian musuhi hanya karena setiap minggu dia ibadahnya di gereja ?

Saya memang mendukung Ahok, lebih karena kejujuran, integritas dan kinerja yang telah tunjukkan. Kebetulan saja dia Tionghoa dan Kristen, karena dia tidak kuasa memilih dari etnis mana dia ingin dilahirkan, buat saya agama adalah ranah yang sangat privasi. Kalaupun menurut kalian Ahok memang dianggap menistakan agama Islam dan Al Qur’an biarkan Allah yang menghukumnya, saya kira bukan hal sulit bagi Allah untuk mematikan Ahok kalaupun Dia tersinggung. Jangan sok jadi pewaris tunggal Al Qur'an lah, padahal baca Qur'an aja belum tentu bisa. 

Dan apakah kredibilitas Islam akan turun karena dinistakan Ahok ? Silakan dijawab dengan menggunakan hati nurani masing-masing. Marilah kita berpikir kedepan, perjalanan bangsa ini masih sangat jauh, sayang sekali jika kita hanya berkutat dengan kebencian yang entah akan berujung dimana. Apakah kita akan membesarkan generasi ini dalam kubangan benci ? Hentikan politisasi agama untuk kepentingan sesaat, biarkan agama menempati tempat yang paling mulia tanpa dikotori oleh cacian dan hinaan hanya karena pilihan yang berbeda.