Hal pertama yang perlu kita dudukkan bersama adalah tentang definisi pertanian itu sendiri. Di sini saya mendefinisikan pertanian sebagai segala usaha pembudidayaan/perkembangbiakan, baik itu tumbuhan maupun hewan dengan campur tangan manusia untuk tujuan memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.

Definisi di atas merupakan pengertian pertanian secara umum. Karena dalam perkembangannya, definisi pertanian dikerucutkan menjadi hanya tentang pembudidayaan tanaman. Dan dalam tulisan ini kita akan menggunakan definisi pertanian secara umum.

Pertanian selalu dibicarakan di berbagai sudut kehidupan karena berbagai macam persoalan serta urgensi yang terdapat di dalamnya. Bahkan dari kurang lebih 260 juta penduduk Indonesia saat ini, hampir 50% di antaranya adalah petani. Bayangkan jika kita meninjau dari aspek politik, siapa saja yang mampu menguasai hati kaum tani, maka akan berpeluang cukup besar menjadi pemimpin yang diamanahkan tanggung jawab tertinggi di negara ini.

Namun, kali ini kita tidak akan membicarakan persoalan politik maupun demokrasi, apalagi hukum perundang-undangan. Kali ini kita akan coba memandang pertanian melalui perspektif cinta. Iya, cinta.

Apa yang paling indah selain cinta? Apa pula yang paling menyakitkan selain jauhnya sang pencinta dari kekasihnya? Sungguh tak ada hal yang mampu mengalahkan itu. Karena cinta membuka jalan yang tak pernah disangka-sangka oleh akal.

Cinta adalah cahaya yang menerangi jauh di kegelapan saat semua perangkat rasio telah dibutakan. Cintalah esensi dari kehadiran makhluk di muka bumi. Karena hanya dengan cinta, Rasulullah Muhammad SAW ditakdirkan oleh Tuhan untuk berada di bumi bersama manusia-manusia yang lainnya. Bahkan keberadaan alam semesta dan seisinya tak mungkin terwujud tanpa cinta dari Sang Pencipta.

Lalu menjadi mustahil ketika berbicara tentang pertanian, dan cinta tak mengambil peran yang indah di dalamnya. Dalam salah satu Hadist Rasulullah SAW, “Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendaklah ia bergegas menanamnya.”

Sebegitu dekatnya petanian dengan hal baik yang Tuhan perintahkan dan sebegitu dalamnya keutamaan yang diberikan Tuhan kepada para petani. Secara umum kepada siapa pun yang menjaga bumi dengan hati yang penuh ketulusan.

Pertanian itu adalah gerak-gerak cinta yang menyatu dengan alam. Sehingga menghasilkan ragam kehidupan yang baru. Bunga, buah, ternak, dan sebagainya adalah segala yang membaikkan kehidupan manusia dan manfaatnya akan membawa manusia pada kedekatan yang lebih tinggi dengan sang pencipta.  

Andai pertanian dibiarkan terbengkalai pada suatu negeri, maka ketika itu juga runtuhlah negeri tersebut. Sebagai konsekuensi dari penolakan mengaktualisasikan cinta yang dalam dari Tuhan pada semesta. Sejauh keindahan yang mampu ditangkap dari gerak-gerak pertanian adalah segala yang meniscayakan keindahan wujud makhluk dan kemuliaan sang pencipta dalam mengatur keseimbangan di dunia.

Cinta dan pertanian adalah dua hal yang saling mengisi. Walaupun lapisan terluar tetap adalah cinta, lalu di dalamnya ada lapisan pertanian, kemudian di dalamnya lagi ada lapisan cinta, dan seperti itu seterusnya saya menganalogikannya. Pertanian adalah eksistensi cinta yang meniscayakan keterkaitan antara makhluk yang disebut manusia dengan makhluk lain (tumbuhan maupun hewan).

Bukankah setangkai bunga takkan tumbuh jika bukan karena cinta-Nya? Niscaya pohon-pohon takkan berbuah jika bukan karena cinta-Nya. Dan untuk meraih cinta-Nya itulah dibutuhkan ketulusan.

Niscaya takkan tumbuh dengan baik benih yang ditanam tanpah cinta yang benar-benar tulus dari yang menanamnya. karena segala yang tumbuh dari tanah adalah segala yang Tuhan berikan kepada manusia untuk menyadarkan manusia akan kecintaan Tuhan kepada hambahnya. Sebagai bagian dari kemahapengasih dan kemahapenyayangnya Tuhan kepada manusia.

Ketika kita coba meresapi lebih jauh, salah satu usaha yang paling mencerminkan ketulusan ialah usaha para petani yang rela berpanas-panasan dan berlama-lama di bawah terik matahari sekadar mengharap cinta-Nya dengan ketulusan yang dalam. Ibarat ketulusan para prajurit perang pembela kebenaran, seperti itulah ketulusan para petani. Ketulusan yang dalam adalah keikhlasan yang hakiki.

Keikhlasan yang hakiki ini telah membuat malaikat tak mencatat amalannya, karena malaikat sendiri tak tahu keberadaan keikhlasan hakiki seorang hamba yang menjadi ruang paling romantisnya kepada Tuhan.

Keikhlasan yang hakiki itu adalah hubungan vertikal yang maha lurus tanpa perantara apa-apa dan tanpa diketahui oleh malaikat, apalagi iblis lebih-lebih tidak mengetahui. Keikhlasan hakiki itu adalah komunikasi pribadi antara manusia dengan Tuhan.

Pertanian dalam lautan cinta adalah pulau di tengah samudra, kecil namun begitu berarti dalam membangun kehidupan. Kehiduan dalam menjelaskan segala sesuatu akan mengindah hanya dengan cinta, bukan yang lain. Sehingga para sufi mengatakan, “Aku akan merasa berkecukupan apa pun yang terjadi asalkan tetap bersama sang kekasih.”

Begitulah kedalaman cinta dalam memandang pertanian. Atau begitulah pertanian dalam lautan cinta yang luas. Kehidupan dan ketulusan adalah satu kesatuan yang menyatukan cinta dan pertanian.