Nama Islam sudah tercemar karena aksi terrorisme yang kerap dilakukan oleh ISIS. Sekarang, para media di negara yang tidak didominasi umat Muslim kerap mengasosiasikan agama Islam dengan ajaran teroris. Akibatnya, para penduduknya pun percaya bahwa agama Islam adalah agama yang mengajarkan terror. Islamophobia pun tumbuh subur.

Jika ISIS mencemar nama Islam di dunia internasional, maka Muslim Cyber Army (MCA) juga mencemarkan nama Islam di Indonesia. Memakai label “muslim”, kelompok MCA malah menyebarkan hoaks dan kebohongan. Sekarang, masyarakat percaya bahwa MCA adalah “tim penyebar hoaks”.

Pelajarannya, siapapun yang mengaku berasal dari Islam, perilakunya belum tentu mencerminkan ajaran asli Islam yakni AL Quran dan Sunnah. Karena itu kita harus berpikir jernih, rasional, dan adil dalam mempelajari setiap ajaran organisasi yang memakai embel-embel Islam pada namanya.

Memakai logika yang sama, ada kemungkinan MCA yang ditangkap memang MCA palsu. Menurut pegiat media sosial Mustafa Nahrawardaya, aktivis MCA dalam jiwanya membela Islam tanpa melakukan ujaran kebencian (hate speech) dan melanggar hukum.

“Siapapun yang mengaku MCA apalagi pake email, dan yang mengarah pidana atau melakukan pidana, itu bukan MCA,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam acara talkshow di studio salah satu stasiun televisi swasta, Rabu (28/02/2018).

MCA yang “asli” wajib melakukan klarifikasi. Bagaimana MCA “asli” beroperasi, siapa susunan kepengurusannya, bagaimana visi dan misinya, dan darimana sumber anggaran mereka. Intinya mereka harus jelaskan perbedaan yang jelas antara MCA “asli” dan “palsu”.

Contoh lainnya adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengajarkan bahwa umat Muslim harus bersatu dibawah satu kepemimpinan yakni seorang Khalifah. Pandangan ini memang benar, tetapi yang membuat HTI bertentangan dengan Al Quran adalah mereka tidak menunjukan loyalitas terhadap negara setempat.

Kesimpulannya adalah kita harus selalu bersikap kritis terhadap ormas Islam. Apapun yang mereka katakan, sebaiknya kita tidak langsung percaya begitu saja. Belajarlah dari ISIS, MCA, dan HTI.

Mempelajari Keyakinan Ahmadiyah tentang Mirza Ghulam Ahmad

Mari kita melatih cara berpikir kritis. Ahmadiyah dianggap sebagai organisasi Islam yang sesat oleh MUI. Ini anggapan mereka, tentu kita buang semua anggapan tersebut dan mempelajari langsung mengenai apa itu Ahmadiyah langsung dari sumbernya.

Islam Ahmadiyah dan Islam lainnya percaya bahwa akan ada sosok kedatangan Nabi Isa as dan Imam Mahdi yang akan memimpin kembali kejayaan Islam. Ahmadiyah percaya bahwa sosok itu adalah Mirza Ghulam Ahmad. Jika menerima kedatangan Imam Mahdi adalah sesat maka seluruh umat Muslim pun sesat karena umat Muslim harus berbaiat kepada Imam Mahdi. 

Kemudian, Ahmadiyah percaya Nabi Isa as. yang dulu sudah wafat. Hal ini didukung oleh penelitian Suzanne Olsson selama sepuluh tahun di India, Pakistan, dan daerah perang di Afganistan untuk membuktikan bahwa Nabi Isa as. tidak diangkat ke langit, melainkan hijrah ke India untuk melanjutkan misinya yakni mengumpulkan domba-domba Bani Israel yang tersesat, kemudian wafat dan dikuburkan di Kashmir, India. 

Perlu diingat di dalam kaum Muslimin sendiri ada yang masih percaya bahwa bumi itu datar. Padahal ini sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Jadi apakah suatu kepercayaan yang didukung oleh penelitian akademik, seperti kepercayaan Ahmadiyah dan kaum bumi bulat, pantas dianggap sesat? Tentu saja tidak.

Lalu Ahmadiyah juga mendapatkan jaminan dari Allah Ta'ala karena mereka melakukan berbagai ibadah dalam Islam seperti solat, puasa, berkorban ,berhaji, dll. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang shalat seperti shalat kita, berkiblat pada kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia adalah orang Muslim yang mempunyai jaminan dari Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengecoh Allah dalam hal jaminan-Nya” (Shahih Bukhari, Kitabul Shalat, Bab Fadhlistiqbaalil Qiblah).

Apakah Ahmadiyah yang mendapat jaminan dari Allah Ta’ala pantas dianggap sesat? Tentu saja tidak. 

Allah Ta’ala juga mengaruniakan ilmu 40.000 akar kata Bahasa Arab dalam semalam kepada Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian, Allah Ta’ala menggerakan mulut Mirza Ghulam Ahmad untuk berkhutbah dalam Bahasa Arab. Khutbah tersebut berjudul Khutbah Ilhamiyah yang bisa diakses disini http://ahmadiyah.id/pustaka/buku/khutbah-ilhamiyah (Haqiqat-ul-Wahyi, Ruhani Khazain, Volume 22, halaman 375-376).

Adakah seorang yang sesat bisa menerima karunia di atas? Sebagai penutup, Mirza Ghulam Ahmad berpesan: “Ujilah tanda-tanda kebenaranku layaknya kalian menguji kebenaran Nabi-Nabi yang lainnya. Saya bersumpah tanda-tanda kebenaran yang sama akan terlihat”.