Age is just a number

Sudah-sudah! Bangun! Jangan ngomongin yang tinggi-tinggi! Kita ngomongin fakta saja. Di Thailand, ada seorang pria yang merupakan orang kaya, akhirnya memilih (atau dipilih?) oleh seorang perempuan cantik yang masih berusia 20 tahun.

Pernikahan digelar secara mewah, dengan nilai mas kawin sebesar 20 juta Baht Thailand atau sekitar 9,3 miliar rupiah. Dari nominal mas kawin saja, kita bisa tahu bahwa orang tua ini merupakan orang terpandang di sana—ya, setidaknya karena uangnya begitu.

Pasangan berbeda usia setengah abad ini tentu menuai komentar nyinyir dan pedas dari netter alias netizen julid. Namun bagaimanapun juga, mereka tetap merupakan pasangan yang paling berbahagia saat itu.

Pernikahan adalah momen yang paling berbahagia. Pernikahan adalah sebuah hadiah terbesar yang Tuhan boleh berikan kepada manusia segala zaman, untuk bersama-sama memulai dan menguntai mahligai rumah tangga.

Kalau pembaca bertanya kepada saya mengenai momen paling bahagia apa yang pernah penulis alami selama hidup, penulis akan menjawab dua hal. Pertama, pertobatan; dan yang kedua, pernikahan. Kedua momen ini senantiasa membekas di dalam diri penulis.

Pertobatan berjumpa secara pribadi dengan Tuhan melalui Firman-Nya adalah momen yang tidak pernah terlupakan. Saat penulis merasa tidak ada harapan, tiba-tiba datang sebuah harapan, kedamaian yang hakiki.

Pernikahan adalah hadiah terbesar bagi mereka yang bisa mengelolanya dengan baik. Kehidupan pernikahan itu bukan semuanya ada di atas.

Pernikahan adalah pergumulan juga dalam menghadapi hidup. Permasalahan memang ada, namun benar kata tulisan-tulisan kuno, bahwa lebih baik berdua daripada hidup sendiri.

Ya. Berpasangan. Berkelamin, berkelahi, dan cekcok rumah tangga. Itu manis, asal jangan sampai seperti AG saja yang diduga main sana-sini dan terancam dilempar panci seperti kisah Cilacap Lautan Asmara.

Hidup pernikahan inilah yang dirindukan oleh sang pria yang berusia 70 tahun. Usia hidup siapa yang tahu? Semangat menjalin rumah tangga juga siapa yang bisa tebak? Semangat sang pria berusia 70 tahun itu masih tinggi.

Orang ini kaya, penuh bergelimang harta dan barang-barang mewah tentunya. Tidak ada yang tahu mengapa ia bisa menikah setua itu. Tidak ada yang tahu perjuangannya hidup melajang selama 70 tahun. Tidak juga kita tebersit pikiran curiga kepada pria tua itu.

Apakah dia sudah mencicipi kenikmatan perkawinan di luar nikah? Tidak ada yang tahu. Tapi pada akhirnya, dia ingin berbagi, berbagi secara sah, secara hukum dengan perempuan yang entah dipilih atau memilihnya. Penulis mengajak kita semua untuk melepaskan semua kecurigaan kita mengenai hal-hal negatif.

Hal-hal negatif seperti “nanti itu kalau mati, hartanya akan diambil perempuan itu!” dan pikiran miring sebagainya, tentu ada. Namun, ketika sang pria 70 tahun itu menikahi perempuan 20 tahun, itu adalah sebuah pilihan yang ia sudah tahu tentunya.

Kalau dia pikun bagaimana? Sudah-sudah… Jangan terlalu memusingkan hal-hal tak penting. Toh bukan kalian yang diporotin. Melihat sesuatu fakta dari hal positifnya saja adalah sebuah cara pandang yang baik. Di dalam pernikahan, tentu ada sebuah komitmen yang dibangun.

Pria itu sudah berkomitmen. Apa pun risikonya, dia sudah memberi dirinya untuk sang terkasih itu. Saya paling menentang fakta bahwa “cinta itu buta”. Hal yang benar kira-kira seperti ini: Cinta itu melampaui penglihatan.

Ya. Makabenar yang kata Agnes Monica, bahwa cinta ini kadang-kadang tak ada logika. Kadang-kadang menjadi penekanannya. Cinta itu butuh logika. Namun dalam hal-hal tertentu dan kasus tertentu, cinta itu melampaui logika, dan bahkan anti-logika sama sekali. Ya. Terimalah semuanya itu.

Berbicara tentang cinta, saya percaya pria tua itu sudah melakukan kalkulasi logis yang ada. Setidaknya hal yang tebersit di dalam pikirannya adalah “Waktu hidupku sudah tidak lama lagi”.

Maka pria kaya itu ingin menyelesaikan seluruh pencarian dirinya akan hidup. Salah satunya, kebahagiaan pernikahan. Pernikahan itu adalah sebuah komitmen, ikatan cinta yang akan terkenang selama-lamanya. Hubungan seksual yang sah, kenikmatan yang hakiki.

Saya berharap, bahwa kisah ini bisa menjadi inspirasi para pembaca, khususnya kaum yang belum memiliki pasangan, untuk mencoba memberi diri. Lepaskan seluruh ego. W. H. Auden berkata: Love each other or… Perish! Cintailah sesamamu, atau mati saja sana!

Terkadang kita harus memahami bahwa cinta itu harus diejawantahkan dalam sesuatu yang sah. Cinta itu butuh pengorbanan. Natur cinta itulah yang sedang kita lihat. Pria itu tidak peduli dengan gelimang harta yang berpotensi hilang dari dirinya.

Dia butuh objek cinta. Dia butuh cinta dan dicintai. Terlepas dari apa pun yang menghantui di belakang dan di pikiran. Dan itulah esensi cinta yang sejati. Marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi orang yang mencintai.

Cinta atau mati!