Apa pendapat Anda ketika mendengar kapitalis? Jika Anda sering menonton kartun-kartun Barat, pasti Anda langsung membayangkan sosok bertubuh gembul, bersetelan lengkap, dengan banyak uang di kantongnya. Mulai dari Paman Gober sampai Tuan Krabs pasti punya ciri-ciri di atas. Tanpa disadari, gambaran ini sudah terinternalisasi dalam benak kita.

Siapa sebenarnya kapitalis itu? Secara etimologi, kapitalis memiliki makna “pemilik modal”. Capitalist are the one who owns and controls capital. Seperti yang kita ketahui, modal adalah “oksigen” bagi perekonomian suatu negara. Tanpanya, maka siklus bisnis tidak bisa berlangsung. Maka dari itu, kapitalis adalah penguasa kue perekonomian.

Lalu, siapa yang menjadi bawahan kapitalis dalam sistem ekonomi pasar? Manajer dan buruh. Manajer adalah orang-orang yang membantu kapitalis dalam mengelola perusahaan mereka melalui mekanisme manajemen. Sementara, buruh adalah para pekerja yang melaksanakan sistem operasional perusahaan. Keduanya sama-sama digaji oleh kapitalis atas jasa mereka.

Jika kita konotasikan dengan penokohan dalam kartun Spongebob Squarepants, maka Tuan Krabs adalah kapitalis. Sementara, tokoh seperti Squidward dan Spongebob adalah buruh. Meski keduanya sama-sama buruh, namun Spongebob dan Squidward memiliki sikap yang cukup berbeda.

Spongebob adalah seorang pekerja yang jujur, giat, dan sangat setia dengan restoran Tuan Krabs. Bahkan, digambarkan bahwa Spongebob selalu nampak ceria ketika bekerja di Krusty Krab. Sambil menyanyi riang, ia membuat Krabby Patty di dapur restoran itu. Bagi penulis, ini adalah gambaran yang terlampau utopis. Mengapa? Lihat saja nanti.

Sementara, Squidward adalah gambaran yang lebih realistis. Tokoh ini selalu digambarkan sebagai sosok yang murung, sering marah, dan penuh keterpaksaan dalam bekerja. Meskipun reaksi Squidward terlampau berlebihan dan buruk (alias malas dan menyebalkan), namun penyebab reaksi itu sangat realistis. Apa penyebab tersebut?

Tuan Krabs tidak memberikan upah yang layak bagi para pekerjanya. Selain itu, ia juga selalu menolak usulan kenaikan upah dari Squidward maupun Spongebob. Bahkan, banyak orang menghubungkan interaksi antara ketiga tokoh ini sebagai contoh kapitalisme yang picik. Penulis justru percaya bahwa ini adalah dampak merkantilisme yang picik.

Mengapa? Pertama, Tuan Krabs selalu menekankan pentingnya mengumpulkan uang. Baginya, wealth exists in money. Persis dengan pendirian kaum merkantilis, bahwa kekayaan terletak pada emas dan perak, yang menjadi bahan pembentuk uang pada abad pertengahan. Kedua, Tuan Krabs juga belum mengerti konsep Marginal Productivity of Labor.

Konsep ini adalah suatu konsep fundamental dari kapitalisme. Mengapa? Konsep ini menggambarkan hubungan dari gaji (wage) dengan jumlah produk marginal yang dihasilkan (marginal rate of productivity). Pada tingkat upah serendah itu (sebuah episode menyebutkan 5 sen/jam), kenaikan upah bisa meningkatkan produktivitas pekerja.

Sumber: http://economics.wikia.com/wiki/Marginal_Productivity_of_Labor

Tetapi, apakah menaikkan upah adalah satu-satunya kunci peningkatan produktivitas pekerja? Bukan. Kunci peningkatan produktivitas pekerja terletak pada “rasa memiliki” para pekerja terhadap perusahaan mereka. Ketika diperluas dalam konteks makro, setiap penduduk harus mempunyai “rasa memiliki” terhadap perekonomian mereka.

Mengapa? Manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu mencari keuntungan. Ketika individu memiliki sepotong dari kue perekonomian dengan menjadi pemilik modal, maka ia mampu memenuhi prinsip ekonomi. Mengapa? Ketika kue perekonomian itu membesar (dengan adanya pertumbuhan), maka bagian individu tersebut juga ikut membesar.

Maka dari itu, kunci untuk mengemansipasi para pekerja di suatu negara adalah dengan membuat mereka menjadi pemilik modal/kapitalis. Make workers own shares of their company. Cara konflik antar kelas yang diusulkan oleh Marxisme tidak pernah bekerja dengan benar. Emansipasi ini pasti mendorong produktivitas dalam perekonomian.

Berani sekali penulis memberikan jaminan ini? Iya, karena emansipasi ini memberikan insentif bagi pekerja untuk bekerja lebih keras lagi. Ketika buruh menjadi pemilik saham perusahaan mereka, maka kinerja mereka menentukan keuntungan yang mereka peroleh melalui dividen dan capital gain.

Semakin sungguh-sungguh mereka bekerja, semakin besar laba yang diperoleh perusahaan. Semakin besar laba perusahaan, maka dividen yang diterima juga semakin besar. Selain itu, unrealized capital gain dari saham mereka semakin besar. Akhirnya, buruh pun tidak lagi dieksploitasi oleh segelintir pemilik modal, because they have become one.

Bagaimana dengan Indonesia? Apa lacur, jumlah investor pada pasar modal kita baru 1,6 juta orang (Kustodian Sentral Efek Indonesia dalam bisnis.tempo.com, 2018). Berarti, jumlah shareholders dalam perekonomian Indonesia baru 0,62% dari jumlah penduduk. Adanya indikasi ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja/buruh di Indonesia belum menjadi kapitalis.

Apa upaya yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Pemerintah harus mempermudah seluruh penduduk untuk menjadi kapitalis. Harus ada dorongan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi pemilik saham. Bagi penulis, terdapat lima kebijakan yang saling berkesinambungan untuk memberikan dorongan tersebut.

Pertama, membentuk produk tabungan bebas pajak, agar masyarakat memiliki nest egg account yang menguntungkan bagi investasi mereka. Dalam tabungan ini, semua hasil dari investasi individu tidak akan dikenakan pajak. Selain itu, tidak ada batasan penarikan. Tetapi, ada batasan jumlah investasi yang boleh dimasukkan ke dalam rekening ini setiap tahunnya.

Bisa dikatakan, kebijakan ini adalah implementasi lanjutan dari program Yuk Nabung Saham! Istilah kerennya, Tabungan Saham redefined.

Kedua, memberikan tax breaks bagi penawaran saham perusahaan kepada karyawannya. Setiap aksi korporasi pasti menelan biaya, termasuk penawaran saham perusahaan kepada karyawan. Mulai dari underwriting free, selling fee, managing fee, dan lain sebagainya. Pemerintah harus memberikan status tax deductible bagi biaya-biaya ini, sebagai insentif terhadap aksi korporasi ini.

Ketiga, mendorong privatisasi pada perusahaan-perusahaan BUMN, agar karyawan BUMN dan masyarakat Indonesia bisa menjadi pemilik sebenarnya dari badan-badan usaha tersebut. Dalam konteks ini, privatisasi dilakukan dengan menjual sebagian kepemilikan saham negara kepada karyawan BUMN (pembeli prioritas) dan investor ritel.

Untuk menghindari kecurangan, harus ada kuota maksimum pembelian saham. Saat privatisasi ini dilakukan di Inggris pada tahun 1980an, kuota maksimum pembelian adalah 600 lembar saham per individu. Selain itu, hanya investor ritel berkewarganegaraan Indonesia yang boleh membeli saham privatisasi ini.

Aturan-aturan di atas dibuat agar tidak terjadi pengambilalihan saham BUMN oleh segelintir investor besar maupun institusi asing. Keadilan sosial harus tetap diutamakan.

Keempat, pemerintah harus menghilangkan pajak atas bunga, dividen, dan capital gain. Mengapa pemerintah menetapkan pajak penjualan barang mewah? Untuk mengurangi sikap konsumerisme. Jika kita menggunakan logika yang sama, berarti pajak atas bunga, dividen, dan capital gain ditetapkan untuk mengurangi investasi yang dilakukan oleh individu, dong?

Pajak ini sebaiknya dihapus, agar investor dapat memperoleh seluruh keuntungannya secara murni. Sehingga, investor memiliki insentif yang lebih besar untuk berinvestasi di pasar uang dan pasar modal, dan menjadi kapitalis-kapitalis baru.

Terakhir, pemerintah harus memotong jumlah satu lot saham dari 100 lembar menjadi 20 lembar. Saat ini, jumlah pembelian saham minimum di Bursa Efek Indonesia adalah satu lot. Jumlah lembar saham dalam satu lot harus dipotong, untuk mendukung strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Strategi DCA adalah upaya terbaik untuk meng-kapitalis-kan masyarakat.

Mengapa? Strategi ini mudah untuk diterapkan, di mana investor membeli instrumen investasi senilai tertentu setiap bulannya. Sederhananya, individu bisa membeli saham sambil mencicil. Pemotongan jumlah lembar saham per lot dapat mengurangi jumlah uang yang diperlukan oleh pekerja maupun self-employed untuk menjadi investor ritel.

Jika kelima kebijakan di atas dapat diterapkan secara berkesinambungan, maka jumlah pemilik modal alias kapitalis di Indonesia pasti meningkat drastis. Dampak ini terjadi karena modal tidak lagi dikuasai oleh segelintir investor besar. Upaya ini membuat modal bisa dikuasai oleh penduduk dari berbagai kalangan secara individual.

Kepemilikan modal secara meluas di dalam perekonomian adalah fundamen penting masyarakat yang adil dan makmur. So, let’s make every Indonesian a capitalist!

DAFTAR PUSTAKA

http://economics.wikia.com/wiki/Marginal_Productivity_of_Labor. Diakses pada 25 Desember 2018.

http://spongebob.wikia.com/wiki/Krusty_Krab. Diakses pada 25 Desember 2018.

https://bisnis.tempo.co/read/1158669/2019-ksei-targetkan-jumlah-investor-pasar-modal-naik-40-persen/full&view=ok. Diakses pada 25 Desember 2018.

https://www.moneysense.ca/save/investing/wtf-is-a-tfsa/. Diakses pada 25 Desember 2018.

Disclaimer: Tulisan ini sudah diterbitkan pada laman Kompasiana penulis.

Link: https://www.kompasiana.com/rdp123/5c22dbf243322f078306dc26/permudah-penduduk-menjadi-kapitalis