Dalam arus globalisasi, Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat khususnya di bidang ekonomi. Salah satu yang turut serta dalam berkembangnya ekonomi Indonesia adalah industri digital e-commerce dan fintech. Hal ini, tentu saja, ditopang dengan jumlah penduduk Indonesia yang telah mengakses internet. Fenomena e-commerce dan fintech ini seperti membuka peluang pasar baru bagi para pelaku ekonomi. Tak jarang banyak dari masyarakat juga mendaftarkan diri kedalam pasar digital tersebut. Alasannya sederhana, karena peluang pasar tentu lebih besar daripada kita melapakkan usaha di toko komersial.

Pasar digital yang telah dibangun tersebut tidak hanya menarik pengusaha kecil-menengah saja. Rupanya, banyak para produsen atau korporasi skala besar seperti Unilever-pun juga ikut masuk ke dalam pasar. Tentu saja, secara positif diperbolehkan hal semacam itu, karena belum ada regulasi yang mengatur usaha ataupun interaksi bisnis penjualan yang terjadi dalam e-commerce. Barangkali beberpa aturan hanya sebatas mengatur tindakan penjual dan pembeli supaya tidak saling merugikan. Namun, dalam persaingan usaha di dalam pasar digital tidak ada regulasi yang mengatur. Artinya, dalam industri e-commerce dan fintech ini barangkali secara murni berlaku prinsip pasar bebas

Pasar bebas pada prinsipnya menolak adanya intervensi pemerintah dalam kegiatan ekonomi yang terjadi di suatu negara. Prinsip tersebut dikenal dalam semboyan laissez faire yang berarti “biar saja berjalan” atau secara negatif dapat diartikan “jangan ikut campur”. Hal ini diungkapkan oleh Adam Smith dalam kondisi pemerintah (atau kerajaan pada waktu itu) turut bermain dan memonopoli pasar. 

Di dalam semboyan laissez faire terdapat harapan agar pasar tidak dimonopoli. Selain itu, diberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi para pelaku usaha untuk berkompetisi dan bersaing dalam pasar. Tentu saja, sekarang, tidak ada negara yang secara murni menerapkan pasar bebas. Negara kenyataanya selalu ikut campur dalam urusan ekonomi dengan peraturan pajak, regulasi impor-ekspor, dan banyak hal lain lagi.

Dalam konsep pasar bebas berlaku teori zero sum game, artinya ada yang menang dan harus ada yang kalah. Hal itu merupakan konsekuensi dari kompetisi. Namun, kenyataanya kompetisi dalam pasar bebas tidak berlaku secara adil. Dalam pasar bebas kita sudah dapat  menerka siapa yang keluar jadi pemenang, tentu yang memiliki kapital paling besar. 

Konsep semacam ini yang sebetulnya sekarang sedang terjadi di dalam industi digital e-commerce dan fintech. Korporasi skala besar mulai berbondong-bondong masuk dan bekerja sama dengan penyedia jasa e-commerce dan fintech. Tentu saja secara langsung mereka bersaing dengan para pelaku usaha kecil dan retail. 

Yang ditakutkan adalah bagaimana para pemilik kapital besar dan para produsen (yang tentu memiliki harga lebih murah karena mengontrol jalannya produksi) ini justru mengontrol pasar dengan pengaturan harga yang tidak menguntungkan bagi pelaku usaha kecil. Hal ini menjadikan pasar bebas jembatan untuk memonopoli secara lebih terstruktur. Muncul permasalahan etis, apakah mungkin industri skala besar dan para produsen yang notabene dalam rantai usaha merupakana suplier justru ikut bermain di dalam pasar? Sehatkah atau etiskah kompetisi semacam ini? Tentu hal-hal semacam itu tidaklah fair dalam bisnis.

Etika Pasar Bebas

David Gauithier berpendapat bahwa pasar yang sempurna tidak membutuhkan moralitas. Dengan pasar sempurna dimaksudkan pasar di mana kompetisi berjalan dengan sempurna. Dalam situasi macam itu tidak diperlukan regulasi atau rambu moral karena kepentingan-kepentingan pribadi tiap orang secara sempurna sesuai dengan kepentingan sosial seluruh masyarakat. 

Di situ semuanya akan diatur oleh invisible hand-nya Adam Smith. Mekanisme pasar akan berjalan dengan sendirnya. Pasar sempurna berjalan menyerupai sistem komputer. Pertimbangan-pertimbangan moral tidaklah berperan di situ. Moralitas diperlukan hanya bila pasar gagal atau timbul kekurangan-kekurangan. Pandangan Gauthier ini tidak memiliki makna praktis sebab kenyataanya kompetisi dalam pasar tidak pernah bisa sempurna karena bermacam alasan. 

Salah satu alasan yang penting bahwa dalam bidang ekonomi selalu ditemukan externalities. Externalities adalah faktor yang mempunyai makna ekonomis namun tidak diikut sertakan dalam perhitungannya. Contohnya, bahwa sumber daya alam selalu terbatas dan pada suatu saat akan habis sama sekali atau bahwa kita tidak bisa mengetahui semua konsekuensi perbuatan-perbuatan kita. Dampak atas lingkungan hidup merupakan faktor ekonomis yang sangan penting juga. Alasan lain mengapa kompetisi dalam pasar tidak sempurna adalah bahwa tidak semua orang menduduki posisi yang sama. 

Secara konkret, proses di pasaran selalu disertai bermacam-macam kegagalan dan kekurangan. Namun, sistem pasar bebas tetap yang paling unggul terutama karena menjamin efisiensi ekonomi dengan cara paling memuaskan. Efisiensi di sini dimaksudkan kemampuan untuk menghasilkan barang atau jasa yang terbanyak dan berkualitas terbaik dengan biaya yang rendah.

Etika secara keseluruhan, tampak dari dua segi. Pertama keadilan sosial yaitu kompetisi. Bagiamana semua peserta dalam kompetisi di pasar diberikan kesempatan yang sama. Kedua, etika dibutuhkan sebagai jaminan agar kompetisi berjalan baik dari sudut moral. Secara positif kompetisi harus berjalan fair dan secara negatif dalam kompetisi orang tidak boleh merugikan orang lain. 

Semua peserta dalam pasar bebas harus berlaku dengan fair. Artinya, kejujuran merupakan tuntutan etis yang penting. Dengan kejujuran diharapkan semua peserta dapa berkompetisi denga awalan yang sama. Dalam olah raga misalnya, pemakaian doping dilarang karena membuat kompetisi tidak fair. Dalam kompetisi dimungkinkan situasi zero sum

Dalam kompetisi pasar sangat mungkin terjadi situasi zero sum: aritnya ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, dalam bisnis diharapkan situasi yang terjadi lebih banyak situasi yang win-win: dua pihak atau lebih dapat menang sekaligus. Situasi ini dapat diciptakan melalui kerja sama. Dalam kompetisi tidak bertentangan dengan kerelaan bekerja sama dengan pihak lain. Kompetisi dalam bisnis menuntut adanya kerja sama. Karena itu, dalam bisnis, mutual benefit sering menjadi suatu nilai etis yang khusus: kedua pihak memperoleh manfaat dengan kegiatan bisnis. 

Dirumuskan secara negatif, bahwa kompetisi dalam pasar tidak boleh merugikan orang lain. Artinya, kepentingan diri tidak sama dengan egoisme dan tidak boleh menjadi egoisme. Tentu saja kita setuju bahwa kepentingan diri menjadi motivasi utama dalam kegiatan bisnis.  Kepentingan diri dapat berubah menjadi egoisme bila pelaku bisnis mengorbankan orang lain demi kepentingannya. Tentu kalau hal itu terjadi, bisnis menjadi tidak etis. 

Merugikan orang lain yang dimaksud adalah melakukan sesuatu terhadap seseorang atau mengambil dari seseorang. Misalnya, melukai atau mencuri dari seseorang. Dalam konteks bisnis terutama dimaksudkan kerugian barang milik, bukan yang badani. Namun, kerugian hanya bisa terjadi jika sesuatu itu dilakukan melawan kehendak orang yang menerima perlakuan tersebut. Terdapat semboyan Romawi “volenti non fit iniuria”, “tidak terjadi ketidakadilan terhadap orang yang menyetujui”. Orang yang terjun ke dalam pasar bebas dengan sendirinya harus menyetujui aturan-aturan main yang berlaku.

Permasalahan Etis Pasar Bebas Berbasis Digital

Dalam hirarki ekonomi, produsen merupakan puncak piramida. Hal ini disebabkan karena produsen memegang kendali terhadap status barang. Status barang yang dimaksud adalah harga barang tersebut. Artinya, ketentuan harga jual dan beli barang ada pada produsen. Lalu tugas distributor yang mendistribusikan barang. Distributor terbagi atas distributor besar dan kecil. Distributor besar biasanya memiliki kapital paling besar dan hanya mennjual dalam jumlah besar atau grosir, sedangkan distributor kecil adalah pedagang ecer. Bisnis yang etis adalah pihak-pihak yang fair dalam melakukan kegiatan bisnis.

Dalam industri digital terutama e-commerce menjadi wadah bagi para pelaku usaha untuk memasarkan barangnya. E-commerce memberikan beberapa keuntungan: akses yang mudah dan jangkauan pasar yang luas. Bagi konsumen, e-commerce juga menjadi sarana yang sangat efisien dalam berbelanja karena konsumen hanya melihat melalui aplikasi atau web yang tersedia dan melakukan transaksi di tempat. 

Jadi, konsumen tidak perlu jauh-jauh ke toko. Namun,tidak dipungkiri bahwa terdapat kekurangan dari transaksi melalui e-commerce. Kita tidak dapat langsung menerima barang karena menunggu pengiriman terlebih dahulu. Selain itu, kita tidak mengetahui kondisi barang secara langsung, jadi kita hanya bergantung pada informasi yang diberikan oleh penjual. 

Penipuan pun banyak berlangsung dalam transaksi melalui e-commerce, namun sistem yang sekarang sudah lebih ketat dibanding sebelumnya walaupun tidak menutup kemungkinan tetap terjadi penipuan. Maka, kejujuran dari penjual pun dituntut dalam perilaku transaksi digital misal: memberi informasi sebenar-benarnya, mengirim barang sesuai, dsb.

Di dalam e-commerce sendiri masih belum ada aturan yang cukup jelas mengenai produsen yang ikut melapakkan produknya. Tentu hal ini sangat merugikan bagi distributor kecil yang barangkali menjual barang yang sama. Sering kali ditemui para produsen menjual barang dengan harga di bawah harga retail dan bisa dibeli satuan. 

Para distributor kecil tentu saja dirugikan dengan hadirnya produsen yang ikut masuk kedalam transaksi pasar yang seharusnya tidak dimasuki oleh produsen atau supplier. Seharusnya sudah ada kerja sama antara produsen dan distributor, dalam hal ini walaupun tidak diucapkan secara eksplisit atau kontrak, tetap ada batasan yang harus dilihat oleh produsen sehingga kerja sama antara produsen dan distributor berlangsung. Artinya, kerja sama antara produsen dan distributor tidak berlangsung dengan baik.

Kondisi pasar digital sekarang masih sangat “liar”. Artinya para pelaku usaha masih tidak etis dalam berkompetisi. Perlu juga ada aturan terkait dengan masuknya produsen ke dalam pasar yang isinya para pelaku usaha retail, karena sebagian besar pelaku usaha di Indonesia merupakan pedagang retail kecil. Ditakutkan, apabila tidak ada aturan yang mengontrol para produsen maka ketimpangan jelas akan terjadi. Pasar menjadi tidak sehat dan melahirkan monopoli dan oligopoli.

Tentu dengan kompetisi yang etis di dalam pasar digital diharapkan semua pelaku usaha dapat berkompetisi dengan sehat. Selain itu, dapat mendorong UMKM juga ikut masuk dalam pasar digital. Ekonomi negara yang kuat sebagian besar ditopang oleh kegiatan UMKM. Keuntungan e-commerce dalam menjangkau wilayah yang luas dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk-produk UMKM. Apabila UMKM sudah memiliki basis pasar digital yang bagus tentu akan membantu masyarakat kelas bawah karena mereka dapat dipekerjakan ke dalam UMKM.