Dengan tujuan pasti, Tuan Sri Gading Kencana mengikuti nasihat dari dalam diri, untuk mencari sukmanya yang menghilang bersama kabut, senja itu.  Hari itu adalah hari Rabu Wage yang bersejarah, di mana Tuan Sri Gading Kencana yang tampan, akhirnya memulai sebuah perjalanannya, meninggalkan seorang istri dan putri kecil semata wayangnya. Meninggalkan seorang istrinya yang sungguh jelita, yang bila dilukiskan melebihi kemampuan sang Pujangga menggambarkan kecantikan bidadari dari keinderaan.

Kecantikan istrinya memang benar-benar bagai emas baharu disepuh, seolah tak ada seorang pun perempuan di dunia ini yang menyamainya. Alam menjadi ikut bersedih menyaksikan perpisahan pasangan yang sungguh serasi, bagai bulan dan bintang itu. 

Tak hanya meninggalkan seorang istri dan putri semata wayangnya. Tapi sebuah rumah tua dari kayu Jati, yang dibangun dengan tangannya sendiri itu pun, juga turut meredam rindu, sesaat setelah kepergiannya.

Senja menyapa rumah tua dari kayu jati yang berada di lereng Sakya dengan penuh gairah hari itu. Tapi sang Tuan telah berjalan jauh. Rimba di sisi gunung pun telah dilewatinya, dengan tanpa menghiraukan bahaya dan letih yang mengiringi setiap langkahnya, sambil tetap terus memuja Hyang Manon dalam doa dan meditasinya. 

Tuan Sri Gading Kencana yang tampan, telah melewati ngarai sempit dan dinding batu yang menjulang tinggi. Bahaya binatang buas pun mengintai perjalanannya. Namun auman harimau di balik pepohonan, malah mendorong dan mempercepatnya melewati bahaya.

Sang Tuan terus berjalan tiada henti, sampai tampak sebuah gunung menjulang tinggi, bermandikan cahaya matahari. Awan tudung kemudian datang menyambutnya dari atas gunung, bagaikan sebuah payung, menjadikan pemandangan di sekitarnya tampak semakin indah. Awan yang disinari matahari itu terlihat berwarna-warni, meskipun kemudian menghilang dengan cepat dan lenyap terbakar matahari.

Dalam perjalanannya, Tuan Sri Gading Kencana sempat berpikir tentang kesedihan istri dan anaknya yang disebabkan oleh kepergiannya. Namun ia berusaha mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran itu dan segera mempercepat langkahnya menembus pagi, menuju ke arah matahari terbit yang telah menanti kedatangannya. 

Kini yang ada di dalam pikiran Tuan Sri Gading Kencana hanyalah sang Sukma, tiada yang lainnya. Dan ia pun kembali  meneruskan perjalanan, dengan menjeritkan kerinduannya kepada sang Sukma, sambil sesekali menahan tangisnya. Tiga malam sudah, ia berada di dalam rimba belantara, menyusuri jejak-jejak yang ditinggalkan sang Sukma. Berjalan tiada henti, sambil terus tetap memuja Hyang Manon dalam doa dan meditasinya.

Akhirnya, sampailah Tuan Sri Gading Kencana pada sebuah desa kecil nan indah di pinggir sebuah danau, dengan air yang sangat jernih. Sebuah danau yang mengingatkannya kembali akan pertemuan pertamanya dengan seorang wanita yang sungguh jelita, tujuh tahun silam. 

Seorang wanita cantik yang kini telah menjadi istrinya itu terkulai lemas di pinggir sebuah danau, pada saat ia temukan dalam keadaan pingsan, tepat di hari Anggoro Kasih, hari dimana bidadari turun ke bumi. Danau yang menjadi sejarah hidup istrinya itu, sekarang bagaikan pinang dibelah dua, seolah ia ada di dua tempat sekaligus. Di dekat sebuah dusun kecil yang ia tinggalkan, sekaligus ada di tempat yang ada di depannya kini. 

 Bagai jatuh dari langit dengan lembaran kosong tanpa catatan sejarah, sang istri yang ia temukan di pinggir danau waktu itu tak pernah bisa mengingat apapun tentang asal usulnya. Ia sebatang kara di dunia ini. Maka semakin beratlah sang Tuan mencoba membayangkan dan merasakan bagaimana kesedihan istri dan anaknya, dengan kepergiannya kali ini.

 Kicau burung Kutilang akhirnya membuyarkan lamunan masa lalu. Asap api di pagi hari pun tampak mengapung di atas desa kecil yang ada di depannya, memberi pertanda akan adanya sebuah kehidupan. Desa itu benar-benar indah dengan pepohonan nan rindang dan bunga-bunga yang tumbuh liar di sepanjang jalan setapak. Mentari baru saja merekah, tatkala Tuan Sri Gading Kencana sampai pada rumah pertama di desa itu. 

 Sang Tuan pun tersenyum membayangkan istri dan putri semata wayangnya tinggal di sebuah rumah dari kayu dengan halaman luas, seperti yang ada di hadapannya itu. Tapi kemudian ia segera menghela napas dalam-dalam melenyapkan angan-angannya itu, dan kembali memikirkan sang Sukma yang jejaknya tak lagi berbekas. 

Rumah di depannya sungguh indah. Cahaya mentari yang baru saja merekah, samar-samar memperlihatkan bunga kaca piring yang memenuhi seluruh halaman rumah tua itu, dengan aroma wanginya yang semerbak. Langkah kaki sang Tuan pun terhenti, tepat dikala hujan rintik-rintik yang sangat lembut turun dan memunculkan bianglala, yang menyambutnya dengan sempurna. 

Fenomena alam yang indah dan langka itu, di tanah Jawa disebut Candhik Ayu. Sebuah frasa dalam bahasa Jawa yang mendeskripsikan tentang nuansa indah yang terjadi pada pagi hari ketika sang fajar mulai merekah, dan pada saat yang sama turun hujan gerimis yang sangat lembut, seolah menjadi spektrum yang melemparkan warna pelangi, sehingga pemandangan yang terhampar tampak semakin lebih indah. Dan keindahannya itulah, yang menjadikannya sebagai sebuah refleksi kemurnian, kesucian dan keindahan dari sang penciptanya.

Tuan Sri Gading Kencana akhirnya terduduk di halaman rumah itu. Sang Tuan pun bergetar, menyaksikan indahnya Candhik Ayu, nuansa perpaduan hangatnya cahaya mentari yang baru saja merekah, indahnya  pelangi dan rintik-rintik hujan yang lembut menyentuhnya. Ia sungguh damai hari itu. Kini, tak ada lagi keinginan apapun dalam dirinya. Yang ada hanyalah kepasrahan dan keikhlasan menerima. Candhik Ayu telah memurnikannya pagi itu. Namun, dimanakah sang Sukmanya kini berada? Yang telah ia cari ke ujung dunia?

Dalam ketenangan yang sempurna, sepasang matanya pun akhirnya terpejam dengan penuh kedamaian, sampai terdengar suara lembut menyadarkannya. Sang Tuan pun kemudian membuka matanya dengan senyum penuh makna. Di depan pintu rumah tua itu, berdiri sosok wanita yang sungguh cantik. Rambutnya ikal mayang dan panjang, dengan bulu di keningnya yang lebat mengilat.

Wanita itu berjalan dengan anggun. Matanya bulat manis, wajahnya seperti bulan, dan kedipan matanya pun seperti kilat, menghilang cepat seperti bintang beralih. Gerakannya serba manis dan membangkitkan gelora asmara pada Tuan Sri Gading Kencana yang ada di hadapannya.

“Selamat datang suamiku! Inilah rumah kita di Kahyangan.” 

Betapa terkejutnya sang Tuan mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita cantik itu. “Suami?” 

Seolah seperti terbentur dinding batu yang menjulang tinggi, sang Tuan menjadi tak bisa mengingat apapun, meski ia merasa seperti mengenal dekat sosok wanita cantik yang ada di depannya itu. Tak hanya  wanita cantik itu, sang Tuan pun juga merasakan getaran indah penuh misteri, tatkala matanya menangkap seulas senyum manis putri kecil yang berjalan di samping wanita itu. Tetapi, semakin ia berusaha mencoba mengingat, hanya kegelapan saja yang terhampar di sudut memorinya. 

Tuan Sri Gading Kencana tak bisa berkata-kata. Bibirnya terkunci dalam diam. Ia hanya bisa tersenyum menatap teduh mata wanita cantik itu. Sampai tiba-tiba ia merasa lunglai berada pada titik kepasrahan. Dan dari hatinya yang terdalam, suara yang bisa menggema hanyalah  “ikhlas tanpa pamrih!”. Sebuah kalimat yang selalu ia katakan dalam doa dan meditasinya, kepada Hyang Manon.

Setelah momen itu, tiba-tiba cahaya matahari pagi menghilang ke balik awan. Dunia menjadi kelam tanpa isyarat, sampai kilat yang cahayanya seperti matahari, bermain-main di atas langit. Badai pun akhirnya datang. Hujan kemudian turun bersama angin yang mendesir di pepohonan. Tetapi beberapa detik kemudian, mendadak suasana menjadi lengang. 

Semua terhenti, hujan dan badai juga terhenti, bahkan waktu pun seolah terhenti. Korona matahari yang tidak bisa dilihat mata telanjang pun bahkan mendadak muncul dengan sebuah misteri yang membawa waktu kembali pada hari Rabu Wage. Hari dimana sang Sukma meninggalkan Tuan Sri Gading Kencana.

Senja kembali menyapa rumah tua dari kayu jati yang berada di lereng gunung Sakya, yang dibangun dengan tangannya sendiri itu, yang ikut meredam rindu sesaat setelah kepergiannya. Kembali pada momen hari Rabu Wage, Tuan Sri Gading Kencana pun hanya bisa menghela napas panjang melihat raganya terbaring antara hidup dan mati. Namun, sebuah cahaya dari dalam raganya tiba-tiba tampak bersinar terang. Sang Tuan pun akhirnya menyadari, sang Sukma telah kembali kepada raganya.

Dan bila sang Sukma telah berada pada tempatnya, bagaimana dengan ia sekarang? Lalu siapakah dia? Bagaimana ini bisa terjadi? Sang Tuan pun akhirnya mencoba kembali kepada raganya. Tapi semakin ia berusaha, ia semakin tak sanggup menjangkau tubuhnya.

Sang Tuan kemudian bersimpuh di kaki raganya, namun tetap saja tubuhnya diam seribu basa, antara hidup dan mati. Lelah pun kemudian mendera sang Tuan. Tak hanya raganya yang tak acuh kepadanya. Istri dan putri semata wayangnya pun juga tak dapat ia sentuh. 

Sampai senja meninggalkan langit jingga, sang Tuan masih saja tetap tak sanggup kembali kepada raganya. Sang Tuan pun akhirnya sampai pada batas daya pikirnya, dan hanya kepasrahanlah, yang tersisa padanya. 

“Ke dalam tanganMu, Hyang Manon. Hamba berserah diri, dengan ikhlas tanpa pamrih.”

Tiba-tiba cahaya yang timbul dari tubuh sang Tuan pun bersinar lebih terang dari sebelumnya, sesaat setelah sang Tuan berkata demikian. Tak hanya menyilaukan, tapi sinarnya langsung membuat mata sang Tuan memberikan gerak refleknya untuk terpejam. Dan saat matanya terpejam, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya kembali.

Setelah mengalami perjalanan selama tiga malam dan kembali pada hari yang sama, sang Tuan pun seolah kembali mengulangi kisah yang sama. Maka untuk kali ini, ia tak lagi memutuskan mengikuti nasihat dari dalam dirinya. Dan dengan hanya mendengar petunjuk dari Hyang Manon, ia pun kemudian total berserah diri sepenuhnya, serta ikhlas kembali kepada Hyang Manon, dengan atau tanpa sang sukmanya.

Diiringi jerit tangisan sang istri dan putri semata wayangnya  yang begitu memilukan, ia pun menuju ke alam baka dengan satria hari itu. Ia telah  ikhlas menerima tuntunan langsung dari Hyang Manon dan berpulang dengan damai.

Namun, sesaat kemudian tiba-tiba ada hal yang menakjubkan terjadi padanya. Empat rupa yang sama, mendadak muncul dari tubuh sang Tuan, bersama-sama menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada dan serempak memuja Hyang Manon dengan mengucapkan sebuah kalimat “ikhlas tanpa pamrih”. Sebuah kalimat indah, yang senantiasa bergema dalam doa dan meditasinya.

Kembali pada hari Rabu Wage menuju hari Kamis Kliwon. Dengan perkenan Hyang Manon, pelan-pelan mata batin Tuan Sri Gading Kencana pun terbuka. Tak hanya mata batinnya, mata telanjangnya pun, tiba-tiba terbuka setelah terpejam dan berkelana selama tiga malam.

Tuan Sri Gading Kencana pun segera melihat ke sekelilingnya. Tapi empat rupa dirinya tak lagi terlihat. Ia segera tersenyum dan menghela napas penuh ketenangan. Ia yakin empat rupa tersebut telah berada dalam dirinya, menjaga tubuhnya sampai pada waktunya kembali kepada Hyang Manon.

Di hadapannya kini telah berdiri sosok istrinya yang benar-benar luar biasa cantik, yang bila dilukiskan, memang sungguh-sungguh melebihi kemampuan sang pujangga menggambarkan kecantikan bidadari dari keinderaan. Tubuhnya bagai emas baharu disepuh, seolah tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang menyamainya. Gerakannya serba manis dan selalu membangkitkan gelora asmaranya. Sekarang sang Tuan benar-benar mengerti kenapa istri dan putrinya sungguh cantik tiada tara, karena kini ia tahu, darimana sesungguhnya istrinya berasal.  

Dipeluknya istri dan putri kecilnya dengan sejuta makna, hari itu. Betapa pertemuan menjadi sangat berarti, bagi orang-orang yang pernah terpisah atau kehilangan.

Rabu Wage menjadi hari yang penuh berkah bagi Tuan Sri Gading Kencana, karena Hyang Manon telah menghamparkan indahnya sebuah perjalanan untuknya.