Soekarno adalah sosok yang mempunyai wibawa dan kharisma yang besar bagi rakyat. Pembawaannya penuh wibawa, lengkap dengan tongkat kayu, berpeci, dan suara menggelegar,  turut menggetarkan hati bagi yang menatap dan mendengarkan pidatonya.

Pandangan demikian, turut diamini pula oleh rakyat Indonesia di Tanah Banjar. Tanggal 27 Januari 1953, Soekarno sedang melakukan pidato politik di Lapangan Merdeka, Amuntai. 

“Dia waktu itu memakai seragam kebesarannya dengan gagah, memakai tongkat yang katanya baru didapat dari Martapura. Penuh Aura kharismatik dan berwibawa. Juga memakai kacamata hitam” begitu kata beberapa orang saksi peristiwa.

Pada momen pidato politik itu, sebagian orang menyebut dan menganggap Soekarno sebagai raja, bukan sebagai presiden. Boleh jadi hal ini dikarenakan wibawa dan kharisma raja Banjar yang pernah datang ke Amuntai beberapa puluh tahun lalu begitu melekat dalam ingatan kolektif masyarakat.

Muhammad Iqbal menarasikan secara imajinatif peristiwa pidato Soekarno ini dalam buku terbarunya yang berjudul Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai 27 Januari 1953.

Buku ini tentu saja berbicara terkait dengan sejarah politik ala Benedict Andersen. Namun, saya melihat sisi berbeda dari fokus bahasan utama yang dijelaskan Iqbal ini, yaitu sebuah peristiwa kultural ketika Soekarno dianggap memiliki kharisma seperti seorang raja Banjar.  

***

Amuntai adalah daerah “lumbung padi” bagi Kerajaan Banjar, mengingat lahan rawa nan subur untuk pertanian, sehingga tidak jarang daerah ini mendapat perhatian khusus bagi raja. Karenanya, ingatan-ingatan kolektif tentang raja Banjar tentu saja melekat kuat pada masyarakatnya.

Di dalam Hikayat Banjar telah tertulis bahwa kerajaan Negara Dipa pernah berdiri di Amuntai. Kerajaan diperintah oleh dwitunggal lagendaris keturunan batara (dewa) yaitu Puteri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata. Kerajaan ini bercorak Hindu dengan Candi Agung sebagai pusat religi dan politiknya. 

Sampai sekarang keturunan dari bangsawan Negara Dipa masih bisa ditemui di Amuntai dan sekitarnya dengan sebutan bubuhan candi.

Kemudian, pada masa Kerajaan Banjar, tepatnya ketika Sultan Nata Alam (1761-1801) berkuasa, Amuntai merupakan ibukota dari Banua Lima yang dipimpin oleh seorang adipati. Wilayah ini termasuk Negara Agung (wilayah inti) dari daerah pedalaman karena potensi pertaniannya yang melimpah.

Selain itu, permaisuri dari Sultan Adam Alwatsiqbillah (cucu Sultan Nata Alam), yaitu Nyai Ratu Kumala Sari adalah orang Amuntai. Dia adalah kerabat adipati Banua Lima. 

Belum lagi kehadiran Mangkubumi Hidayatullah yang dinobatkan menjadi raja Banjar pada bulan November 1859 oleh rakyat Amuntai. Tentu saja hal ini melengkapi argumen bahwa hubungan antara Amuntai dan raja banjar begitu erat. 

Oleh karena itu tidak mengherankan, ketika Soekarno datang ke Amuntai, nuansa raja Banjar seakan hadir kembali dan menggelora dalam benak masyarakat. Sehingga wajar mereka memanggil Soekarno dengan sebutan raja.

Setidaknya peristiwa kultural ini mengingatkan saya pada istilah culture lag, sebuah istilah yang mengisyaratkan cara pandang masyarakat yang belum mampu beradaptasi dengan lajunya sebuah perubahan sosial, sehingga menjadi stagnan. 

Dengan kata lain, konsep pemimpin bangsa bagi masyarakat tradisional Banjar masih sama seperti konsep raja.

Dalam konsep birokrasi tradisional, faktor keturunan, kekayaan dan status adalah akar kepemimpinan dalam masyarakat. Oleh karena itu wibawa dan kharisma seorang raja ditentukan tiga hal tersebut. 

Konsep raja bagi Urang Banjar sendiri bisa dikatakan mempunyai identitas yang sakral atau bersifat magis/religius. Faktor utamanya adalah karena dalam tubuh mereka telah mengalir darah dwitunggal lagendaris, Puteri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata.

Oleh karena itu, dalam struktur masyarakat tradisional Banjar muncul pembedaan kelas sosial antara Tutus Raja(bangsawan) dan jaba (rakyat biasa).

Selanjutnya adalah kekayaan. Faktor kewibawaan dan kharisma keturunan dwitunggal lagendaris diatas membawa faktor lain, yaitu kekayaan. Hal tersebut terlihat pada sistem tanah apanase. 

Tanah ini  digarap secara sukarela oleh rakyat. Mereka merasa terhormat mengerjakan tanah Tutus Raja ini. Tentu saja hasil dari tanaman dari tanah ini menghasilkan limpahan kekayaan bagi raja dan kerabatnya. 

Terakhir adalah status yang muncul akibat dari dua faktor diatas. Karena raja adalah tutus dari dwitunggal lagendaris dan mempunyai kekayaan yang melimpah, maka status mereka amat terhormat dan prestisius. 

Kewibawaan dan kharisma raja tersebut setidaknya masih dirasa sampai sekarang, meski tidak semua kalangan masih memandangnya sama. 

Dulu, nenek pernah melarang saya untuk memerankan raja Banjar ketika sedang pentas Mamanda (teater tradisi Banjar), karena hal itu dianggap pamali (larangan/tabu) dan mengundang tulah (kualat).

Kembali ke pembahasan tentang Soekarno. Dalam pandangan masyarakat Banjar tradisional pada tahun 1953, Soekarno dipandang lebih dari sekedar seorang pemimpin bangsa, melainkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan magis dan sakral bak seorang raja Banjar. 

Tentu saja hal ini ditunjukkan pada wibawa dan kharismanya di depan rakyat Amuntai ketika pidato pada 27 Januari 1953.

Mengenai magis dan kesakralan Soekarno, Buyut saya pernah bercerita bahwa uang ORI gambar Soekarno (Oeang Republik Indonesia) adalah alat untuk mangaji sugih (pesugihan). Uang tersebut dipakai dalam sebuah ritual dengan cara diletakkan pada uap kopi pahit yang panas disertai dengan mantra pemanggilan. 

Kalau memang diizinkan Tuhan, roh khodam Soekarno akan muncul diatas uap kopi tersebut, lalu si pemanggil mengutarakan maksudnya agar diberi kekayaan berupa uang yang melimpah. 

***

Konsep kesakralan Soekarno ini tentu mengingatkan saya pada cara pandang Urang Banjar tradisional tentang raja yang dianggap sakral dan mempunyai kekuatan adikodrati. 

Dan tentu saja pada tanggal 27 Januari 1953 kewibawaan nan sakral  pada raja Banjar seakan-akan hadir kembali pada  diri Soekarno dalam benak rakyat Amuntai, meski sistem pemerintahan bukan lagi bersifat birokrasi tradisional. Setidaknya hal inilah yang saya sebut sebagai cultural lag

Faktor ini setidaknya turut andil dalam menentukan pidatonya yang mendapat sambutan begitu meriah di Amuntai. Masyarakat tentu saja  antusias dan mengelu-elukan nama Soekarno sambil mengibarkan bendera merah putih kecil. 

Bahkan kakek buyut saya pada tahun 1953 rela bersepeda onthel dari daerah Tabalong melalui jalur darat (jarak tempuh sekitar 50 km) hanya untuk menyaksikan “sang raja” nan berwibawa dan kharismatik.

Nenek saya pernah bercerita bahwa ada tiga hal yang membuat kakek buyut begitu bersemangat jauh-jauh naik sepeda onthel ke Amuntai, yaitu Dalang Rundi, Oma Irama dan Soekarno.