Bulan Oktober 2019, film Indonesia yang cukup dinantikan rilis, yaitu Love for Sale 2. Cerita yang ditampilkan dalam film ini memiliki keterkaitan besar dengan film pendahulunya dan (mungkin) masih berkisar di sepak terjang Arini sebagai pekerja penyedia jasa kencan. Perbedaannya, pemeran utama pria di film ini bukan Gading Marten, melainkan Adipati Dolken.

Tentu banyak artikel yang telah memuat perihal pergantian pemeran utama ini. Hal yang pasti, judul film ini mewarisi nama baik, mengingat film pendahulunya mampu meraih 3 piala Citra untuk aktris pria, wanita, dan skenario asli terbaik.

Artikel ini tidak akan membahas film tersebut layaknya reviewer atau kritikus film pada umumnya (seperti CineCribs atau WatchmenID). Tulisan kali ini akan lebih membahas perilaku Richard Achmad menurut sudut pandang ekonomi, lebih tepatnya ekonomi perilaku, dan ilmu sosial lainnya.

(Peringatan, artikel ini mengandung banyak spoiler). Berikut beberapa pembahasannya.

Menerima taruhan demi harga diri

Jalan cerita film ini diawali dengan keputusan Richard menerima tantangan teman-temannya untuk membawa pacar pada acara pernikahan salah seorang temannya pekan berikutnya. Bahkan teman-teman Richard berani bertaruh kalau ia akan datang ke acara pernikahan tanpa pasangan. 

Richard menerima tantangan tersebut demi harga diri dan pengakuan di antara teman-temannya kalau ia bukanlah jomblo akut. 

Menurut Compass of Shame yang diperkenalkan oleh Nathanson (1992), reaksi Richard tergolong Attack on Other, yang mana memberikan reaksi terhadap orang lain sebagai bentuk perlawanan terhadap rasa malu yang dihadapinya (Elison, Lennon, & Pulos, 2006). 

Richard menerima taruhan kawan-kawannya untuk memberikan kekalahan dan menepis ekspektasi mereka. Keputusan Richard cukup rasional untuk konsekuensi jangka panjang, agar teman-temannya berhenti mengejeknya sebagai jomblo akut.

Selain itu, merujuk pada studi lainnya yang dilakukan Hareli dkk. (2013), seseorang yang tidak mudah merasa malu dipandang lebih berkemampuan dibandingkan mereka yang dengan mudah mengonfirmasi informasi yang bersifat mempermalukan. Dalam kasusnya Richard, dia akan dipandang lebih mampu mendapatkan pasangan ketika menerima taruhan.

Richard belum sanggup berpaling dari Maya.

Pada saat Panji datang berkunjung ke rumah Richard untuk mengetahui kabarnya Richard, dan pacar barunya, Panji menanyakan kembali apakah Arini wanita yang tepat, mengingat Richard belum mampu move-on dari Maya sejak lulus SMA. Richard mungkin saja tidak sanggup move on karena masih teringat hal-hal indah ketika bersama Maya. 

Ingatannya tersebut secara tidak sadar menjadi ukuran ideal wanita yang dapat dicintai oleh Richard. Agar dapat terlepas dari jeratan masa lalu tersebut, Richard harus sanggup mengalihkan ingatannya dari Maya. 

Sikap Richard ini dapat disebut sebagai anchoring. Menurut Tversky dan Kahneman (1974) dalam Furnham & Boo (2011), anchoring adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan ekspektasi hasil yang sangat terpaku dengan pengalaman dan sugesti yang tersedia saat ini. 

Mussweiler, Pfeif, & Strack (2000) menemukan bahwa anchor dapat makin tertanam di pikiran seseorang apabila informasi pendukung yang memperkuat alasan penentuan anchor tersebut terus diterima tanpa diimbangi informasi yang dapat melemahkan alasan tersebut. Berdasarkan penelitian yang sama, cara untuk mengatasi anchoring adalah dengan mempertimbangkan argumen berlawanan yang dapat mematahkan anchor tersebut. 

Dalam kasus Richard, jika Maya adalah ukuran ideal calon pasangannya, maka Richard harus memikirkan hal-hal buruk tentangnya yang pada akhirnya membuat ia berkeyakinan kalau Maya bukanlah wanita ideal. Usaha Richard ini dapat makin mudah apabila Richard tidak hanya terpaku pada informasi baik tentang Maya, namun juga mencari informasi pendukung lainnya yang membuat ia tidak menyukai mantan pacarnya tersebut.

Ramah kepada pegawainya  

Pada hari pertama Arini memberikan sarapan kepada para pegawainya Richard, terlihat kecanggungan di diri Richard dan pegawai-pegawainya. Arini menunjukan afeksi yang baik dan ramah.

Seiring berjalannya waktu, Richard memberikan perlakuan serupa dengan caranya, seperti memberikan keleluasaan jam masuk dan pulang kantor. Hal ini dapat diartikan bahwa Richard mulai menyerap nilai dan identitas Arini ke dalam dirinya sendiri sebagai dampak dari kedekatan mereka berdua.

Aron, Paris, & Aron (1995) menemukan bahwa cinta adalah salah satu faktor yang dapat membuat seseorang menginternalisasi kepribadian orang lain. Dapat disimpulkan, cinta Richard kepada Arini ternyata membawa dampak yang baik hingga ke pegawai-pegawainya. Bahkan, beberapa orang pegawainya, untuk pertama kalinya, ditraktir makan siang Nasi Padang.

Begitulah pandangan akademis yang mungkin dapat menjelaskan perilaku Richard di film Love for Sale. Perilaku dan alam bawah sadar manusia bukanlah ranah yang abstrak dan mustahil untuk difabrikasi, bahkan kebijakan dan suatu lingkungan dapat dibuat sedemikian rupa untuk mengendalikan perilaku manusia secara tidak sadar. 

Richard mungkin tidak mengetahui bagaimana ia berperilaku atau mengapa ia berperilaku. Akan tetapi, mengetahui cara kita berperilaku dan alam bawah sadar bekerja dapat mengarahkan kita menuju ke keputusan yang bermanfaat.

Referensi

  • Aron, A., Paris, M., & Aron, E. N. (1995). Falling in love: Prospective studies of self-concept change. Journal of Psychology and Social Psychology, 69(6), 1102–1112.
  • Elison, J., Lennon, R., & Pulos, S. (2006). Investigating The Compass of Shame: The Development of The Compass of Shame Scale. Social Behavior and Personality, 34(3), 221–238.
  • Furnham, A., & Boo, H. C. (2011). A literature review of the anchoring effect. The Journal of Socio-Economics, 40, 35–42.
  • Hareli, S., Berkovitch, N., Livnat, L., & David, S. (2013). Anger and shame as determinants of perceived competence. International Journal of Psychology, (September), 37–41. https://doi.org/10.1080/00207594.2013.785634
  • Mussweiler, T., Pfeif, T., & Strack, F. (2000). Overcoming the Inevitable Anchoring Effect: Considering the Opposite Compensates for Selective Accessibility. Personality and Social Psychology Bulletin, 26(9), 1142–1150. https://doi.org/10.1177/01461672002611010