“Tono, apa kabar? Sehat, Ton?”

Seorang kakak tingkat menyambutku begitu aku sampai alun-alun, tempat kami berkumpul untuk sekadar mengakrabkan diri, menjalin silaturrahmi. Mbak Asna, begitu aku memanggilnya. Usianya sekitar 3 tahun lebih tua dariku. Pribadinya sangat ramah, supel dan anggun. Siapa pun lelaki yang melihatnya, kurasa akan jatuh hati. Seperti diriku.

Kami tergabung dalam komunitas “Sahabat Belajar”. Sebuah komunitas yang didirikan untuk membantu anak-anak desa (sekitar kampus) belajar di luar jam sekolah. Biasanya, dua minggu sekali kami akan berkumpul di taman dekat pantai sembari sharing pengalaman, mendiskusikan buku ataupun film yang sudah kami lahap sebelumnya.

Aku termasuk anggota baru dalam komunitas ini, baru setahun. Karena memang aku adalah mahasiswa baru yang memutuskan untuk menjadi “kura-kura” setelah satu semester menikmati peran “kupu-kupu”. Jadi wajar jika tidak banyak kakak tingkat yang aku kenal, juga tidak banyak kakak tingkat yang mengenaliku.

Tapi tunggu, bukankah tadi Mbak Asna memanggilku Tono? Seketika hatiku melambung tinggi bak terbawa paralayang, mengudara melintasi ketinggian pegunungan. Namaku Antono, tetapi tidak banyak yang memanggilku Tono. Mayoritas teman baru memanggilku Anton. Tono hanyalah panggilan untuk orang terdekat. Tapi Mbak Asna mengenaliku sebagai Tono bukan Anton? Seketika semangatku membara dan ingin unjuk gigi di depannya.

Bagaimana bisa kakak tingkat yang menawan itu mengetahuiku sejauh itu? Kalau dia tidak memperhatikanku secara khusus, tentu tidak akan mendapatkan informasi sedalam itu kan? Ah, mungkin Mbak Asna tahu dari Silmi. Aku menyangkal pendapatku sendiri untuk meredakan hati yang kadung mengudara di atas awan. Tapi tidak mungkin juga Silmi menceritakan hal itu.

Silmi, anak introvert itu tak mungkin bersedia membuka mulutnya secara cuma-cuma hanya untuk memperkenalkan diriku sejauh itu, yang notabene sangat tidak penting bagi dirinya. Mbak Asna pasti sengaja mencari tahu tentangku dari Silmi. Hanya Silmi yang tahu panggilan Tono. Lagi-lagi monolog dengan diriku sendiri itu tak kunjung usai. Hingga akhirnya perdebatan ini dimenangkan oleh egoku.

Selama kegiatan diskusi berlangsung, aku senantiasa tersenyum bahagia. Betapa bahagianya diriku saat ini. Jatuh cinta dalam diam ternyata tidak seburuk olok-olokan teman. Karena dengan hal ini, aku bisa menjaga diri. Ketika aku menyadari keindahannya, tidak serta merta aku bisa mendekatinya. Diam itu yang membentengiku. Entah sampai kapan aku sanggup terlibat dalam cinta satu pihak.

Diskusi pun kami mulai saat sudah banyak sahabat belajar yang berdatangan. Hari ini moment khusus Mbak Asna, dia yang menjadi fasilitator. Tentu saja, semangatku bertambah sepuluh kali lipat. Aku bahkan sengaja datang lebih awal dan memakai jaket biru dongker favoritku.

“Sebelum saya bercerita, ada yang ingin sharing pengalaman?” Mbak Asna melempar pertanyaan kepada kami. Tutur kata yang nyaring tapi teduh itu menentramkan. Bukan kami tidak ingin berbagi pengalaman mbak, tapi suaramu itu yang membuat indera pendengaran kami tunduk.

“Ah, kalian masih malu-malu begitu. Baiklah, kalau belum ada yang mau angkat suara, biar Mbak Asna dulu yang memulai. Siapa tau nanti kalian terpancing,” lantas wanita inspiratif itu mulai menarasikan pengalamannya tatkala berkelana mengampanyekan budaya membaca di daerah pelosok.

Seperti anak-anak ketika mendengar dongeng candi Prambanan, pembuktian cinta Bandung Bandhawasa yang rela membuat 1000 candi untuk Rara Jonggrang dalam waktu satu malam namun tak genap dibuatnya, kami diam dan tiada bosan memerhatikan setiap kata yang ia tuturkan. Kami dibuat penasaran dan takjub atas pengalamannya. Mbak Asna begitu apik membawakan cerita. Aku yakin suatu saat dia akan menjadi penulis yang hebat laiknya Asma Nadia. Nama mereka hanya berbeda satu abjad saja, berbeda tipis. Kukira nasibnya juga tidak akan berbeda jauh dari novelis kondang itu.

“Jadi begini teman-teman, membaca itu tidak melulu soal buku, kitab, status ataupun aksara lainnya. Dia kata kerja yang sangat luas. Jangan puas ketika teman-temam sudah bisa menghabiskan satu dua buku. Cobalah membaca lingkungan, membaca peluang, dan membaca kebutuhan seseorang untuk melatih kepekaan kita,” ia mengakhiri ceritanya.

Bagaimana bisa aku tidak jatuh hati kepadamu, mbak? Kau begitu menawan. Aku melamun memikirkan epilognya. Hingga tepuk tangan dan pandangan mata mengarah padaku, menyadarkanku. Kutengokkan kepala mengikuti arah mereka, ternyata dua orang sahabat belajar kami datang. Mereka berjalan ke arah kami. Bukan hal penting rupanya. Aku kembali menekuri Mbak Asna dalam pikiranku.

Dek, itu yang pakai jaket maroon namanya siapa ya?”

Sayup-sayup kudengar Mbak Asna bertanya kepada Wulan yang duduk di sebelah kanannya sambil tetap mengarahkan pandangannya kepada dua sahabat belajar yang sedang berjalan itu.

“Vidy, mbak,” balas Wulan.

“Lah yang satunya dek?”

“Toni,” sahut Wulan sembari merapihkan kerudungnya yang tersingkap angin.

“Trus tadi yang pake jaket biru dongker itu?” Mbak Asna beralih menengok ke arah kirinya, kepada Silmi.

“Tono, mbak. Antono!” tegas Silmi seraya memasukkan beberapa kacang ke dalam mulutnya.

Mata sipitku mendadak membulat. Kutatap tajam Mbak Asna yang tepat berada di seberangku. Tampaknya kamu lupa satu hal, mbak. Ada satu kemampuan membaca yang tidak boleh kalian lupakan untuk mengerti kebutuhan seseorang: membaca perasaan. Aku bangun berniat mencari udara segar.