Cinta memang sulit untuk didefinisikan. Cinta selalu menemui kebodohan di mata kaum rasional sepertiku. Perihal mencintai kita adalah sumber luka. Mereka yang mencintai terlalu dalam akan selalu menemui yang bernama luka. Buktinya kita berdua. Aku terluka karena terlalu dalam mencintaimu dan kau pun terluka karena mencintainya terlalu dalam.

Hatimu terluka dan dia malah tertawa bahagia di sana. Kau bukan siapa siapa di matanya. Dia hanya hadir untukmu dikala dia kesepian. Kau seharusnya sadar karena sedang jatuh cinta sendiri. Sudah kubilang padamu, kau harusnya jatuh dahulu baru cinta. Tapi nyatanya kau malah cinta dahulu, kemudian  terjatuh dan terluka.

Aku adalah tempat kau mengadu dikala kau sedang terluka. Di sisiku, kau bercerita tentang semua luka yang ia berikan kepadamu. Kau bercerita tanpa sadar, sedang aku adalah yang paling berharap kau di sisiku tanpa membuat mu terluka.

Bukan karena aku takut mengungkapnya. Juga tak ingin aku mencintaimu dalam diam. Tapi bagiku, tak baik jika aku mengungkapkan hal ini padamu. Sedang seseorang laki-laki yang katanya sangat mencintaimu masih bersamamu di sisinya.

Meski melihatmu tertawa bersamanya selalu membuat ku terluka tetapi bagiku baiknya aku memang seperti begini.  Aku tak ingin kau kecewa denganku karena mengungkapkan apa yang kurasa. Bukankah kita pernah berjanji bahwa sahabat terbaik tak mungkin saling mengecewakan?

Tapi apa buktinya? Hari ini kau kembali menitikan air mata. Luka yang belum sembuh yang telah ia perbuat kepadamu, kini ia buat semakin terluka. Aku pikir ini adalah akibat dari ulahmu sendiri. Setiap kali kau terluka karenanya, sesering itu kau memaafkan dirinya.

Sudah saatnya kau tinggalkan dirinya. Perpisahan bukanlah akhir, namun awal dari segalanya. Percaya padaku! Air matamu tak pantas untuk ia yang terus membuatmu terluka. Cukuplah air matamu memberi arti bahwa ini bukan disebut tentang saling mencintai. Tapi ini tentang cinta seorang perempuan yang selalu terluka. Semakin kau mencintainya semakin itu pula kau terluka.

Ingin rasanya mengatakan kepadamu bodoh dengan suara yang sangat keras. Dan berharap kau mendengarnya dan menamparku kuat-kuat. Setelah itu kita pun berakhir. Kau menghilang dan aku pun pergi dengan sebuah rasa yang tak pernah kau tahu. Tapi apakah aku sekejam itu? Betapa bodohnya jika aku berpisah denganmu.

Tak mungkin kulakukan hal ini kepada perempuan yang telah lama membuatku jatuh cinta. Perempuan yang membuatku tak tahu caranya jatuh cinta kepada perempuan lain. Ingin sekali pada suatu malam, Tuhan memberitahukan padamu kalau sepertiga malamku adalah simpul doa tentangmu.

Pada malam itu, Tuhan akan bercerita segala harapku bahwa tak hanya harap akan berkat dan keselamatan dari-Nya untukmu, tetapi sepenggal harap dariku agar akhir dari cerita ini adalah aku yang ada di sisimu. Namun sayang  di sepertiga malam itu juga, kau malah berdoa diberi ketabahan untuk tetap mencintai laki-laki itu.

Apakah keterlukaanmu adalah jawaban dari semua doaku? Betapa harus bertangungjawabnya aku atas apa yang kulakukan. Aku begitu egois dan membiarkanmu terluka. Egokah aku mencintaimu? Sendiri? Sampai sampai aku meminta kepada Tuhan agar aku bersamamu dan pada akhirnya membuat engkau terluka?

Seandainya kau melupakan laki-laki itu dari dulu, aku mungkin tak terluka seperti ini. Begitu pun dengan dirimu. Aku terluka karena egoku mencintaimu dan kau terluka karena….ah sudahlah… hampir kubilang karena kebodohanmu.

Nyatanya Tuhan mengabulkan doa kita berdua. Paradoks betul. Tuhan mengabulkan doa kita namun kita tetap terluka. Kita terlalu egois sehingga tak sadar jika semesta yang Tuhan izinkan, sedang bekerja untuk kita.

Suatu ketika kau berujar padaku bahwa kau sudah melupakannya. Senang sekali mendengarnya. Dengan begitu akan kusiapkan diriku dan mengungkapkan segalanya kepadamu. Tentang rasa yang tak pernah kau sadari meski rasa itu sedekat nadimu. Dia ada di dekatmu dan memeluk bayangmu tiap hari.

Soal rasa ini, sudahku siapkan sejak awal perjumpaan kita. Tapi kapan waktu yang tepat untuk semua ini? Aku bukanlah dari golongan mudah yang buru buru memproklamasikan perasaan ini padamu. Aku masih trauma! Jangan jangan masih ada sisa bom waktu yang berisikan perasaanmu terhadap laki laki itu. Aku tak mau pada akhirnya aku terluka lagi.

Hingga suatu masa kuungkapkan perasaan ini padamu. Jingga yang menguning dan desiran ombak kala itu menjadi saksi bagaimana seorang laki laki terluka lagi. Sedang di saat yang sama seorang perempuan memulai untuk terluka lagi. Aku yang kau tolak dan dia yang kau harapkan kembali lagi.

Sudahlah aku tak mau mengguruimu lagi. Cinta memang sulit untuk didefinisikan. Cinta selalu menemui kebodohan di mata kaum rasional sepertiku. Perihal mencintai kita adalah sumber luka. Mereka yang mencintai terlalu dalam akan selalu menemui yang bernama luka. Buktinya kita berdua. Aku terluka karena terlalu dalam mencintaimu dan kau pun terluka karena mencintainya terlalu dalam.

Pada akhirnya, memang….aku adalah laki-laki yang paling mencintaimu. Namun aku juga tak egois untuk terus menghancurkan hatiku. Bagiku, hatiku adalah aku yang ingin mencintai tanpa bersama sebuah luka.

Lagi lagi aku salah! Semakin aku mencintai, aku sedang membuat luka.