Sebentar lagi Badrun akan menggapai segala harapannya. Setidaknya ia percaya begitu. Baginya memang tak perlu mempedulikan orang lain setuju atau tidak dengan apa yang ia mau, apalagi untuk sampai percaya.

Karena itulah konsep prinsip diciptakan di dunia ini. Seseorang selalu berhak mengamini bahkan menjalankan apa saja hal yang berkerubung di kepalanya. Wabilkhusus Badrun, dengan segala persoalan cintanya yang pelik.

Perutnya sudah semakin keroncongan hari itu. Jika didengarkan melalui stetoskop, pasti terdengar suara cacing-cacing di perutnya saling baku hantam berebut makanan. Ia sudah tidak makan dan minum selama berdiam di tempat tersebut. Tujuannya satu: hanya untuk memuluskan segala kisah cintanya ke depan.

Kehidupan cinta Badrun selama ini memang terbilang rumit. Ia selalu saja terlihat kesulitan untuk menghadirkan nasib baik dalam perjalanan-perjalanan cintanya. Sepertinya selalu ada hal-hal yang menjegal dia untuk merasakan indahnya berpasangan. Ia bahkan sering kali berburuk sangka kepada Tuhan yang dianggap pilih kasih dan menuliskan takdirnya dengan tulisan-tulisan yang buruk.

Maka dari itu ia memutuskan untuk tidak terlalu akrab dengan Tuhan. Barangkali sedikit jarak akan membuat hubungannya di kemudian hari akan lebih menyenangkan. Tapi soal Tuhan itu urusan lain, sekalipun sosok-Nya memang sering kali mencampuri urusan Badrun dalam mencari belahan jiwanya.

Badrun yang semakin uzur, sebenarnya hanya ingin membuat gembira hati sang ibu saja. Sejak kecil ia dibesarkan oleh Ibu Maryati seorang. Bapaknya meninggal dalam kecelakaan setelah beberapa hari sempat mengelus-elus pipi Badrun. Kepergian bapak cukup membuat ibu terpukul. Dan kini Badrun tak mau membuat ibu kembali menyimpan sedih hanya perkara ia membujang terlalu lama.

Tapi menemukan sosok wanita idaman pun bukanlah persoalan enteng seperti membalikkan telapak tangan. Jika ditelusuri, selalu ada persoalan yang bisa menggagalkan semua rencana Badrun untuk mempersunting wanita. Dan sebenarnya itulah inti masalahnya.

Mula-mula Badrun memang mudah untuk bisa dekat dengan wanita mana pun yang ia mau. Anehnya, masalah mulai muncul ketika masa-masa pendekatan sudah berlangsung setengah jalan. Saat Badrun yakin untuk segera menyeriuskan hubungan, seketika itulah hal-hal yang ia tidak suka langsung menghampirinya.

Seperti ketika bertemu dengan Saskia, cinta monyet SMA-nya, saat reuni angkatan jadul beberapa tahun lalu. Badrun merasa waktu telah mempertemukannya kembali dengan sang jodoh. Tatapan pertama setelah bertahun-tahun tidak bertemu membuat Badrun tertiban petuah cinta pada sekedipan mata. Ia melihat Saskia seperti ketika Adam melihat Hawa untuk kali pertama. Pikiran Badrun menggiring suatu opini bahwa Saskia adalah tulang rusuk yang ditakdirkan untuknya selama ini.

Badrun yang malang selalu mengantongi siasat untuk membuka obrolan dengan wanita yang ia suka. Mulanya, ia langsung menembak si wanita dengan momen-momen yang pernah dilakukan bersama. Misal, seperti waktu Badrun dan Saskia dihukum bersama akibat telat datang upacara di Senin pagi. Atau, momen di mana mereka sama-sama remedial ketika semua teman sekelasnya mendapat nilai bagus. Obrolan seperti itu langsung membuat Badrun akrab dalam sekali hentakan.

Permasalahannya, kadang obrolan yang terlanjur diatur membuat Badrun sulit mengganti obrolan pada topik-topik lain. Tentu karena sebetulnya Badrun tak peduli dengan masa lalunya di SMA. Ia hanya ingin bisa bercengkrama dengan wanita yang dianggapnya memiliki mata indah dengan senyum yang manisnya tak tertahankan itu.

Tak lama kemudian, saat Badrun sedang asyik-asyiknya menikmati manisnya senyum Saskia, langit seolah mendadak cemburu pada Badrun. Obrolan panjang lebar itu tiba-tiba terhenti ketika seorang lelaki tampan, yang wajahnya tidak asing, datang menjemput Saskia. Mengambil wanita yang pada mulanya diyakini Badrun sebagai tulang rusuknya yang hilang.

Wajah Badrun seketika kecut. Tatapan matanya kosong layaknya melihat hidup yang sudah tak bisa diperjuangkan lagi. Ia hanya manut-manut setelahnya, tersenyum sungging dan menganggap dunia hampir terbalik sepenuhnya. Mungkin Badrun tak akan seperti itu jika tidak memiliki rasa percaya diri yang berlebihan.

Tapi itulah cinta, pada mulanya ia yakin bahwa seseorang yang ada di depan mata adalah jodohnya. Namun tiba-tiba langit tidak setuju dengan perasaan itu dan langsung menjungkirbalikkan keadaan dalam detik berikutnya.

Kemudian muncul patah hati sesaat, yang mulai berspekulasi banyak hal dan berkeliaran di kepala Badrun. Ia sempat terpikir untuk menggembosi ban motor si pria atau mungkin menculik dan membuangnya ke pulau Buru. Tapi itu hanya khayalan sesaat ketika siapapun patah hati. Dan syukur, Badrun selalu bergegas mengatasi patah hatinya yang labil itu.

Hingga di suatu hari, setelah sempat menganggur beberapa lama, Badrun kembali terpincut dengan gadis lain yang menjadi atasannya. Gadis itu memimpin sebuah kantor di daerah kumuh pinggiran kota. Badrun tak menyangka di kantor yang dekil, banyak debu, serta dihinggapi ribuan kuman penyakit, ternyata masih menyimpan wanita cantik di dalamnya.

Sebagai pegawai baru, Badrun tak pernah sedikit pun canggung bahkan grogi menghadapi atasannya. Dalam minggu pertama ia sudah berhasil mengajak atasannya itu minum kopi bersama. Di minggu kedua, mereka sudah makan siang bareng di warung nasi padang seberang kantor. Bahkan di bulan berikutnya Badrun sudah naik jabatan, dari mulanya staff marketing langsung menjadi asisten pribadi Novi, wanita mapan yang menjadi atasannya itu.

Tapi di hubungan yang semakin intens itu, Badrun kembali dibuat bingung. Sebab ia seperti mendapat bisikan makhluk halus yang mengatakan bahwa Novi tak tertarik dengannya. Terlihat dari obrolan yang hanya berputar-putar di urusan kantor, berita koran murahan, hingga remeh-temeh seputar hal apapun yang mereka lihat. Tak ada percakapan semisal dua orang lawan jenis yang saling menginginkan satu sama lainnya. Seperti, kapan mereka nonton bareng, atau minimal saling berbalas pesan romantis di media sosial.

Badrun pernah sekali mengirimi sebuah pesan dan mendoakan Novi agar bermimpi indah dalam tidurnya. Tapi pria itu malah ditertawai dan dianggap seperti ibunya saja yang rewel dalam hal-hal sepele. Percakapan berhenti sampai di situ dan mereka kembali membicarakan hal-hal lumrah dalam urusan kantor.

Sampai ketika pada Kamis sore, kalau tidak salah tanggal 12 Februari, Novi tiba-tiba menanyakan sosok Dewi kepada Badrun. Perlu diketahui bahwa Dewi adalah pegawai baru yang diterima bersamaan dengannya. Wajah wanita itu sebetulnya biasa saja, malah cenderung seram dengan kulit sawo ditambah rambut bondolnya. Namun beberapa kali ia memang terlihat sangat dekat dengan Novi. Sejak saat itu bisikan makhlus halus yang pernah terngiang di kepalanya kini semakin terlihat nyata.

Dan dari rumor yang berselentingan di sudut-sudut meja kantor akhirnya membawa Badrun pada suatu gagasan. Mungkin Novi menyukai Dewi, pun sebaliknya. Sejujurnya kali ini bukan dalam arti urusan kerja, atau kesopanan, dan lain-lain sebagaimana banyak pegawai baru lakukan. Namun suka sama suka dalam arti cinta. Sesuatu yang sebetulnya diharapkan mendarat pada diri Badrun.

Badrun kembali tidak percaya kalau langit mempermainkan takdirnya sebegitu bengis. Ketika itu ia mulai yakin bahwa Tuhan memang menuliskan takdirnya dengan tulisan-tulisan yang sangat buruk.

Peluang terbaik Badrun suatu hari datang dari seorang wanita bernama Jessica Stephanie. Saat itu sambil menyeruput kopi instan, ia iseng membuka laman media sosialnya yang tampak mulai usang. Entah mengapa ia tergoda pada rujukan menambah pertemanan. Nama yang terpampang begitu bagus, tanpa berpikir panjang Badrun pun langsung memencet tombol tertera. Selang beberapa mereka berteman dan mulai bertukar sapa. Dari situlah kisah cinta terbaik Badrun kemudian berlangsung.

Baginya, Jessica Stephanie adalah nama yang terlalu bagus untuk bisa dipamerkan di undangan pernikahan nanti. Tentu dengan begitu ia tidak hanya menyenangkan hati ibunya, tapi mungkin juga sanak famili. Layaknya sepupu, paman, maupun bibi Badrun yang datang jauh-jauh dari dusun kecil di Banten. Mereka pasti tersenyum lebar melihat saudaranya bisa mempersunting bule. Setidaknya walau bukan bule betulan.

Tampang Jessica memang tidak ada bule-bulenya, itu jika kita merujuk bule sebagai sebuah golongan yang berasal dari negeri barat. Wajahnya seperti perempuan Indonesia kebanyakan yang hitam tidak, putih pun mustahil. Kelebihan Jessica hanya terlihat dari gingsul manisnya yang menyeruak malu-malu ketika ia tersenyum. Mungkin selain nama, Badrun pun terpincut gara-gara itu.

Berawal dari obrolan dunia maya, Badrun terus mendekati Jessica dengan harapan kali ini tidak akan menemui masalah. Memang benar, sejauh itu masalah berarti belum pernah ia temui. Paling-paling hanya keblingernya Badrun mengeja nama Jessica, antara  huruf C-nya yang satu atau huruf S-nya. Perkara itu hanyalah persoalan sepele yang tak menghalangi langkah Badrun untuk menggiring Jessica ke dunia nyata.

Hampir tiap akhir pekan Badrun coba mengajak Jessica pergi. Entah itu makan malam di restoran romantis, ngopi di kafe dengan musik-musik lawas, atau belanja baju diskon di mal-mal kelas atas. Mulai dari bensin, parkiran, hingga jajanan yang ada, semua diurus oleh Badrun. Setidaknya itu usaha Badrun untuk membuat Jessica tetap lengket padanya. Tentu wanita mana yang menolak service seperti itu?

Sampai ketika Badrun merasa hubungannya sudah semakin dekat, ia tak mau melihat langit kembali merusuh dan merecoki perkara cintanya. Ia berniat melamar Jessica dan bergegas meminangnya secepat mungkin. Jessica mengiyakan namun mengikut syarat di belakangnya. Wanita metropolis itu meminta liontin, terserah bentuk apapun, dengan lapisan emas putih di tiap sisinya. Ia menyatakan itu sebagai tanda mahar jika memang Badrun serius ingin meminangnya.

Begitulah cinta kemudian membutakan Badrun. Tak hanya soal penglihatan, tetapi merambah sampai pemikiran. Tanpa omong-omong panjang lebar, ia langsung membawakan liontin itu sebagai wujud keseriusannya. Beberapa hari kemudian Badrun langsung mencetak undangan dan tak sabar melihat ekspresi saudara-saudaranya. Namun ketika semua hampir siap, Jessica tiba-tiba menghilang layaknya pesulap yang mampu lenyap dalam satu petikan jari.

Seolah tak hanya langit, kini bumi pun ikut-ikutan merecoki urusan cinta Badrun. Wanita itu hilang seperti telah ditelan bumi. Semua alamatnya yang diketahui Badrun tak menunjukkan hasil apapun. Kamar kosan yang biasa menampung wanita itu mendadak kosong tak berpenghuni. Hanya tersisa tisu dan pelembab yang berserakan di pinggiran dinding.

Badrun selesai. Sejak saat itu dirinya hanya bisa garuk-garuk kepala menghadapi perkara tetek-bengek percintaan. Ia mulai beranggapan bahwa jangan-jangan dirinya diciptakan tanpa tulang rusuk. Imajinasi kalut itu mulai menghantam pikiran seseorang yang sudah diterpa patah hati berkali-kali. Sungguh jika tiap cerita itu diingat-ingat kembali, pasti akan membuat hati Badrun semakin teriris.

Jika Anda masih kuat, sebetulnya masih ada beberapa cerita Badrun dengan wanita lain yang rasanya sayang jika dilewatkan. Tapi sebagai teman baik Badrun, tentu tak etis menceritakan yang lain-lain itu sekarang. Mungkin semuanya akan kuungkap jika Badrun telah berhasil mendapatkan cinta sejatinya nanti. Dan hal itu kupikir akan terjadi tidak lama lagi.

Dalam hitungan jam kisah cinta Badrun diyakini akan membaik. Ia sedang melakukan pertapaan di Goa Sirah selama dua hari, dan itu berarti tinggal sehari lagi baginya untuk bisa memetik hasil. Badrun, kuketahui, mengikuti anjuran tersebut dari sang paman yang ternyata seorang dukun ternama di dusunnya. Sang paman sepertinya tidak tega melihat keponakannya terus murung dan hanya memendam tangis di kantung matanya.

Mari kita nantikan saja kalau begitu, semoga Badrun tidak tiba-tiba terserang maag lalu menghentikan pertapaannya tersebut.