“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik – baik perhiasan adalah wanita shalehah.”

Betapa luar biasanya wanita shalehah dikatagorikan sebagai perhiasan terbaik. Namun, tak dapat dipungkiri, menjadi wanita shalehah tidak semudah membalikan telapak tangan. Tentunya ada serentetan pembenahan diri yang harus dilakukan hingga dapat dikategorikan sebagai wanita shalehah. Kali ini, penulis ingin mengajak bagaimana menjadi wanita shalehah dari segi pardah.

Pardah dalam bahasa arab diartikan sebagai hijab/pembatas. Secara fisik pada wanita dapat disamakan dengan memakai jilbab atau menutupi aurat.

Nah, di era saat ini, Alhamdulillah dengan karunia Allah Taala pemakaian jilbab sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan jilbab saat ini sudah menjadi trend di kalangan masyarakat biasa hingga kalangan  public figure. Secara kasat mata, mungkin pemakaian pardah sudah dilakukan setiap harinya.

Namun, ada PR besar dibalik kata pardah yang dinginkan oleh Islam yang sesungguhnya.

Islam dengan segala peraturannya mengajak umatnya untuk ada dalam zona yang diinginkan Allah SWT. Begitu pun masalah pardah, ada suatu hal yang harus dilakukan untuk menjaga pardah dalam diri setiap umat muslim.

Tidak hanya jilbab yang menutup kepala & seluruh aurat perempuan saja. Ada poin penting yang harus memisahkan hubungan antara laki – laki dengan perempuan dalam berpardah.

Hubungan komunikasi, canda tawa, hingga gurauan antara lawan jenis yang bukan muhrim dapat dijumpai di mana saja. Tak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun merupakan hal yang biasa.

Dan yang paling menyedihkan, karena sudah sangat percaya diri mengenakan jilbab, pergaulan dengan laki – laki yg bukan muhrim seperti dihalalkan. Lalu ke manakah esensi pardah yang sebenarnya?

Ingatlah para wanita, jika bukan diri sendiri yang menjaga kehormatan sebagai wanita dengan cara membatasi pergaulan yang tidak seharusnya dengan para lelaki, lalu bagaimana kita dapat dihargai? Alih – alih dihargai, para lelaki liar malah menyepelekan. Alhasil banyak tindakan – tindakan yang tidak mengenakan & merugikan.

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., mengingatkan “Saat ini orang – orang menyerang ajaran pardah, tapi mereka tidak tahu bahwa kalau ada pardah maka hal itu akan menjauhkan dari musibah. Dimanapun berkumpul seorang laki & perempuan maka yg ketiga adalah setan”

Selaras dengan Sabda Rasulullah SAW  “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dia disertai mahramnya karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR.Ahmad)

Itulah poin penting yang harus dicatat dan diaplikasikan para wanita. Jilbab yang sudah menjadi trend setter saat ini justru menantang para wanita untuk menjadikan jilbab tidak hanya dikenakan saja, namun diaplikasikan dalam pergaulan sehari-hari. Perkumpulan antara laki – laki dan perempuan untuk hal yang tidak ada manfaatnya dan tanpa mahramnya tidaklah relevan dengan sabda Rasulullah SAW.

Sejak lama Al-Quran pun memerintahkan masalah pardah yaitu dalam surah An-Nur ayat 31:

Dan katakanlah kepada orang – orang mukmin perempuan, hendaknya mereka pun menundukan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan kecantikannya kecuali apa yang dengan sendirinya nampak dari-nya….

Pandangan saja harus ditundukan. Bagaimana pergaulan yang tidak semestinya? Batasan pardah yang diinginkan oleh Allah Taala mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang dengan bersembunyi dibalik kata “hidup bersosial”. Namun, sadarilah, jika hal yang kecil saja tidak dapat dilakukan, bagaimana dengan hal yang besar?

Mari bersama, membenahi diri untuk menjadi perhiasan terbaik layaknya yang dinginkan Allah Taala. Pardah penutup aurat saja tidaklah cukup, mari batasi tingkah laku & pergaulan.