Tulisan ini berawal dari kegelisahan, kegetiran, terutama ketidakmampuan saya melihat dan membantu orang-orang terpinggirkan di negeri ini. Saya sangat merasa berdosa karena setiap hari harus melihat para tunawisma “tenggelam” di samping kantor tempat kami bekerja.

Saya merasa berdosa karena saya tak mampu menolong mereka. Saya belum punya apa-apa. Maka itu, tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka. Saya mengharapkan, semoga karena membaca tulisan ini, seseorang yang sudah kaya, terutama pemerintah berkenan memberi perhatian.

Tentang homeless atau tunawisma (orang yang tidak mempunyai tempat tinggal) memang menjadi fakta keseharian di lingkungan kita. Inilah ironi yang sulit dipahami. Cukup pikirkan, darimana logikanya negeri kolam susu, tetapi masyarakatnya harus meminum air tuba? Atau, yang lebih heroik, Indonesia adalah tanah airku, tetapi banyak masyarakat tak bertanah dan digusur dari tanah leluhurnya.

Belakangan, air pun harus dibeli! Sekali lagi, inilah ironi yang sulit dipahami.

Jujur saja, ini harus diungkapkan, setiap kali melihat para tunawisma dari balik jendela kantor tempat kami bekerja, saya merasa bersalah dan berdosa. Tak banyak yang bisa saya perbuat ketika setiap pagi, misalnya, mereka masih mendengus di pelataran gedung bertingkat. Ketika, misalnya, melihat mereka membuat fungsi parit menjadi toilet dan tak jarang orang lain memaki dan memaki. Ketika, misalnya, melihat nasi bungkus dan makanan bekas dikonsumsi.

Oh, tatapannya masih saja berbinar, tetapi itulah yang membuat saya getir. Sesedih itu dan di tengah kepungan makian yang acap, mereka masih tersenyum. Bagaimana kalau tak dimaki dan punya rumah, sudah pasti, mereka akan bahagia. Dan, saya berpikir bahwa dari kebahagiaan itu, lahirlah kelak anak-anak yang bahagia, yang menghormati, yang menyukuri kehidupan, bukan yang tawuran dan berandalan, bahkan yang memerkosa.

Ya, bajunya memang kupak-kapik. Alas tidurnya dari karton. Tetapi, senyum bahagia itu masih muncul. Tak usah bayangkan ada kelambu di sana. Tak usah bayangkan apakah mereka digigit nyamuk. Barangkali, nyamuk pun sudah terlalu kasihan melihat mereka.

Tak usah bayangkan adakah orang yang berbaik hati menyambangi dan memberi mereka makan (bahkan termasuk saya sendiri). Yang ada, orang justru merasa jijik dan menganggap mereka sebagai sampah peradaban.

Dari kenyataan itulah saya berpikir bahwa mungkin, salah satu yang pantas kita tangisi atas peristiwa kehilangan adalah hilangnya empati. Lagi-lagi, untuk ketiga kalinya saya ulangi kembali, inilah ironisme yang sulit dipahami. Secara visual saja, para tunawisma ini tidur di emperan gedung bertingkat.

Gedung ini sangat mewah. Bisa dipastikan, yang menyewa dan yang mempunyai gedung itu adalah orang kaya. Dan, sangat bisa dipastikan, bagi orang kaya di negeri ini, Indonesia memang adalah negeri kolam susu. Indonesia adalah tanah air. Indonesia adalah Ibu Pertiwi yang mengayomi.

Tapi bagi para tunawisma? Indonesia hanyalah sarang para penyamun, Indonesia menjadi neraka, Indonesia menjadi pemamah biak orang kecil. Lihatlah, alam sekitar kita menjadi musuh dalam gelap. Sesama manusia menjadi lawan yang saling menjungkal. Maka, brutalisme pun menemui definisi terbaiknya.

Darwinisme memuncak sesadis-sadisnya. Seperti kita tahu, pada darwinisme tema utamanya adalah persaingan. Tidak ada belas kasih. Tidak ada keluarga. Tidak ada agama. Semua melulu pembantaian sehingga siapa kuat, dialah yang menang.

Pada persaingan yang demikian, kita seakan dihalalkan untuk membantai. Kalau tidak mampu berserikat dan bersekongkol, kalau tak dapat mengiba dan membayar, maka kita akan menjadi tumbal. Singkatnya, jika tak membunuh, kita yang akan terbunuh.

Di mana hukum? Agaknya, tak berlebihan jika saya sebut, oh, persetan dengan hukum! Mencari hukum hanyalah utopia. Hukum tak lagi panglima. Hukum justru menjadi alat penjegal dan penjagal orang kecil, termasuk mereka yang pro pada orang kecil.

Hukum menjadi alat transaksi, bukan alat kontrol. Hukum bahkan sudah dibeli dan ada indikasi kuat bahwa itu dibuat semata untuk tameng dan formalitas. Jika tidak, hukum didesain untuk melindungi proyek orang-orang kuat. Maka lihatlah, pengeroposan anggaran sering kali condong pada orang kaya. Dalam waktu singkat, bangunan megah berserak. Tapi, pada saat yang bersamaan, bangunan reot ditumbangkan. Para tunawisma di usir dari rumahnya.

Masih untung kalau negara menjaga dan menempatkan mereka setelah digusur, seperti yang sudah mulai dilakukan oleh Ahok. Bagaimana kalau tidak? Dan, celakanya, mental kita masih lebih pada mental menggusur. Para gelandangan bagi kita ibarat kutukan yang harus dibasmi. Di sinilah hati saya meringis.

Saya melihat seorang tunawisma dengan langkah terseret-seret. Kakinya sudah bengkak dan ada gumpalan besar di sekeliling betisnya. Saya percaya dan orang sekitar juga berkata demikian, bahwa dia mengidap kanker.

Dia berjalan menuju emperan rumah tempat di mana dia biasa tidur. Setelah sampai ke tempat itu, beberapa temannya yang juga tunawisma langsung memapahnya. Karton dilebarkan dan dia disandarkan pada tembok gedung mewah itu. Sungguh kerja sama yang baik.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Inilah budaya tolong-menolong di antara sesama tunawisma. Inilah persaudaraan di antara orang-orang teraniaya. Selekas itu, tunawisma dengan “kanker” yang menggerogoti kakinya itu pun tersenyum dan sumringah. Penyakitnya seakan sembuh.

Hati Nurani Masih Ada

Tetapi, lagi-lagi, senyuman itulah yang membuat saya getir. Saya tak akan mengatakan bahwa saya telah pernah memberinya “sumbangan” karena meski itu ada, apalah artinya itu. Buktinya, dia masih berada di sana! Yang saya sesalkan adalah satu-satunya ironi itu. Mereka setiap harinya tergolek di emperan gedung mewah. Setiap harinya, mobil mewah juga berparkiran di sana.

Sungguh pemandangan yang luar biasa: ada goni-goni dengan tumpukan pakaian, ada barang butut (kita sebut botot) yang dicari seharian, dan pada saat yang sama, ada gedung dan mobil mewah.

Melihat itu semua, saya bertanya, di mana letak hati nurani? Apakah setiap orang juga sama seperti saya yang hanya memandangnya dengan penuh iba? Kalau demikian adanya, apalagi saya sudah bertanya di mana hati nurani seakan-akan saya sudah memilikinya, apakah itu artinya bahwa hati nurani hanyalah sesuatu yang beku? 

Di sinilah saya mengerti bahwa kita kebanyakan hanya berhenti pada tahap merasa. Kita belum bertindak. Saya tidak akan menghakimi siapa pun di sini, terutama orang kaya.

Saya hanya berusaha menggugah hati agar setidaknya orang kaya, yang setiap harinya melewati para tunawisma ini, dapat memperjuangkan mereka. Katakanlah itu dengan mengadukannya kepada pihak berwajib. Kalau orang kaya itu bisa mengegolkan izin perusahaannnya karena kekayaannya, apakah mereka juga tak dapat memberi energi yang sama agar pemerintah juga berkenan melihat mereka?

Sekali lagi, saya tak mau menghakimi orang pada posisi saya pun tak berbuat banyak. Saya hanya ingin menyuarakan agar pemerintah dapat menjenguk mereka. Berapalah biaya untuk “memandirikan” mereka? Barangkali, kalau pemerintah kreatif, tak usah melalui APBD atau APBN (yang sialnya digunakan untuk menangkapi, bukan membina para tunawisma), pemerintah mestinya bisa mengajak para orang kaya untuk berinvestasi di bidang amal.

Hati nurani masih ada, seperti yang saya rasakan tadi. Barangkali yang perlu adalah bagaimana mengonversi hati nurani tersebut menjadi tindakan yang nyata? Pada posisi inilah pemerintah harus hadir. Sebab, bukankah negara harusnya melindungi warga negara dan orang-orang terlantar? Saya mengimpikan suatu saat negara ini menjadi negara yang humanis.

Saya mengimpikan bagaimana pemerintah dapat mengonversikan hati nurani menjadi tindakan. Saya mengimpikan, senyum para tunawisma itu tidak lagi membuat hati saya getir. Bisakah pemerinta mengambil posisi ini? Semoga!

#LombaEsaiKemanusiaan