Pernah mendengar kalimat seperti ini, “Seorang perempuan, entah itu pendiam atau tidak, ia adalah penyimpan perasaan paling ulung.”

Pasti pernah, ya? Entah itu di lingkungan sekolah, rumah, atau di tempat tongkrongan sekalipun. 

Aku setuju, dan pernah melihat lagi merasakan hal tersebut. Bagaimana perempuan itu memang pandai dalam hal perasaan. Baik perasaan sayang, kasih, cinta hingga perasaan membenci sekalipun. Seperti saat kau membuat seorang perempuan jatuh ke pelukanmu, maka apa yang tidak ia beri? Bukan hanya separuh hatinya, namun seluruh hidup dan dirinya akan ia beri.

Namun, bagaimana jika kau menyakitinya? Sungguh, jika memang perempuan itu adalah seorang pemaaf, ia tak akan melupakan rasa sakit yang kau ukirkan. Sikap seperti ini, memang kadang membuat kita berpikir para perempuan adalah makhluk paling perasa. Kau sentuh hatinya, maka kau miliki dirinya.

Seperti kisah seorang perempuan yang aku kenal, ia bernama Raidah. Ia sungguh perempuan yang aku akui pandai menyembunyikan perasaannya. Ia tak pendiam, sangat cerewet dan terkadang judes pula. Namun, ia sangat baik. Sebaik hujan yang menurunkan air kala kita masih menunggu kapan kemarau berlalu. 

Ia asyik, dalam canda maupun tawa. Jika kau melihatnya, sedikitnya tak akan kau dapati rasa duka bersamanya. Seperti ia ditakdirkan untuk bahagia sejak lahir.

Tapi, seperti kalimat di awal, perempuan adalah penyimpan perasaan paling ulung. Ia jatuh hati, dan hanya aku yang mengetahuinya. Aku pun mengetahui itu bukan karena gerak-gerik, tingkah laku atau percakapannya. Aku mengetahui saat malam Jumat pertama di Bulan Agustus, ia membaca puisi di tengah malam. Ia menghayati itu dengan tangisan yang senyap. Air bah yang tak kunjung diredam, ia akan semakin bergejolak, bukan?

Namun, ia bernasib tidak baik. Kasih tak sampai, mengagumi tanpa dicintai. Raidah dimanfaatkan oleh lelaki yang ia kasihi sepenuh hati. 

Bagaimana tidak? Lelaki itu hanya menjadikan dirinya sebagai teman tidur setiap malam. Menjadi bantalan nafsu berahinya saja. Raidah yang teramat cinta, membuat dirinya buta. Ia menuruti saja. Tanpa alasan, tanpa tapi. Lelaki najis itu, dengan alasan harapan, namun dengan status yang tidak jelas, memanfaatkan dia. Jelas sekali, dengan nama persahabatan yang pernah terjadi sebelumnya.

---

Lelaki itu ingin berteriak kencang. Darah mengucur dari selangkangannya, deras merah menyala. Biji pelirnya hilang satu, dipotong dengan paksa. Raidah melihatnya dengan tatapan kosong. Tak ada lagi dendam di matanya, namun rasa ingin membunuh sudah menutupi segalanya. Mata, hati, dan rasa kemanusiaannya.

---

“Malam ini, kau bisa temani aku?” Dengan nafsu, lelaki itu meminta Raidah menemaninya. Berahinya sudah memuncak, dan ia tak bisa menahan lagi untuk bersetubuh.

“Tentu, kapan pun aku sanggup.” Raidah hanya menurut. Demi alasan cinta yang sudah tak lagi waras itu.

Mereka lalu bercinta hebat, seperti pemain film panas. Raidah yang diselimuti perasaan sayang hanya mengikuti gerakan nafsu yang diarahkan oleh lelaki itu. Dan, lelaki penuh berahi itu hanya memikirkan badan Raidah saja. Tak lebih dari itu. 

Mereka berpacu dengan hebat, mengejar kenikmatan semu di atas ranjang. Raidah menatap wajah lelaki itu. Lelaki yang ia rela beri tubuhnya, lelaki yang ia cintai sepenuh hidupnya, namun ia menyadari bahwa lelaki itu belum sama sekali mencintainya.

Di saat puncak klimaks, Raidah menyimpan satu pertanyaan besar: Apakah benar, ia akan mencintai aku jika terus seperti ini? 

---

“Aku mohon, ampuni aku. Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu.” Dengan mulut bergetar menahan rasa sakit, ia terbata-bata berbicara. Ia ingin melawan, namun tangannya terikat kencang di kursi.

Ia tak mengubrisnya, pun dengan telinga yang terbuka lebar seperti itu Raidah mesti tak akan mendengarkan. Seperti yang sudah berlalu. Tak ada lagi emosi dalam dirinya kini. Tak ada amarah, dendam, kesal maupun benci. Demi cintanya. Ia akan membunuh lelaki itu, untuk terus bersamanya, ia hanya butuh jasad tanpa perasaan.

Tentu, ini demi cinta yang tidak waras (lagi) itu.

---

“Akankah kau mencintaiku?” Suatu waktu di saat mereka selesai bercinta, Raidah bertanya akan hal itu. Ia tak bisa lagi menahan pertanyaan itu sendiri. Ia butuh jawaban.

“Kita ini teman, bukan? Saling mengisi kekosongan. Contohnya, dengan bercinta seperti ini. Masalah cinta itu, biar nanti kelak saja jika memang waktunya sudah tiba.” Dengan ringan, lelaki itu berujar. 

Raidah hanya tersenyum saja. 

“Baiklah, aku mengerti.” Ia tersenyum. Seakan puas dengan jawaban itu. 

Perempuan memang penyimpan perasaan paling ulung. 

---

Raidah mengajak lelaki itu ke rumahnya. Ia sedang sendiri, keluarganya pergi untuk liburan. Tentu dia diajak, tapi ia menolaknya. Ia ingin bertemu dengan lelaki yang ia cintai. Ia menghubungi lelaki itu, mengajaknya ke rumah. Untuk berbincang, untuk berbicara, dan ia akan menanyakan lagi tentang perasaan sebelumnya.

Lelaki itu datang, sesaat setelah ia dihubungi oleh Raidah. Apalagi, saat ia diberitahukan bahwa rumah Raidah sedang sepi. Baginya, rumah sepi adalah kesempatan bagus, bagus untuk bercinta sepuasnya. Tentu, dengan alasan tidak jelas, seperti yang ia katakan kepada Raidah.

Lelaki itu langsung membuka bajunya, dan menciumi badan Raidah. Raidah menahan geli dan rangsangan dari lelaki itu.

“Aku ingin berbicara, nanti dulu bercintanya.” Raidah sedikit mendorong lelaki itu.

“Tidak, sudah kepalang tanggung.” Lelaki itu lanjut menciumi Raidah. Raidah sedikit menahan tangis, ia senang bercinta dengan lelaki itu. Tapi, ia menyesal tidak sedikit memaksa untuk berhenti. 

Raidah terlarut dan tak bisa melawan. Baru kali ini ia merasa nikmat, sekaligus terhina. Raidah menangis diam, dan lelaki itu tetap menunaikan berahinya. Mereka bercinta hingga malam.

---

“Bangsattttt, bajingan, sakit! Ampun, kumohon jangan lagi! Brengsek lepaskan aku.” 

Derai tangis mengucur dari matanya. Lelaki itu berucap serampangan. Amarah, takut, kesal dan sedih bercampur aduk. Ia hanya bisa terdiam saat Raidah mulai memotong biji pelirnya satu lagi. Darah muncrat dari selangkangannya, tapi Raidah hanya menatap kosong. 

“Bunuh aku saja, jangan seperti ini. Raidah, kumohon bunuh aku.” Lelaki itu bergetar, sudah habis suara dan tangisnya. Ia tak berdaya, mungkin ia sudah pasrah akan kematiannya.

Raidah berdiri, sejenak pergi dari ruangan itu. Saat kembali, ia membawa sebuah sepucuk revolver dengan pelor terisi penuh. Sebuah Tipe 26 Revolver. Ia mengacungkan ke mulut lelaki itu, dan saat ia sudah menarik pelatuk dunia seakan berhenti. 

Kata-kata cinta, lalu keikhlasan, serta kasih sayangnya seakan berhamburan di depan mata Raidah. Lelaki ini adalah lelaki yang ia cintai. Hingga sekarang, walau ia sudah memotong dua buah biji pelirnya. Ia menangis dan mengangkat revolver itu ke langit. 

“Dorr.” Tertembak ke atas langit-langit, dan Raidah pingsan seketika. Ia tak sanggup membunuhnya. Namun, ia tak sanggup melihatnya hidup.

---

Lelaki itu tidak bisa menerima Raidah. Ia sudah memiliki tunangan. Ia akan menikah esok hari, dan sebelum ia menikah, bertemu dengan Raidah adalah hal terakhir supaya ia tidak menyesal. Ia ingin bercinta, sebelum menjadi orang baik. Tidak, suami yang baik bagi tunangannya.

Raidah tersenyum, dan tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap.

---

Lelaki itu terbangun, dan ia sudah terikat di kursi dengan Raidah memegang pisau penuh darah. Darah itu sangat segar, dan lelaki itu sadar saat ia sudah mulai merasa sakit di selangkangannya. 

Ia menjerit keras. 

---

Setelah ini, kalian akan bertanya apa yang akan terjadi, bukan? Bagaimana nasib Raidah atau biji pelirnya lelaki bejat itu?

Aku sudah katakan, perempuan memang penyimpan perasaan yang ulung. Aku bahkan tak tahu apa perasaan sebenarnya Raidah untuk lelaki itu. 

Ah, andai aku bisa bertanya. Aku akan bertanya pada Raidah sekali lagi. Sayangnya, kini aku sudah bahagia dengan lelaki yang aku cintai. Ia terbaring lelap di kursi sedari tadi. Haha, lucunya. 

---

Seorang perempuan berbicara sendiri ke arah cermin, sembari memegang pisau dengan kucuran darah yang sudah mulai mengering. Ia tertawa, dan mulai bercerita tentang seorang perempuan bernama Raidah dan kekasihnya yang bejat.

Jasad lelaki di sebelahnya mulai busuk, dan bau menyengat itu mulai menjalar. Tetangga mulai tahu, dan polisi berdatangan. 

“Bukan aku, tapi Raidah! Hahahahahahaha.” Ia tertawa. 

---

“Seorang perempuan, entah itu pendiam atau tidak, ia adalah penyimpan perasaan paling ulung.