Sebelum ia tersentak kaget, aku menghujaminya dengan sapaan “Saya suka dengan itu.” Sigap ia membalik badan sambil membetulkan topinya yang miring ke kiri lalu tersenyum. Garis usia senja nampak diwajahnya, hanya beberapa detik sebelum ia melanjutkan kembali berkhidmat dengan aktivitasnya. “ini belum selesai” ia menjawab sambil menarik garis kembali. Aku baru melihatnya hari ini.

Usianya mungkin tak lebih jauh dari orang tua yang ditingalkan anaknya di panti jompo. Atau mungkin dia penghuni panti jompo yang kabur, tak mungkin ada anak membiarkan orang tuanya berkeliaran sendiri di tempat seperti ini, itupun kalo dia tinggal di rumah.

Tak biasanya ada orang duduk disini, apa yang dilihat ? hanya pohon dan daun-daun kering yang berserakan. Suasananya juga terlampau sunyi untuk ukuran taman kota. Setiap hari, menjelang sore hanya ada beberapa orang yang lewat. Itupun bukan pengunjung, tapi mereka yang memotong jalan untuk pergi ke sebuah halte bus.

“Busmu akan lewat tiga menit lagi”

ia mengatakannya datar tanpa menoleh. Itu tanda, basa-basi normatif, sebuah isyarat halus untuk segera pergi dari sini karena terus memperhatikanya. Wajar saja, siapa yang tidak risih diperhatikan orang asing. Tak ada perkenalan hari itu, aku berlalu pergi dan dia yang terus mengurat garis. Waktu menguap begitu saja, menjadi gelap, merangkap dari sisi paling timur kota.

Esok harinya, ia ada lagi, mengaris-gariskan pensil diatas kertas. Kulihat masih sama, belum selesai. Dua tiga langkah, ia menyadari kehadiranku lalu menoleh. Tidak ada senyum disana, tatapannya kosong, aku terus saja berjalan hingga tiba dihadapannya dan memalingkan pandagan. Kami hanya bertatapan kurang dari sedetik lalu hilang. Ia kembali merunduk melanjutkan aktivitasnya, dan aku melanjutkan perjalanan.

“tunggu”

Suara parau terdengar dari belakang, berat dan datar, khas pecandu rokok dan pemabuk. Mencoba tak menggubris tapi kuurungkan, untuk siapa lagi kata itu dilempar, disini hanya aku saja yang lewat.

“ada apa ?”

“apa kau sudah beretemu denganya ?”

Dahiku mengkerut terheran-heran mendengar pertanyaan itu. Ia bukan orang yang kukenal, kemarin, pertemuan kami hanya seperhitungan menit, tak lebih. Lalu dia mengusirku, walau dengan pernyataan yang samar sesudah kupuji apa yang ia buat, lantas siapa yang ia kenal dan bertemu denganku kemarin.

“Bus sebentar lagi akan lewat, aku harus pergi”

Singkat saja kukatakan padanya, membuat dalih, lalu memalingkan badan mencoba tak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sambil berjalan pergi. Ia tak menahan, hanya kembali mengambar dan aku menaiki bus. Dari balik jendela, kupandangi sekali lagi sebelum hilang dibalik pepohonan, memikirkan siapa ia sebenarnya dan apa maksud dari pertanyaannya, ingatku kemarin tak ada orang baru yang kutemui selain dia.

**

Desahanku menguap dipenghujung malam, merangkak dari atas ranjang. Nafas kami saling memburu, berama cucuran keringat yang mengkilat ditimpa cahaya bocor dari jendela. Surga menjelma di kamar ini, kupandangi matanya dalam-dalam, sambil terus memeluk dengan erat. Ia pun ikut memandangiku, menyelipkan jemarinya di helai rambut dengan lembut. Kami satu malam ini.

“apa kau senang ?”

“tentu, aku bahagia”

Jawabku, menengok keluar jendela. Purnama sedang utuh dan kami selesai, aku duduk menyenderkan badan. Asap mengepul keluar dari bibir, kuulangi satu tarikan dan menghembuskannya kembali, bercak hitam melumuri tangan. Aku coba menangkap udara yang lewat melalui jendela, menarik napas dan memejamkan mata.

Ini malam yang panjang dan indah, kubuka kembali mataku, mengelus pangkal leher sambil menaruh rokok di atas asbak. Dengan tubuh masih telanjang, aku berdiri, membuang nafas perlahan dari mulut. Tiga langkah sebelum akhirnya kugapai kontak lampu. Sekarang yang kulihat bercak hitam, menggores-gores hampir disekujur badan, merambat dari dada sampai paha.

Begitupun yang kulihat saat membalikkan badan, kanvas tergeletak di lantai, puntung rokok di sembarang tempat, dua botol Rum dan tinta berserakan di atas ranjang. Ia telah lumer saat percintaan kami berakhir, ia tak pamit.  

***

“ia yang menggerayangi tubuhmu kemarin malam, lewat dari imajinasiku yang paling liar”