Rasanya berat, benar-benar berat, untuk menulis narasi dengan judul tersebut. Karena tak bisa di pungkiri bahwa saya sebagai seorang yang kelihatan gagah berani menuliskan narasi ini adalah sang pelaku atau salah satu objek dari judul tulisan ini.

Sepanjang perjalananku menjadi seorang anak manusia atau lebih tepatnya menjadi seorang perempuan, selalu kulihat bahwa perempuan adalah objek “luar biasa” untuk pandangan mata lelaki. Sekadarnya, perempuan bagai boneka porselen pajangan di toko-toko bagi para laki-laki.

Hal yang paling membuatku bertanya-tanya saat ini adalah mengapa ada tolok ukur perempuan sempurna di dunia ini? Saat menyalakan TV, yang kulihat adalah gambar seorang perempuan sebadan lengkap dengan branded-branded yang ia pamerkan, seolah-olah mengatakan, “Hai perempuan sekalian, merujuklah padaku, aku adalah gambaran perempuan yang seutuhnya.”

Para perempuan yang melihatnya berusaha bersusah payah menggapai angan-angan untuk menjadi perempuan seperti yang ada pada layar TV tersebut. Para perempuan mulai menghabiskan waktu dan uangnya hanya untuk mencapai target perempuan sempurna tersebut tanpa memahami bahwa mereka telah masuk dalam jerat kapitalisme, atau mereka bagai seekor burung dalam sangkar kapitalisme.

Perempuan sekarang tidak lagi terintimidasi secara verbal (fisik) melainkan secara non-verbal. Kapitalisme menjerat perempuan dengan terus-terusan menghasilkan produk-produk, seolah-olah perempuan sempurna adalah apa yang ditampilkan oleh mereka. Dengan cara begini, kapitalisme menjauhkan perempuan dari kesibukan menuntut ilmu dan belajar.

Para perempuan hanya sibuk menjadi seperti apa yang kapitalisme tujukan. “Kamu belum keren kalau belum begini, begitu, dan sebagainya.” Bayangkan saja, para perempuan sampai ada yang meninggalkan dirinya sendiri hanya untuk mengikuti selebriti-selebriti pentolan kapitalisme dengan cara operasi plastik. See?

Dengan gambaran-gambaran tersebut, telah sangat nyata terlihat bahkan sangat jelas bahwa eksploitasi perempuan tidak lagi dengan cara-cara kuno seperti perbudakan, tetapi dengan cara-cara yang lebih halus, membodohi perempuan dengan berbagai macam produk-produk kapitalisme.

Para lelaki juga akhirnya tak lagi mengingat bahwa perempuan seperti apa dan bagaimanakah yang harus saya dapatkan? Para lelaki akhirnya memasang tolok ukur perempuan yang sempurna baginya, ialah perempuan yang sesuai dengan standar model-model yang ditampilkan di TV, di iklan media sosial, dan di majalah. Para lelaki memedulikan esensi-esensi perempuan yang sesungguhnya, asalkan ia sempurna secara eksistensi ini sudah sangat bagus.

Mengapa? Mengapa kapitalisme melakukan hal yang seperti ini? Mengapa perempuan harus tersorot? Negara-negara berkembang adalah sasaran empuk bagi kapitalisme, apalagi para perempuannya. Pusat penjualan produk kapitalisme ada di negara-negara berkembang, dan konsumen terbanyak berasal dari kaum perempuan, apalagi perihal fashion dan alat kecantikan.

Jika para perempuan tersadar bahwa mereka telah dikurung di dalam sangkar kapitalisme, maka secara otomatis para perempuan meninggalkan kegilaan mereka akan menjadi perempuan sempurna. Mereka tidak lagi membuang waktu dan uangnya untuk membeli produk-produk kapitalisme secara gila-gilaan. Alhasil? Para kapitalisme mengalami penurunan profit.

Namun, kenyataan pahit harus tertelan. Hal ini telah menjadi kebutuhan para perempuan zaman sekarang. Buku-buku ditinggalkan, dibiarkan berdebu dan usang. Toko buku semakin sunyi penghuni. Toko fashion dan alat kecantikan semakin megah. Semua nyata kelihatannya.

Nah, berdasarkan data Kementerian Perindustrian Indonesia, Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam menjadi konsumen produk-produk kosmetik. Ia meningkat menjadi di atas 50%. Hal ini menjadikan Indonesia mengalami potential market bagi para produsen kosmetik luar negeri.

Sedang, bila dibandingkan dengan data konsumsi buku-buku bacaan di Indonesia, baik itu e-book, Indonesia masih tertinggal jauh. Bahkan konsumsi alat kosmetik dan fashion masih lebih unggul di Indonesia ini.

Bukannya tak ada jalan keluar dari permasalahan-permasalahan tersebut, jalan keluar ada namun tak tampak di mata para perempuan Indonesia. Satu-satunya kesimpulan dari tulisan remeh-temeh ini adalah Indonesia seharusnya lebih masif dalam mengampanyekan persoalan perempuan-perempuan di Indonesia, yang pastinya tidak meninggalkan budaya leluhur atau tidak melenceng dari ideologi Pancasila.

Para perempuan Indonesia sebaiknya diajari tentang bagaimana pentingnya kecerdasan dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan kecantikan fisik. Sebab, dalam membangun peradaban tidak membutuhkan fisik yang sempurna tetapi pola berpikir dan kecerdasan yang matang.