Beberapa hari lalu, saat beres-beres tumpukan buku yang berantakan di kamar, aku menemukan buku apik terbitan tahun 1996 dengan judul Bahasa dan Kekuasaan. Buku dengan sampul yang melapuk itu menarik-menarik tanganku untuk memahami isinya lebih dalam. Mengingat kondisi politik saat ini yang mulai kehilangan arah dalam komunikasi, terutama pada percaturan politik di desaku sendiri.

Aku memang tidak begitu memahami tentang politik dan segala tetek bengeknya kecuali satu hal, sebut saja itu seni komunikasinya. Bagiku, seni komunikasi menjadi bagian inti dari percaturan politik. Sebab dengan komunikasi, segala yang jelas menjadi tidak jelas; juga yang tidak jelas menjadi jelas.

Dalam kotak yang lebih besar, komunikasi juga menjadi inti dari setiap terbentuknya peradaban. Danarto dalam kumpulan catatannya pernah menulis tentang komunikasi dengan tajuk Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan begitu. Sebelum itu Cak Nun juga pernah menulis dengan tajuk Mbok Ya Anumu Itu jangan Dianukan ke Anunya Anu.

Keduanya bertutur soal komunikasi yang gampang-gampang tapi sulit, atau sulit-sulit tapi gampang. Ya, tentu itu terjadi dari berbagai faktor; bahasa yang digunakan, situasi, dan konteks komunikasinya, latar belakang komunikasi, latar belakang komunikator dan komunikan. Bahkan bergantung dari banyak hal lainnya.

Tapi bagiku, komunikasi menjadi suatu hal yang sangat ribet. Sebab aku masih anak-anak yang baru tahu terhadap masyarakat dan segala harapannya. Yang hanya terbiasa berkomunikasi dengan teman sebaya dan di bawahnya. Belum pernah berdialog dengan para kaum elite, orang tua, kaum hantu, dan kaum hewan. Jika itu harus terjadi, pasti aku menjadi serbasalah dan mandi keringat.

Memang komunikasi selalu terlihat sepele. Tapi kalau gagal, itu akan menjadi fatal. 

Ngomong soal komunikasi, aku ingat kisah Perempuan Penyihir dan Badut dari Athena. Kisah keduanya aku rasa akan menjadi sejalan dengan tulisan ini dari atas menyoal tentang komunikasi, yang sulit-sulit tapi gampang atau gampang-gampang tapi sulit itu. Ceritanya begini:

“Sebuah kerajaan di kota terpencil di Wirani di pimpin oleh seorang raja yang tangguh dan bijaksana. Di kota itu terdapat sebuah mata air yang jernih, yang kejernihannya begitu bening layaknya kristal, sumber tersebut menjadi satu-satunya sumber yang dijadikan oleh masyarakat, tentara, serta prajurit untuk minum.

Pada suatu malam, saat semuanya terlelap, datang seorang perempuan penyihir yang meneteskan tujuh tetes racun ke dalam sumber itu, kemudian berkata, ‘Mulai saat ini, siapa pun yang minum air ini akan menjadi gila.’

Keesokan harinya seluruh penduduk kecuali raja dan pembantunya datang berbondong-bodong untuk mengambil minum ke sana, akhirnya semuanya menjadi gila, seperti yang telah diramalkan oleh si perempuan penyihir itu.

Sejak hari itu penduduk tidak melakukan kegiatan apapun kecuali saling berbisik-bisik. ‘Raja telah gila. Raja dan seluruh pembantunya telah hilang ingatan. Sungguh kita tidak mungkin dipimpin oleh seorang raja yang kehilangan ingatannya. Kita harus menyingkirkannya.’

Pada malam itu sang raja memerintahkan untuk mengisi piala emasnya dengan air itu. Dan ketika air itu dibawa ke hadapannya, ia meminumnya dengan lahap, setelah itu ia memberikannya kepada para pembantu untuk diminumnya.

Seluruh penduduk kota terpencil di Wirani itu menjadi bergembira. Karena raja dan para pembantunya telah mendapatkan kembali ingatannya.”

Pada suatu tempat yang berbeda di desa kecil di Athena, hidup seorang lelaki gemuk, jelek, hidungnya pendek besar, rambutnya panjang dari pinggir tengahnya tumbuh rambut tapi tipis-tipis. Karena keadaan fisiknya yang demikian itu, masyarakat sekitarnya sering menyebutnya badut. Meski demikian, laki-laki ini mempunyai seni berdialog yang bagus.

Laki-laki ini dalam setiap dialognya dengan orang lain selalu memposisikan dirinya sebagai penanya. Setiap ingin memulai berbicara dengan orang lain ia selalu bilang, “Aku tidak tahu apa-apa, kecuali satu hal bahwa aku tidak tahu.”

Dengan kemampuannya dalam berdialog, ia menjalani hidupnya di pusat kota dan pasar-pasar untuk berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya. Ia pernah bilang, “Di pedesaan hanya ada pohon-pohon yang tak memberikan pelajaran apa-apa.” Ia selalu berdiskusi dengan siapa pun dengan maksud bukan untuk memberikan kuliah.

Setiap berdiskusi, ia selalu memulai dengan pertanyaan-pertanyaan, seakan-akan dia tidak tahu apa-apa. Ia tidak membatasi dirinya hanya mendengar lawan bicaranya. Jika demikian, dia tidak akan menjadi seorang pemikir yang masyhur dan mengalami hukuman mati.

Menyudutkan, melemahkan argumen-argumen para lawan bicaranya memang ahlinya dalam berdiskusi. Hingga lawan menjadi sadar mana yang benar dan mana yang salah. Baginya, dengan seni berdialog semacam ini, ia mengibaratkan dirinya sebagai seorang bidan yang tak pernah melahirkan anaknya sendiri.

Badut dari Athena ini membantu lawan bicara untuk melahirkan kebenaran-kebenaran berpikirnya. Sebab kebenaran berpikir itu harus tumbuh dari dalam diri sendiri. Ia tidak ditanamkan oleh orang lain. Dan hanya pemahaman yang timbul dari dalam itulah yang akan menuntun pada pola pikir yang benar.

Badut ini memang berlagak bodoh dan menjengkelkan di depan semua penduduk Athena. Jika kita diberi kesempatan bertemu dengannya pasti akan dipermalukan di depan banyak orang di pasar-pasar. Anehnya badut ini tidak merasa keberatan dengan semua yang dilakukan. Sebab usahanya yang demikian ini ia ingin menunjukkan agar mereka menggunakan akal sehatnya dengan benar.

Ia selalu berkata, “Athena ibarat seekor kuda yang lamban, dan akulah pengacau yang menjadikannya beringas.” Karena ia dicap sebagai pengacau oleh penduduk dan para petinggi Athena, akhirnya ia harus mati ditangan kebenarannya sendiri.

Misalnya kita yang bertemu dengan pengacau itu apa yang akan kita lakukan?

Komunikasi memang menjadi pemain inti dalam membentuk kemanusiaan. Jika komunikasi yang dilakukan itu salah, maka bersiap-siaplah pada kerusakan kemanusiaan selanjutnya.