Di penghujung dua tahun yang lalu, hampir semua ruang terbuka hijau di kampus satu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ditutup paving block yang kemudian bakal dijadikan tempat parkir. Sedangkan dalam UU No 26 thn 2007, secara khusus mengamatkan perlunya penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau, yang proporsi luasnya ditetapkan paling sedikit 30% dari luas wilayah kota.

Jika berdasar pada peraturan perundang undangan nomor 26 tahun 2007 mengenai penataan ruang dan peraturan menteri PU No. 05/PRT/M/2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau, maka ruang terbuka hijau di kampus satu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah masuk ke dalam kategori ruang terbuka hijau kelas private yang presentasenya 20% dari luas wilayah.

Luas kampus satu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah adalah 8 Ha, maka ruang terbuka hijau yang tersedia harusnya 20%, yaitu seluas 2,4 Ha. Sedangkan pada kenyataannya ruang terbuka hijau di kampus satu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah saat ini hanya 0,2 Ha.

Selain minimnya ruang terbuka hijau, juga terjadi pemborossan energi dikarenakan penggunaan lift yang kurang bijak. Dalam satu kali pengoperasian, lift menghabiskan 11.000 KW/4,158 kg batu bara. Jika dikalkulasikan, untuk 19 lift yang ada di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah membutuhkan energi batu bara sebanyak 143.388,6 kg.

Secara tidak langsung, setiap kali menggunakan lift, kita menyumbang emisi karbon sekitar 26,2 ton. Emisi karbon adalah zat yang menopang terjadinya pemanasan global. Jadi, menggunakan lift tidak bijak = menambah pemanasan global.

Dua aspek di atas adalah kriteria kampus yang bisa dikategorikan sebagai green campus. Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi, Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batuttah mengusung tema “’GREEN CAMPUS SEASON 2”, yaitu kampus yang nyaman, sejuk dan bebas polusi.

Mengadakan juga one day no lift dan taman viticulture dan mengajak para mahasiswa untuk bijak pada alam dengan cara tidak boros pada energi, membudayakan naik tangga, dan berjalan kaki.

Melestarikan Bumi Kartini

“Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya. Sekali jiwa diserahkan, selamanya tak akan pernah kita miliki kembali.” Sepenggal kalimat Kartini ini mendarah daging, perempuan yang dengan tulisan dan perjuangannya dapat mengangkat derajat Perempuan Indonesia.

Kartini tidak melulu perihal kebaya dan konde, karena Kartini adalah cita-cita terhadap kaum perempuan, supaya perempuan berpikir, supaya perempuan tidak hanya memikirkan dirinya. Begitu pun dalam bidang lingkungan hidup, perjuangan perempuan terkait penyelamatan krisis lingkungan hidup pun mulai diperhitungkan.

Perempuan berjuang dalam segala domain, berdiri lepas dari persoalan polarisasi antara domestik maupun publik. Perjuangan pun tidak dipandang sebagai kata khusus yang merujuk pada satu jenis kelamin, karena sudut pandang berakar dari pembentukan nilai yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Begitu pun dengan mahasiswa, tidak hanya berbicara tentang gaya fashion yang lagi nge-trend atau perihal warna gincu yang lagi hits di kalangan mahasiswa lainnya.

Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai otoritas penuh untuk berbicara isu lingkungan hidup–terutama dalam lingkungan kampus. Terlebih perempuan, karena alam memiliki hubungan erat dengan perempuan. Banyak kebudayaan nusantara yang menunjukkan bahwa perempuan menjaga alam bak menjaga anak mereka sendiri.

Perempuan secara kultural dikaitkan dengan alam. Ekofeminis berpendapat, ada hubungan kenseptual, simbolik, dan linguistik antara feminis dan isu ekologi (Tong 1998, h.359).

Perempuan Menanam di Atas Paving Block

Mahasiwa mendefinisikan sendiri perjuangan mereka, dari dalam kelas beserta tugas-tugas kuliah hingga bersapa dengan nasib ruang terbuka hijau kampus yang dijadikan parkiran.

Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batuttah dalam rangka Hari Kartini dan Hari Bumi 2017, “SAVE OUR CAMPUS, TOLAK RUANG TERBUKA HIJAU DIJADIKAN SEBAGAI PARKIRAN”, adalah isi spanduk yang membentang selama orasi di kampus satu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kalimat penolakan tersebut tidak hanya terdapat di spanduk, pembuatan viticulture yang dikhususkan kepada perempuan-perempuan menanam di atas parkiran juga termasuk dalam penolakan pengalih-fungsian ruang terbuka hijau.

Ada semacam harmoni yang diciptakan oleh para mahasiswa dalam menyambut Hari Kartini dan Hari Bumi tahun ini, yang tidak hanya menyoal kehidupan domestik dalam berorganisasi di dalam kampus saja, tetapi kolaborasinya dengan kesibukan domestik yang lainnya sebagai mahasiswa yang menghasilkan rajutan segitiga koalisi antara manusia dengan manusia dan juga alam lingkungannya.

Aksi kecil ini adalah sebagai bentuk perjuangan mahasiswa, terutama para mahasiswi atas ketidakadilan ekologi yang berada di lingkungan kampus, meneruskan cita-cita Kartini –perjuangan dalam bidang lingkungan hidup dan kemanusiaan.

“Karena kita tidak bergembira bukan karena memotong padi; kita bergembira karena memotong padi yang kita tanam sendiri”—Multatuli, menanam di tanah–lahan dan sawah, bukan di paving block.