Pintu kamar yang tak tertutup dan jendela yang lupa terkunci menggebrak tertiup angin. Rasa kaget membuat tangan yang mengetik seketika terhenti. Ide-ide yang mulanya lancar dan aman-aman saja langsung lenyap. Sebatang rokok pun sudah lama jadi puntung saking khusuknya mengetik.

Tampaknya memang bukan perkara mudah menyelesaikan tugas akhir ini dengan sesegera mungkin. Sebenarnya, membuat skripsi bukanlah pekerjaan sulit. Hanya saja, rasa malas itu selalu tampil setia menggoda. Lalu kututup saja file-file yang memanaskan isi kepala itu.

Kubuka folder lain. Saatnya merambah naskah-naskah berikutnya yang bisa melemaskan gemerunsung isi pikiran. Layar monitor pun terbuka. Sebuah barisan tulisan mecungul di layar monitor. Menyapa di dalam keheningan. Kulihat kepulan asap rokok lamat-lamat memantikkan nyala apinya.

Seorang perempuan berkaos oblong. Meniup-niup asap yang berasal dari rokok itu ke udara. Bau asap tercium hingga ke luar ruangan. Aku sedikit batuk, diikuti gemertak tuts-tuts keyboard. Perempuan itu memandangku sayu. Dari depan, rel kereta api masih sepi penunggangnya.

“Apa kau tahu? Hanya dengan merokoklah maka semua kegaduhan takdir ini larut dalam debu. Debu-debu jalanan...” ia berkata begitu rupa sembari mengepulkan asap rokoknya dengan gerakan lebih khidmat nan mantap.

"Kau tidak ikut merokok?" katanya. Aku menggeleng. Kembali ia menghisap rokok itu sangat halus. Asapnya melesat ke samping kanan begitu datang angin agak kencang. Tetapi, rambutnya yang keriting itu justru tetap tak bergeming.

Rambut gaya keriting mungkin agak rasis dalam pandanganku. Rasis karena rambutku sendiri juga berkeriting ria. Susah disisir. Panjang sedikit awut-awutan. Bandel dibikin rapi. Andai saja kau tidak merokok, barangkali rambut keritingmu dapat membuatku senang.

Oh, keriting rambut seorang perempuan ternyata malah terasa puitis. Diam-diam aku mulai menyukai gaya rambutmu itu.

"Apa tidak sebaiknya kau matikan saja rokokmu?" kataku. Dia malah tertawa terkekeh. Kurasa tidak ada yang lucu dari ujaran kata-kataku. Mungkin kau memiliki maknanya sendiri soal itu.

“Kamu perlu tahu, lelaki," katanya. Aku tersenyum geli saat ia memanggilku dengan sebutan lelaki. Ia memukul kecil ujung rokoknya yang mulai memanjang oleh sisa pembakaran di asbak.

"Memang apa yang perlu kuketahui?" tanyaku. Ia memperlihatkan rokoknya padaku. Seolah benda yang penuh makna.

"Boleh saja kau tak percaya. Tetapi hanya dengan rokoklah, satu-satunya tempatku berteduh dari gemuruhnya badai kehidupan. Aku jadi terlupa semua getir takdir yang membuat rasaku ini kian terkilir saja..."

Aku sebenarnya ingin tertawa dengan segala omongan kosongmu mengenai apa pun di balik keasyikan merokokmu itu. Kalau saja tak kulihat sorot matamu yang bersungguh-sungguh. Tetapi entahlah, rasanya tiba-tiba mulai ada yang menarik dari segala ucapan-ucapan kosongmu.

"Kalau saja. Kalau dulu aku bisa berpikir lebih jauh, mungkin takkan pernah semacam ini kejadiannya...” katamu kemudian.

Dua pandangan bola matamu tampak lalu-lalang. Menerawang. Seolah-olah di atas langit terdapat atap-atap yang indah kau pandang. Sepertinya memang rokok itu bagimu menyimpan banyak simpanan misteri. Membuatku ingin ikut merokok. Lidah ini lama-lama terasa pahit.

Tetapi di hadapanmu, aku tidak ingin memperlihatkan diriku yang juga suka merokok. Bagaimana pun, jujur saja, aku paling tidak suka melihat seorang perempuan merokok. Meski keinginan untuk menyulut rokok semakin menebal. Kalau tak karena gengsi, pastilah aku memintamu satu batang.

Lebih-lebih, semakin panjang dan melebar saja kau berbicara. Tanpa rokok, aku mulai dikepung rasa kantuk. Layar monitor mulai kelihatan remang-remang. Lalu menghilang dari pandangan. Namun telingaku masih lamat-lamat masih mendengar suara celotehmu.

Kepalaku goyang ke kanan, membuat kursi yang kududuki hampir saja roboh karena ikutan miring oleh goyangan tubuhku. Sontak aku membuka mata. Angkringan di sebelah rel kereta api itu pun kembali muncul di layar monitor.

Ingatanku kembali. Kembali teringat soal catatan skripsiku. Sejumlah file kubuka. Belum ada hal-hal baru yang perlu kutulis. Mungkin aku terlalu banyak kekurangan bahan sebagai referensi.  Sesekali muncul rasa panik. Tugas akhir itu bakal terlambat selesai.

Brrr!!! Blakk!!

Pintu maupun jendela kosan ternyata lagi-lagi lupa kututup. Aku bangkit dari meja komputer, menutup pintu dan mengunci jendela.

####

Meski sudah memasuki semester tua, tetapi diriku tetap saja menjomblo. Aku tak pernah berani mendekat-dekat, apalagi sampai nekat menembak seorang perempuan yang berhasil membuatku jatuh cinta. Kupikir, betapa indahnya menulis kerumitan tugas akhir ini jika ditemani oleh seseorang. Ah, khayalan yang sia-sia belaka, ha ha

Meski merasa jengah, kuhidupkan komputer butut itu dengan gontai. Berharap malam ini bakal lebih banyak gagasan. Setumpuk buku-buku referensi sudah kuhimpun tadi pagi dari perpustakaan kampus.

Cahaya semburat dari layar monitor. Tetapi sebagaimana malam-malam sebelumnya, pikirannya mendadak kribo begitu sejumlah file mulai terbukalebar-lebar. Ternyata memang tidak mudah menyelesaikannya. Aku tertarik kembali membuka file andalanku dengan judul panjang, Angkringan di sebelah rel kereta api kota itu.

Aku menemukanmu tetap asyik dengan sebatang demi sebatang rokok di tanganmu. Kali ini, aku terpaksa mengeluarkan simpanan rokok kesukaanku. Rokok berjuluk pituenem. Kau terbahak begitu melihatnya.

"Sejenis rokok yang berat," katamu meledek. "Tetapi boleh aku mencobanya?" katamu menambah ucapan. Kali ini aku yang terbahak. Ia menyodorkan bungkus rokoknya sendiri. Ia cuek saja, mengambil satu batang rokok pituenem. Lalu menyulutnya pelan-pelan. Ia batuk-batuk, namun tetap dihirupnya dalam.

"Apa kau pikir jatuh cinta itu sebagai suatu keindahan?"

"Ngapain mendadak seperti itu pertanyaanmu?"

"Duh, lelaki memang selalu begitu. Menganggap semua kata-kata sekedar ucapan omong kosong!"

Aku tertawa terbahak. Ucapanmu itu menurutku salah sasaran. Aku tidak pernah memiliki seseorang. Ucapan seperti itulah yang bagiku omong kosong belaka. Malah kupikir banyak perempuan hanya mengerti kata-kata, tetapi susah mengerti apa yang terdapat di balik kata-kata.

"Sepertinya kamu selalu tampil sendirian ya? Belum pernah punya seseorang?" Aku melongo. Tiba-tiba pertanyaanmu mulai menyengat. Kupikir aku tidak suka topik satu itu. Perlu kualihkan sesegera mungkin.

“Sobat, kurasakan engkau sangat menikmati asap rokokmu. Aku selalu jadi terbawa,” kataku. Mencoba mengalihkan. Kamu tersenyum kecil. Senyum yang tak dipaksa, tapi mengalirkan bara api yang tak bertungku.

"“Apa engkau tak tahu? Meski Cuma sebatang rokok. Dia adalah sahabat sejatiku. Mungkin posisinya melebihi seorang pacar, hehehe..."

"Haaa, ada-ada saja kau. Bagaimana ceritanya sampai kamu berpikiran sedahdsyat itu?"

Kamu pun bercerita begitu panjang di seperempat malam. Tentang sebatang rokok yang engkau anggap lebih mulia dari semua manusia. Tentang asapnya yang setia menemani untuk bercanda setiap saat. Dan tentang puntungnya yang selalu kau simpan.

Aku terkesima. Baru aku sadari, kamu punya kebiasaan menyimpan sisa puntungnya di dalam dompet. Ketika kutanya alasannya, kenapa puntungnya itu kau masukkan ke dalam dompetmu? Engkau tiba-tiba tersedak.  

“Engkau tahu? Sepotong rokok tak pernah menyakiti. Ia menemani ke mana pun aku pergi. Meski ke dunia lamunan sekali pun..."

Aku benar-benar terpana. Ada cerita di balik sebatang rokok? Lalu, meluncurlah kisah barumu tentang tentang lelaki-laki dan pertemuan dengan sepotong rokok bertambah kuat. Menurutmu lelaki diciptakan memang untuk membawa para perempuan di hamparan malam dan kemudian menengguknya habis.

Tanpa ragu kemudian engkau bercerita, bahwa pada awalnya kamu dan rokok saling bermusuhan. Bahkan, setiap kali melihat lelaki merokok, engkau selalu menghardiknya.

“Bahkan saya pernah menampar mulut seorang lelaki perokok,” tegasmu mantap. Tanganmu bergerak, menggambarkan gayamu menampar.  Hingga suatu waktu, datang seorang lelaki dalam hidupmu. Lelaki yang tidak perokok. Sama denganmu.

"Dia memang tidak mencintai rokok, tetapi seumur jagung hubungan kami, dia malah jatuh cinta pada perempuan-perempuan lainnya. Sejak itu, yeah, bisa dibilang, aku mulai jatuh cinta pada sebatang demi batang rokok. Menurutmu, itu keren bukan?"

Aku tidak menjawab. Lama aku terdiam. Diam-diam kepalaku mulai berdenyut. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Sesuatu yang membuat sadar. Betapa diri ini memang tidak jauh berbeda dengannya. Ketika seorang perempuan yang membuatku jatuh cinta, mendadak memiliki segudang alasan untuk meninggalkanku.

"Aku mulai ingat sekarang.." kataku kemudian setelah beberapa saat terdiam. "Kenapa akhir-akhir ini aku semakin khusyuk saja merokok dan selalu saja gagal mencintai seorang perempuan..."

Kau memandangku bingung. Mungkin kau heran tiba-tiba saja aku ingin juga menceritakan banyak hal.

"Ada apa? Dan kenapa dengan rokok? Apa kau sebetulnya membencinya?" tanyamu. Aku tersenyum kecut.

"Tidak sepenuhnya seperti itu sih sebenarnya..."

"Apa kau pun menyimpan suatu cerita tertentu?" katanya bertanya menyelidik. Aku mengangguk.

"Bisa dibilang begitu. Aku pernah ditinggalkan seorang perempuan, hanya gegara aku seorang pecandu rokok berat. Kepergiannya itu dengan berikut semua alasannya itu, malah membuatku semakin sulit berhenti. Apa kau tahu caranya menghentikan kebiasaan ini?"

Kau termangu. Aku melihat butir-butir bening menetes dari bilik-bilik bola matamu. Aku merasa bersalah. Mungkin ceritaku itu punya kaitan tertentu denganmu. Ah, entahlah.

"Sebenarnya itulah yang juga sesungguhnya hal sama kurasakan.  Rokok ini sudah terlalu lama menemaniku. Aku mulai sadar. Sesungguhnya, yang kubutuhkan bukanlah rokok ini, tetapi kehadiran seseseorang. Ya kehadiran seseorang..."

Kehadiran seseorang? Ucapan itu membuat gerakan tanganku di atas keyboard mendadak berhenti. Rasa-rasanya itu harus menjadi batas akhir dari gemeretak tuts-tuts keyboard ini. Oh, betapa tidak enaknya memenuhi diri ini dengan segala kumpulan khayalan demi khayalan. Sedang kenyataannya selalu saja berkebalikan.

Kucoba kembali memeriksa file demi file tugas akhirku. Kurasa, malam semakin ke pinggir. Besok masih ada lagi malam-malam berikutnya. Untuk melanjutkan pertemuan yang serupa denganmu. Pertemuan paling pinggir dari segala lebam alam lamunan.