Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena dia akan menjadi ibu (Dian Sastrowardoyo).

Perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga jadi ibu rumah tangga. Celotehan tetangga tanpa dasar ilmu yang jelas begitu enteng menyudutkan perempuan. Perempuan menjadi ibu rumah tangga tidak harus intelek sudah menjadi stigma.

Menyoal perempuan berpendidikan tinggi selalu berujung pro dan kontra. Ada kecaman, cibiran, dan tuduhan-tuduhan negatif terhadap para perempuan yang berusaha meningkatkan intelektualnya. Pun selalu ada dukungan dan hal positif untuk mereka.

Perempuan harus berpendidikan tinggi. Kenapa? Untuk berperan ganda sebagai istri dan ibu harus berilmu mumpuni. Loh, jadi istri dan ibu bisa serta-merta tanpa belajar, kan? Asal ada pasangan dan menikah, kan? Gundulmu!

Mau berpendidikan tinggi, kok dihalangi? Menjadi istri dan ibu butuh mental sekuat baja. Mental tidak bisa berkembang dengan sendirinya, melainkan butuh didikan dan pengalaman. Bisa diwujudkan dengan menimba ilmu dan memperkaya wawasan.

Selain itu, perempuan tidak hanya terbelenggu menjadi istri dan ibu. Dia tetap berperan sebagai dirinya sendiri. Dia layak mendapatkan apa yang diimpikannya. Jadi, perempuan memiliki tiga peran.

Bisa dibayangkan kompleksnya menjadi perempuan? Perempuan dengan tiga peran di pundaknya memiliki kehidupan yang sangat kompleks. Keadaan itu harus diimbangi dengan intelektual yang memadai.

Kata intelek memiliki arti daya atau proses pemikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan; daya akal budi; kecerdasan berpikir. Sedangkan kata intelektual memiliki arti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan.

Perempuan diharuskan intelek supaya terasah pemikirannya, berakal, dan cerdas. Sehingga saya berasumsi jika perempuan harus memiliki daya saring berupa pikiran yang didasarkan pengetahuan. Misalnya, cara menyikapi masalah dan pengambilan keputusan yang tepat.

Perempuan berpendidikan tinggi tak selalu harus nilai IPK-nya selangit, loh. Perempuan intelek terletak pada aspek pengembangan diri dan manfaatnya. Untuk memenuhi kedua aspek tersebut, perempuan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

Membaca dan punya semangat belajar

Buku adalah jendela dunia. Ungkapan tersebut bermakna bahwa dengan membaca buku, kita akan memiliki banyak wawasan dan pengetahuan seperti 'melihat dunia'. Informasi apa saja tersaji di dalamnya.

Zaman dahulu, masih banyak keterbatasan untuk membaca buku. Buku dalam bentuk tumpukan kertas hanya dapat ditemui di perpustakaan atau toko buku. Sekarang, buku bisa diakses kapan dan di mana saja melalui gawai. Buku-buku elektronik (e-book) tersedia di aplikasi perpustakaan digital, seperti iPusnas, Wattpad, iJakarta, dan sejenisnya.

Kemudahan ini seharusnya menjadi pemantik semangat belajar dan menambah wawasan bagi perempuan. Di kala padatnya kesibukan, bisa mencuri-curi waktu sebentar untuk membaca.

Menghargai diri sendiri dan orang lain

Meningkatkan daya intelektual sudah menandakan bahwa perempuan menghargai diri sendiri. Mereka memahami batas-batas hak dan kewajiban seorang perempuan. Sehingga tidak permisif dalam apa pun.

Perempuan yang intelek tidak hanya sebatas tahu hak dan kewajibannya, tapi juga memahami batas-batas milik orang lain. Tiap orang tidak bisa disamakan. Menghargai pendapat dan keputusan orang lain adalah contoh yang baik sekali.

Mandiri

Sebagai makhluk sosial, memang tidak bisa lepas dari orang lain dan masyarakat. Tapi, menyebalkan sekali jika apa-apa harus membutuhkan bantuan orang lain. Jangan manja, deh! Perempuan bukan tuan putri yang apa saja butuh dilayani. Iya, 'kan?

Kalau masih bisa dikerjakan sendiri, ya tidak usah meminta bantuan orang lain. Kalau misalnya berat untuk dilakukan sendiri, juga jangan malu minta tolong. Sesederhana itu, kok.

Selain itu, perkara perempuan berkarier juga erat dikaitkan dengan kemandirian. Saya setuju. Bukan masalah nafkah laki-laki tidak cukup atau ingin menyaingi pendapatannya, hanya saja kehidupan ini tak terduga.

Untuk berjaga-jaga dalam situasi itu, perempuan idealnya punya penghasilan sendiri juga. Apa salahnya perempuan ingin mandiri?

Fleksibel

Fleksibel artinya luwes atau mudah menyesuaikan diri. Menghadapi segala situasi yang tak selalu terkendali, perempuan harus fleksibel. Ini salah satu mengantisipasi gragapan atau kagetan dalam hidup.

Punya etika dalam berteman

Makin dewasa, katanya makin sedikit teman kita. Benar saja, mereka adalah teman-teman kita yang berkualitas. Buat apa banyak, jika menimbulkan efek negatif?

Pilih-pilih teman terdengar jahat sekali. Ya, akan jahat jika menilai sebatas cover-nya saja. Belum interaksi apa-apa sudah menghakimi. Itu yang tidak boleh.

Tapi, ketika sudah kenal dan ternyata dia tidak sesuai dengan diri sendiri atau bahkan merugikan, itu wajib pilih-pilih. Tidak jahat sama sekali. Karena perempuan harus punya proteksi diri.

Punya filter diri

Informasi datang mengalir begitu saja. Belum tentu benar atau tidak. Perempuan seharusnya punya filter atau saringan khusus untuk segala informasi yang masuk. Termasuk kebijakan dalam mengomentari segala sesuatu. Wajib hukumnya menjaga komentar, ya! Jangan semua hal mau dikomentari begitu saja tanpa tahu kebenarannya.

Apalagi mengomentari fisik (body shaming). Haduh, jangan, deh! Lebih banyak hal bermanfaat untuk dibicarakan daripada membicarakan keburukan orang lain.

Banyak tokoh yang memperjuangkan martabat perempuan. R.A Kartini yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi dengan mendirikan sekolah untuk mereka.

Dewi Sartika mendirikan 'Saloka Istri' atau sekolah khusus perempuan pada 1904. Tak hanya itu, perempuan kelahiran Bandung ini terus mengajarkan membaca dan menulis pada warga sekitar (timesindonesia.co.id).

Sekarang, Dian Sastrowardoyo banyak memberikan inspirasi kepada perempuan modern. Supaya tidak tergilas arus, harus berpendidikan tinggi. Tidak peduli akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga.

Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia, juga menekankan pentingnya literasi bagi manusia untuk mengambil keputusan-keputusan dalam hidup. 

Literasi tak sebatas membaca dan menulis, "Tapi kemampuan kita untuk mengambil apa pun dari segala daya yang ada di diri kita untuk mengolah itu menjadi informasi," kata presenter Mata Najwa tersebut (idntimes.com).

Banyak tokoh perempuan dengan gebrakannya yang menginspirasi perempuan lain. Mereka ingin perempuan juga berpendidikan tinggi dan berwawasan luas.

Bukan pilihan jika perempuan harus menjadi ibu rumah tangga atau mewujudkan impian diri (berkarier misalnya). Keduanya bisa dilakukan secara bersamaan. Perempuan tidak harus terkungkung stigma-stigma.

Pendidikan tinggi sebagai bekal diri untuk tiap-tiap keadaan dalam hidup ini. Perempuan dengan komplesitasnya, harus diimbangi bekal intelektual pula. Kenapa? Karena penampilan saja tidak cukup untuk mengambil keputusan-keputusan penting yang tetiba datang sewaktu-waktu.

Jangan biarkan siapapun mengatakan tentang apa yang bisa kau lakukan dan apa yang tidak bisa kau lakukan atau kau capai. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan jadilah sosok yang kau inginkan (Emma Watson).