Indonesia seolah terlalu luas jika dideskripsikan melalui kata, gambar, bahkan suara. Wilayahnya yang meliputi dua benua dan dua samudera itu memang tidak pernah lepas dari arus pembicaraan tentang beragam hal. Semuanya berlomba-lomba mencapai kepuasan setelah membicarakan Indonesia.

Indah. Salah satu kata yang mungkin tidak asing terdengar lagi jika dikaitkan dengan Indonesia. Pesonanya selalu merasuk ke dalam jiwa, merusak kegundahan sehingga digantikan oleh kebahagiaan. Pantainya banyak yang masih perawan—yang mungkin belum berhasil ditemukan oleh para crew acara televisi dengan rating tinggi itu. Padahal eksplorasi mereka sudah cukup dalam.

Ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke itu memiliki kisah masing-masing. Sebagian karena keindahannya, sebagian karena misterinya karena belum berhasil disentuh manusia, sebagian lagi karena hal-hal krusial yang sering dibicarakan terkait kemaslahatan masyarakat, seperti misalnya; pendidikan.

Hamparan alam yang memesona mendadak bisu jika masih banyak penduduk yang menempatinya tidak tergapai oleh pendidikan yang mapan. Alasan klisenya hampir selalu soal aksesabilitas yang sulit terjangkau. Dalam hal ini, diskriminasi terhadap sesama warga Indonesia terjadi. Sayangnya pemerintah terlalu sibuk mengurusi tetek bengek terkait isu-isu kontemporer timbang memikirkan generasi mereka selanjutnya—dengan catatan, secara merata.

Bicara soal pendidikan di kota-kota besar bukan lagi menjadi hal yang menarik. Indonesia bukan hanya Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta dengan segala hiruk-pikuk dan keriuhan suasana kota. Indonesia juga memiliki Mentawai, Sumbawa, Papua, Nias, dan berbagai daerah lainnya dengan segudang persoalan terkait pendidikan.

Sebelum bicara terlalu jauh, presepsi terkait pentingnya pendidikan perlu disatukan. Tentu semua sepakat jika pendidikan dikaitkan dengan kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan akan mengubah pola pikir suatu masyarakat dalam pembentukan karakter, mental, dan pada akhirnya akan berimbas pada kemajuan bangsa itu sendiri.

Keindahan yang digadang-gadang dinas pariwisata tentu akan semakin bernilai jika dibarengi oleh kemerataan pendidikan di seluruh pelosok negeri. Pada masanya, hal itu akan berpengaruh terhadap pengelolaan pariwisata itu sendiri. Tentu bukan hanya itu saja, namun menyoal bidang lain seperti sosial, ekonomi, dan politik.

Rencana pemerintah tentang Generasi Emas Indonesia 2045 merupakan hal yang besar dan akan sangat indah jika terlaksana. Pemberangkatan ribuan mahasiswa ke luar negeri setiap tahunnya seakan menggenapi angan akan kemajuan Indonesia di masa depan. Namun apakah itu sejalan dengan pendidikan dasar yang masih belum merata hingga ke daerah pedalaman?

Ketidakmerataan ini erat hubungannya dengan penyediaan fasilitas. Seperti di Mentawai, misalnya, sekolah pertama yang digagas oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) sejak 2009 ini masih belum ada sarana telekomunikasi karena tidak ada jaringan telepon.

Penerangan pun masih menggunakan lampu minyak. Di daerah Tinambu, gedung sekolah belum berdiri. Gereja pun digunakan untuk menampung para siswa. Karena masih banyak siswa yang tidak tertampung, sisanya duduk di lantai

Masih menyoal fasilitas, Provinsi Papua menjadi salah satu cerminan konkrit terhadap minimnya pelayanan yang diberikan pemerintah bagi kemerataan pendidikan. Lagi-lagi persoalannya masih bertumpu pada daerah terpencil.

Kesejahteraan guru dan kepala sekolah tidak diperhatikan karena pemerintah tidak menyediakan rumah. Hal ini berimbas pada tingginya angka guru dan kepala sekolah yang meninggalkan tempat tugas sehingga terbengkalainya tanggung jawab mereka dalam mengajar para siswa.

Jika menyorot kompleksitas permasalahan terhadap pendidikan memang dapat ditinjau dari beragam prespektif. Indonesia memerlukan pengorbanan yang sedikit lebih tinggi demi mewujudkan pendidikan yang merata bagi penduduknya.

Keindahan yang terlampau dibangga-banggakan tentang kenampakan alam akan menjadi bumerang jika sumber daya manusia yang dimiliki tidak sebanding dengan pariwisata yang memanjakan turis domestik maupun internasional.

Mengutip apa yang dikatakan Nelson Mandela, bahwa pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia. Maka kunci utamanya adalah kemerataan pendidikan sehingga—dalam konteks ini, Indonesia dapat mengubah dunia dari berbagai macam aspek. Indonesia akan lebih indah jika diselaraskan dengan pola pikir masyarakatnya yang semakin cerdas karena dididik dengan merata.