Jarum jam pun ikut bergoyang ketika dia mulai memasuki ruangan ini dengan busana putihnya yang lusuh, ia membawa obat penenang ketika aku telah memecahkan suasana di rumah sakit ini. Namun tanpa berpikir lagi aku membanting semua obat dan alat-alat yang ia bawak.

Perempuan kurus tinggi itu tetap tak peduli meski aku telah membanting obat-obatan yang ia bawak, namun ia tetap memungut kembali obatan itu.

“Bunuh saja aku, biar selesai semua tugasmu. Gangguan ini juga tak akan sembuh.”

Bentak aku ketika aku melihat perawat itu membawa suntikan dan obat-obatan, dan menyuntikkan antipsikotik itu padaku.

’’Siapa bilang gangguan ini tidak bisa sembuh? Dengan perawatan dan pemberian obat-obatan antipsikotik yang dikomendasikan dengan perawatan terapi psikologis gangguan jiwa ini bisa sembuh.” 

Jelas perawat jiwaku. Tanpa kata lagi ia keluar dari ruangan ini dengan wajahnya yang penuh kekesalan.

***

Sebenarnya aku tidak mengidap penyakit jiwa ini, tapi karena tuntutan dari istri dan anakku yang  tidak bisa melihatku berdiam diri di rumah dan tidak bisa menghasilkan uang, setelah aku tak lagi mampu menafkahnya selama 3 bulan lalu, karena sisa uang dari pekerjaanku sebelum di phk oleh perusahaan sawit itu.

“Mas, mau makan apa kita kalau setiap hari kamu hanya berdiam diri di rumah?”

“Anak kita butuh makan, uang jajan, bayar sekolah.”

Aku hanya terdiam, namun istriku tetap mengerutuk.

Karena tak sanggup dengan ocehan itu akupun sering memecahkan peralatan di rumah, dan mengamuk dengan anak dan istriku.

“Plak”, aku membanting piring yang berisi kopi tanpa gula itu, dikarenakan gula dirumah sudah habis.


 Ini membuat istri dan anak-anakku membenci, jiwaku tergoncang dan pikiranku mulai bercabang-cabang. Karena tingkah laku ini istriku tak sudi lagi melihatku di rumah ini. Dan membawa aku ke rumah sakit jiwa, ia mengira aku mengidap penyakit gila.

***

Tiga hari kemudian, sebuah kabar buruk mampir ketelinggaku, anak bungsuku meninggal dunia karena di tabrak truk saat pulang dari sekolah. Ini yang menggoncang jiwaku. Pada saat itu aku mulai sering menggamuk di rumah sakit jiwa ini, tak ada satupun perawat dan petugas di sini yang bisa menghentikanku, sehingga banyak perawat yang tidak mau lagi mengurusku.

 Lain halnya dengan Ajeng perawat yang selalu sabar dengan tingkah lakuku, meskipun aku sangat tidak suka dengan dia. Ajeng tetap berusaha menyakinkanku bahwa penyakitku ini akan sembuh.

Setelah berita kematian anakku itu, membuat hidupku tidak terurus lagi, badanku dulu yang berisi sekarang menjadi kurus, rambutku menjadi kribo, tanganku selalu berada di keningku yang mengkerut.

***

Setiap malam aku seperti mendengar gemuruh derap orang berlari menyerbu ruangan ini. Begitu kencang, demikian kuat, mengalahkan deru ombak sungai Batanghari. Kadang aku membayangkan pintu ruangan ini di dobrak.

Aku merasa istri dan anakku datang untuk menjemputku, dan mengajakku pulang lagi kerumah itu, karena setelah kematian anak bungsuku itu istriku tak pernah menjengguk ku disini.

“ Sri, apakah kau mau menjemputku, aku sangat merindukanmu,”

“Siapa Sri?”

“Kenapa kau memanggilku Sri?”

“Sri Istriku, aku kira kau adalah Sri yang inggin menjemput dan membawa aku pulang.”

“Sri Istrimu, kenapa dia tidak pernah datang menjenggukmu?”

“Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya”

“Dia tidak sibuk, dia sudah melupakan suami yang hanya bisa berdiam diri dirumah, dan tidak mau mencari pekerjaan”

Kata-kata Ajeng membuatku terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Aku tau Ajeng hanya ingin memancingku untuk menceritakan peristiwa-periswa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, agar dia lebih muda menyembuhkan penyakitku ini, selama ini, dia selalu bertanya tentang kejadianku bisa masuk kerumah sakit ini, namun aku tak menghiraukannya.

“Kenapa kau selalu ingin tau urusanku?”

“jika kau tak mau ceritakan, yasudah”.

“Apa kau tak mau sembuh?”

“Memang, setelah aku menceritakan ini semua penyakit ini akan pergi, dan istriku mau menerimaku lagi?”

“Jika kau percaya dengan aku, dan mengikuti perintahku”.

Ajengpun pergi dari ruangan ini, setelah memberi obat-obat antipsikotik itu padaku.

Suara-suara dari luar mendesak masuk kedalam kepalaku. Aku tak bisa kontrol lagi mana yang positif dan negatif. Begitu aku menyakini suara-suara positif sebagai sebuah keyakinan yang benar maka aku menganggap keyakinan itu salah. 

Jika ada orang lain yang berbeda keyakinan atau kepercayaan dengan prilakuku menaggangapinya denganku, perilaku ku menanggapinya dengan wajah dingin tanpa emosi, sinis, bahkan sampai benci dan menggangap sebagai musuh atau orang yang kapan waktu bisa menganiaya dan menguasaiku, begitupun sikapku dengan perawat itu.

***

Keesekkosan harinya perawat kurus yang berwajah terang yang membukakan pintu ruangan ini terlihat takjub begitu melihatku senyum kepadanya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan perubahan diriku ini, yang biasanya selalu berwajah sinis ketika melihatnya.

Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat ku persilahkan dia duduk di kursi sebelah tempat tidurku ini. Ajengpun merasa heran dengan perubahanku.

“Kenapa kau tersenyum melihatku?”

“Aku hanya kagum denganmu, kau yang bukan siapa-siapaku mau merawatku, dan ingin aku cepat sembuh, sedangkan istriku saja tak ada kabar bahkan ia sendiri yang menghantarku ke tempat ini”.

“Aku merawatmu, karena ini sudah tugasku, dan aku tau kamu itu tidak lah gila, tapi karena sikap dan pemikiran negatif mulah yang membuatmu seperti gila”

Akhirnya aku menceritakan semua peristiwa-peristiwa tentang diriku, setelahku menceritakan semua ini beban pikiranku mulai ringan, dan aku mulai percaya bahwa penyakitku ini bisa sembuh.

***

Tiba-tiba beberapa hari setelah aku menceritakan peristiwa itu aku mengamuk lebih dasyat lagi, karena kejadian beberapa bulan yang lalu itu masih menghantuiku, bahkan aku menampar Ajeng . dikarenakan Ajenng ingin menenangiku, aku tak sadar tanganku telah membuat pipi Ajeng merah. Dan Ajeng menyuntikkan obat penenang padaku, hingga aku terlemas.

Ajeng tak ingin menyerah begitu saja, tidak! Hidup terlalu menyesakkan hingga dia bersumbah akan membuat aku percaya, bahwa aku akan sembuh jika aku menuruti semua yang ia lakukan.

Ketika pikiranku mulai tenang aku keluar dari ruangan ini dan mencari Ajeng untuk meminta maaf, ketika aku berjalan melewati lorong rumah sakit itu, aku melihat Ajeng sedang menelpon seseorang, aku sedikit mendengar percakapan mereka.

“ Mas, jika kau benar-benar sayang padaku tunggulah aku beberapa bulan lagi, karena pasienku sudah mulai membaik.

“Sampai kapan jeng?”

“Sudah 6 bulan kau menunda  pernikahan ini, orang tuaku selalu menanyakan kapan aku akan menikah, tapi kamu rela menunggu orang gila yang belum tentu akan sembuh”.

Aku sangat merasa bersalah kepada Ajeng dia rela menunda pernikahannya demi kesembuhanku, tapi aku sama sekali tak pernah mendengarkannya.



***

Matahari menjemput pagi, awan biru berarak meretas bersama hembusan bayu. Pada suatu pagi di rumah sakit jiwa Pelita. Lenggang dan sepi masih terasa, satu persatu perawat dan pegawai di RSJ datang menunaikan tugasnya. Di ujung lorong, beberapa petugas kebersihan datang kebersihan sedang bekerja. Ada yang menyapu dan mengepel lantai, ada yang membersihkan kaca jendela dan pintu. 

Ketika matahari sudah sepenggalah, aktivitas makin ramai, rutinitas para pasien pun mulai berdenyut, suasana tenang sangat terasa, tak ada hiruk pikuk hilir mudik keluarga. 3 bulan masa penyembuhanku hingga hari ini saya sudah bisa pulang, setelah pengobatan yang diberikan perawat Ajeng dengan kesabaran dan obat-obatan antipsikotik dan psikoterapi. Selain perawat Ajeng juga paham akan ilmu terapis yang ia dapat dari almarhumah ibunya dulu yang seorang psikolog.

Disaat hari kepulanganku aku tak melihat Ajeng ada di sini, aku telah menanyakan kepada pekerja-pekerja disana  namun tak satu orangpun yang tau.

Hingga akupun pulang dan memulai hidup baru, aku tak pernah dapat kabar mengenai Ajeng. Dan aku mendatangi rumah sakit itu, tiba-tiba aku melihat seseorang wanita kurus tinggi mirip sekali dengan Ajeng, dan aku menghampirinya. Ternyata itu memang Ajeng, ia menjadi gila karena di tinggal nikah dengan pacarnya.