Entah harus memulai dari mana untuk menulis tema ini karena banyaknya isu yang berseliweran. Dimulai dari pengumuman kemenangan Pemilihan Presiden (Pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei 2019 dinihari yang dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Pengumuman ini diumumkan lebih cepat dari sehari sebelumnya seperti yang dijadwalkan semula, 23 Mei 2019. 

Kemudian hal ini menyebabkan sebagian orang merasa KPU curang. Lalu, sebagian dari mereka itu membuat kekacauan karena tidak merasa puas atau karena jagoan mereka kalah.

Semula saya mengira mereka hanya orasi di depan gedung Bawaslu. Namun ternyata demontrasi berujung pada kerusuhan atau makar pada pemerintah yang terjadi di Jakarta yang dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan hasil tersebut. Ini puasa brutal atau puasa batin? Puasa tidak sah kalau marah-marah.

Namun, setelah kejadian tersebut, untungnya Jakarta bisa kondusif lagi. Kita kemudian tidak dapat menikmati bermedsos ria. Pemerintah mengurangi akses internet untuk membatasi penyebaran hoaks yang dilakukan oleh kelompok perusuh yang melakukan tindakan makar di kantor Bawaslu Jakarta.

Padahal, di malam Rabu sebelum pemerintah memberlakukan pembatasan akses internet, saya sedang senangnya-senangnya membuat status, baik WhatsApp (WA) maupun Facebook (FB), tentang kemenangan Presiden Joko Widodo yang terpilih lagi, sehingga membuatnya bisa memerintah selama dua periode.  

Saya juga lagi asyik-asyiknya membalas chat, komentar, baik yang positif maupun yang negatif, yang ditujukan pada Jokowi. Misalnya, ketika saya menulis di dinding FB ucapan “Selamat pada Joko Widodo dan Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Indonesia telah memilih pemimpinnya”. Tak lupa menyertakan gambar mereka berdua yang ku-screenshot dari Instagram (IG).

Komentar teman-teman yang positif berkata, "Alhamdulillah, akhirnya Pak Jokowi lagi." Atau "ikut bergembira karena kita masih dipimpin oleh beliau." Namun, komentar yang negatif mengatakan, "sebahagian yang artinya tidak semua masyarakat Indonesia mau dipimpin beliau." Kemudian saya balas, "memang cuma sebagian tapi ini sudah terpilih." 

Kemudian teman tadi membalas lagi, namun saya belum bisa membuka FB sampai hari ini. Entah apa balasannya, saya cuma melihatnya di notifikasi bahwa teman tadi membalas komentarnya sendiri.

Lalu, seorang ex-mahasiswaku yang mungkin sudah sukses, saya bilang sukses karena ia tampak berfoto dengan istrinya di depan rumah mewah, juga mengomentari postinganku di FB tadi. “Orang Cina ya bu, mengapa memilih Jokowi?”

Langsung saja aku balas, "saya Mandar, saya Jokowi." Namun, masih dibalas oleh si Ex tadi. Katanya, "saya kira ibu orang Cina, karena Jokowi Cina. Saya memilih Prabowo." Aneh, masih banyak yang percaya Jokowi Cina, lalu mengapa pula kalau Cina? Pendidikan kewarganegaraannya tidak sampai ke ia rupanya. 

Lalu kubalas, "Prabowo itu yang Cina, makanya banyak-banyak membaca dik, biar punya referensi." Namun, ketika mahasiswa tadi membalas lagi, lagi-lagi saya sudah tidak membalasnya. Internet lumpuh.

Bukan cuma itu, ketika banyak status, baik di FB, WA, maupun IG, yang mengatakan bahwa KPU melakukan kecurangan dengan melakukan pengumuman Pilpres tengah malam, saya pun berusaha membendung narasi tersebut. Mulai dari narasi yang soft sampai yang keras.

Dari yang menulis status di WA dengan mengatakan, "sudah resmikah?; benaran nih?; pengumuman kenaikan BBM saja diam-diam, apalagi pengumuman Pilpres juga diam-diam, makanya, tidak heran." Atau yang lebih menyesakkan lagi, ada yang menulis, "jago betul, pencuri suara tadi malam." Sampai status, "pengumuman Pilpres dilakukan di malam hari karena kalau siang hari takut bohong, ini bulan puasa."

Saya jadi heran dengan pendapat mereka. Saya pun menulis status di WA, “Mau siang, mau malam, ini bulan puasa. Apa bedanya diumumkan siang atau malam, kita tidak boleh bohong, lho!" Disertai dengan gambar emotikon smile dengan satu mata tertutup dan yang yang satu terbuka. Dengan alasan, biar lebih lucu saja dan seru karena yang pasang status tadi rata-rata keluarga dan teman dekat.

Kemudian, FB, saya menulis hampir sama, “Katanya, mengapa diumumkan tengah malam karena mereka takut bohong kalau siang hari. Mau siang, mau malam, ini tetap bulan puasa. Logikanya di mana?” dengan latar belakang tulisan emotikon smile yang bermata cinta (love).

Respons suka sampai super berdatangan. Teman-teman pun mengomentari kolom komentar di FB, kata mereka, otaknya buntu; saya juga heran; sampai lawan, mbak; dan lain sebagainya. Namun, yang buat saya shock, post itu saya bagikan sekitar jam delapan malam, eh tiba-tiba kata adik saya, ada keluarga kami yang seakan-akan membalas status saya tadi namun di wall-nya sendiri dengan kata-kata yang hampir sama di jam sembilan malam.

Katanya, “Kalau siang dan malam di bulan puasa sama saja, berarti suami istri juga tidak bisa berhubungan di malam hari donk, kan’ sama-sama bulan puasa? Ke mana logikanya?” Saya berasumsi dia membalas statusku karena sebelumya ia juga yang termasuk menulis tentang pengumuman yang malam-malam itu karena KPU takut bohong kalau siang.

Ini benar-benar tidak memakai logika. Otaknya ke mana dan otak yang dipakai apa. Apakah Tuhan menyuruh kita berpuasa sehari-semalam tanpa ada waktu untuk jeda, berbuka? 

Tuhan tahu, kita punya batas kemampuan dan kebutuhan sebagai manusia. Apakah bukan bulan puasa kalau malam? Karena cuma siang kita berpuasa? Statusnya beda kasus, oi. 

Namun, yang membuat saya lebih jengkel, kenapa tidak kreatif sekali memasang status. Ia juga memakai latar gambar emotikon smile yang bermata cinta. Lalu seperti meniru saja juga dalam membuat kata-kata. Logikanya di mana?

Perang Narasi

Saya akan mengutip tulisan Mukarami, seorang penulis novel dari Jepang, “Kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu mengeluarkan darah.” 

Bagi saya, yang tidak ikut berdemo karena saya bukan bagian dari kaum makar, atau yang melawan pendemo secara langsung, saya bersama dan mendukung Polisi-TNI di Jakarta. Saya juga ikut berdemo di media sosial. Saya berperang dalam bentuk narasi (ujaran).

Ada status menarik juga di WA, “Tugas selanjutnya, merebut ‘narasi’ media sosial dan terus-menerus mengampanyekan Islam Moderat.” 

Saya setuju dengan tulisan ini. Namun, kita belum bisa merebut, kita masih fase melawan selama kaum sarungan, NU dan organisasi Muhammadiyah, ini tidak segera hadir lebih intens menyejukkan masyarakat karena bangsa dan negara ini darurat kewarasan beragama dan berpolitik.

Kita tidak saling punya adab pun etika ketika mengeluarkan narasi dan mempertahankan narasi. Kita akan terus-menerus berperang narasi di media sosial karena menganggap diri yang lebih benar dan lain adalah salah. Atau kita akan menganggap nilai-nilai yang kita anut benar padahal kita seharusnya mencari arti dan makna dari semua kejadian.

Terakhir, saya mengutip status WA seorang guru spiritual. Dia membagikan gambar tulisan Qs. Fussilat 41: Ayat 34, Allah SWT berfirman: "Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia." 

Kemudian status itu ditulisi, "sebenar apa pun kita (menurut persangkaan kita), dan seburuk apa pun orang lain (juga menurut persangkaan kita), tetaplah menolak kejahatan dengan cara yang baik."

Setuju, guru. Kita mau mendapat pahala di bulan suci ini. Bukankah bulan ini bulan beribadah puasa, salat, mengaji, bersedekah, dan lain sebagainya? Bukan dengan mengirim atau mendapat balasan di chat atau komentar yang menyakitkan hati. 

Berbalas-balaslah dengan baik, apalagi berbalas makanan untuk berbuka puasa. Bukankah itu berlomba-lomba membuat kebaikan sehingga menjadi pahala kita lebih banyak di bulan ini? Dan Allah akan memilih orang yang bertakwa, bukan yang berdemo. 

Tuhan saja Maharahman dan Maharahim, mengapa kita tidak mau menjadi manusia yang rahmatan lil alamin? Selamat berpuasa, baik siang maupun malam. Ini bulan puasa. Jaga Indonesia dengan tidak 'demo'.

Di bagian Indonesia yang Damai, 240519.