Jagat politik 2019 tak pernah sepi dari dunia peperangan wacana, baik di dunia virtual atau dunia nyata. Akhir-akhir ini perang wacana lewat sebuah film yang menggambarkan dua identitas politik. Hal ini menjadi media baru dalam dunia politik kita di mana film menjadi media untuk saling menegaskan eksistensinya. Peperangan idelogi, intelektualitas di era modern dimasifkan lewat media sosial karena proses lebih cepat dan lebih mudah untuk disebar.

Kedua film mempunyai kepentingan politik yang berbeda. Pada sisi lain, juga ingin menegaskan pada identitas politik dan kelompok politik. Merebut wacana seperti itu menjadi penting untuk menguasai ruang publik, khusus yang ditargetkan adalah para pemilih pemuda milenial.

Hal itu punya orientasi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 pada kedua paslon yang hari ini yang mengikuti konsteslasi politik. Keduanya mewakili identitas politik kedua paslon yang dimaksudkan nanti punya efek suara 2019. Bisa kita gambarkan, film Hanum & Rangga mewakili kelompok politik Islam” kanan” yang saat ini sangat getol mendukung pasangan Prabowo-Sandi.

Film A Called Man Ahok  juga tak bisa dilepaskan dari idenditas kelompok politik. Film ini mempresentasikan kelompok politik “Nasionalis” dan kaum minoritas. Walaupun dalam film ini sebenarnya tidak banyak menceritakan perjalanan politik Ahok, tetapi lebih pada perjalanan keluarganya. Film ini juga hanya menggambarkan bagaimana karakter Ahok terbentuk. Kelompok ini lebih dekat mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf karena kedekatan Ahok dan Jokowi tidak terpisahkan.

Wajar misalnya ramai di dunia medsos yang saling menegasikan dan saling klaim kedua para pendukung. Orang yang nonton salah satunya digambarkan sebagai salah pendukung pasangan Calon Pilpres  2019. Yang nonton film Hanum & Rangga dianggap menjadi pendukung nomor dua, yang nonton film A Man Called Ahok dianggap sebagai pendukung nomor satu.

Diperkuat lagi, keduanya melakukan upaya lain untuk dapat banyak penonton, misal apa yang dilakukan oleh partai politik PAN yang menginstruksikan seluruh kadernya PAN untuk menonton. Tak lepas di situ juga, Hanum Rais juga mengirim surat kepada Universitas Muhamammadiyah Surakarta (UMS) Solo kepada rektor untuk menginstruksi pada mahasiswa, pengawai, dosen untuk nonton film Hanum & Rangga.

Hal berbeda yang dilakukan pencinta Ahok yang biasa disebut Ahoker yang melakukan kampanye untuk menonton A Man Called Ahok. Di sinilah seni sudah tidak bebas nilai dari politik. Pada titik sini, seni dan identitas politik menjadi satu yang bermuara pada kekuasaan

Kendati antara Ahok dan Hanum sama sekali pun belum pernah apple to apple secara politik, namun membaca politik tidak hitam-putih dan sederhana itu, melainkan harus dibaca siapa yang membuat Ahok sampai masuk penjara. Selama ini, Amien Rais yang sekaligus bapak dari Hanum yang selalu gigih untuk mendorong Ahok harus dihukum lewat aksi 212 karena dianggap menistakan agama.

Sebenarnya film Hanum & Rangga sebetulnya bakal tayang pada 15 November 2018, tetapi kemudian dipercepat. Hal ini memperjelas bahwa film Hanum & Rangga takut kalah start pada film A Man Called Ahok. Walaupun sutradara film ini berdalih bagian dari strategi marketing.

Menurut analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komaruddin mengatakan, jadwal dipercepat sangat mungkin bermuatan politis: bahwa tak lain itu untuk menjegal popularitas Ahok.

Kabar terakhir, film A Man Called Ahok tembus satu juta penonton. Sedangkan film Hanum & Rangga menurut pemerhati film Indonesia 308.480 penonton. Itu artinya, film A Man Called Ahok lebih unggul daripada film Hanum & Rangga.

Adu kuat dua film itu sekali lagi menunjukan menguat politik indetitas 2019. Hal ini menjadi tantangan kita bersama, bahwa politik identitas sangat berbahaya bagi perkembangan demokrasi kita. Seharusnya yang kita bangun adalah demokrasi gagasan, proggram yang berpihak pada rakyat. Lagi-lagi, ini seperti politik balas pantun yang dilakukan Jokowi vs Prabowo yang tidak menjawab persoalan melainkan hanya politik retorika bukan politik yang substansi.

Mari kita semua menjadi pendukung yang cerdas, jangan sampai kita terjebak pada politik identitas. Jika politik identitas menguat akan menjadi ancaman bagi kita semua. Maukah demokrasi kita terancam? Tentu, jawaban tidak. Kita mau demokrasi yang sehat, stabil, dipimpin orang yang berkualitas.

Film A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga harus kita kesampingkan demi kepentingan bangsa. Jika hanya untuk menonton karena fans pada tokoh-tokohnya tidak jadi masalah apalagi dengan niat cinta pada film produk lokal, kalau hal itu saya akan cap jempol dan angkat topi.

Bro dan Sis! Yang bermasalah ketika kita menonton film itu karena identitas golongan. Yuk, bangun demokrasi kita dengan sehat.