Agar masyarakat beradab dan sejahtera terwujud, peran pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan tidak bisa dilepaskan. Bangsa Indonesia yang tersebar mendiami bumi Nusantara terdiri atas berbagai ragam suku, budaya, bahasa, dan agama. Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia itu merupakan kekayaan alam dan budaya yang sangat potensial untuk menjadi modal dasar dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

Akan tetapi keragaman itu tidak mustahil menjadi tantangan jika dalam implementasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terjadi perpecahan. Maka dalam hal ini bukan hanya pemerintah yang mempunyai peran tetapi juga masyarakat punya andil yang besar dalam menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, agar segala perbedaan itu dapat dirangkum menjadi sesuatu yang bernilai positif.

Selain itu, pemerintah juga harus menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Potensi yang sangat besar dalam menghambat tujuan hidup bersama adalah masalah agama. Contoh nyata yang terjadi dewasa ini yaitu konflik berbau agama yang terjadi di Tanjungbalai di mana rumah ibadah dibakar oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama tertentu.

Sungguh memang di luar akal sehat bahwa sekelompok orang melakukan aksi intoleran atas nama agama yang seharusnya agama itu menyatukan perbedaan-perbedaan bukan mencari perbedaan. Oleh karena itu, setiap pemeluk agama yang berbeda harus mampu menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar agar tidak terjadi perpecahan. Setiap umat beragama harus berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Partisipasi tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

(a) Mendoakan bangsa, masyarakat dan pemerintah.

Mendoakan orang lain,tanpa melihat latar belakang suku, ras, dan agama adalah salah satu bentuk mengasihi dan memedulikan orang lain. Dengan mendoakan secara tulus dan ikhlas menjadi pertanda bahwa kita telah berpartisipasi di dalam segala pergumulan bangsa dan negara.

Didalam Alkitab juga disebutkan bahwa kita harus mendoakan orang lain seperti Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Timotius,

"Pertama-tama aku menasehatkan: naikkanlah permohonan dan doa dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar agar kita hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (Timotius 2:1-4).

Semua orang harus kita doakan, supaya semua orang mendapatkan keselamatan. Jika semua orang telah mendapatkan keselamatan, maka peluang untuk menikmati kehidupan yang damai dan sejahtera akan terwujud.

J. Verkuyl mengatakan bahwa doa umat Kristen jika dilakukan dengan ketulusan hati dan dengan iman, sangatlah besar. Artinya bahwa doa adalah bagian pelayanan politis yang paling dasar yang dapat dilakukan oleh setiap orang terhadap pemerintah agar kehidupan yang damai dan tenteram dapat terwujud dengan baik dan benar.

(b) Taat akan hukum dan peraturan yang berlaku.

Hidup dengan taat terhadap hukum dan peraturan yang berlaku adalah penjabaran dan prinsip hidup Kristiani. Orang Kristen harus menjadi "Garam dan Terang" dunia sekitarnya seperti yang tertulis dalam Matius 5:13-14 dan menjadi berkat bagi orang lain seperti yang tertulis dalam Kejadian 12:2.

Rasul Paulus juga menjabarkan berbagai hal yang harus dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada hukum dan peraturan yang berlaku. Antara lain:

  1. Tidak melawan perintah yang sah.
  2. Membayar pajak dan cukai kepada pemerintah.
  3. Memberi rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerimanya ( Roma 13:1-7 ).

Ketaatan kepada hukum dan peraturan yang berlaku di masyarakat tidak boleh bertentangan dengan ketaatan kita kepada Tuhan Allah. Tuhan Allah-lah yang menjadi dasar atau patokan terhadap segala macam peraturan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Hukum dan peratutan yang benar adalah hukum dan peraturan yang tidak menyimpang dari rencana dan kehendak Allah.

(c) Menyatakan yang sebenarnya.

Konsep ketaaan terhadap peraturan dan hukum yang berlaku adalah kebenaran. Yang benar adalah yang bersumber dari kebenaran. Kebenaran adalah Firman Allah. Dalam menyatakan yang sebenarnya orang Kristen harus tetap berpedoman kepada apa yang telah dinyatakan Yesus dalam Matius 5: 37, "Jika ya, hendaklah kamu katakan ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat."

Segala bentuk pelayanan, persekutuan, dan kesaksian harus selalu berdasarkan kepada kebenaran yaitu Tuhan Allah.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius, memberikan beberapa sikap dan tindakan Kristiani dalam masyarakat yaitu:

  1. Jauhilah takhayul dan dongeng nenek tua.
  2. Beritakan dan ajarkanlah kebenaran Injil.
  3. Jagalah kemurnian dirimu.
  4. Nyatakanlah apa yang salah,tegorlah dan nasehatilah.
  5. Hiduplah dengan penuh kesabaran dan pengajaran.

(d) Menjauhkan sikap mental negatif.

Sikap mental yang negatif ini tampak dalam kesombongan religius, dan lebih tepat dikatakan sombong rohani. Sikap tersebut muncul adalah sebagai akibat dari timbulnya prasangka bahwa ajaran agamanya saja yang benar serta menganggap agama lain salah.

Hal inilah permasalahan besar dalam beragama. Tafsir yang salah akan ajaran agama akan menimbulkan dampak yang sangat besar karena bisa berpotensi menimbulkan doktrin yang salah sehingga otomatis implementasinya pun akan salah.

(e) Menjauhkan sikap yang menonjolkan kelompok mayoritas atau minoritas.

Di dalam kehidupan umat beragama, sering muncul sikap merasa lebih berkuasa karena dalil kemayoritasan sehingga mereka merasa bahwa yang layak diperhitungkan atau difasilitasi hanyalah kelompok mayoritas. Inilah yang menimbulkan adanya diskriminasi dalam hal hidup berbangsa dan bernegara.

Kita berbeda dalam banyak hal baik dari segi agama, harta, pendidikan, adat istiadat, suku tetapi di hadapan Tuhan kita semua adalah sama. Yang membedakan kita adalah iman dan perbuatan kita.