Paska konflik agama yang terjadi di Poso, rekonsiliasi di tempat tersebut masih menyisakan satu bagian lain yang penting, yaitu bagaimana melanggengkan damai di antara warga masyarakat yang telah mengalami trauma konflik? Dalam perjalanannya, muncul realitas bahwa perempuan dapat memegang peran signifikan dalam upaya perdamaian di Poso.

Perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca konflik. Secara budaya, masyarakat Poso sangat tergantung pada perempuan. Padahal, dalam kondisi konflik mereka adalah kelompok yang rentan jadi korban. Secara sosiologis, perempuan Poso adalah kelompok yang paling mudah membangun komunikasi yang kuat.

Perempuan menjadi aktor penting dalam hal ini karena mereka umumnya juga masih memelihara nilai-nilai lokal masyarakatnya. Hal ini dapat menjadi modal dalam mengembangkan dialog yang menjembatani antar perbedaan-perbedaan yang ada.

Menjawab kondisi demikian, Sekolah Perempuan Mosintuwu berdiri untuk memberikan pendidikan bagi para perempuan Poso. Untuk itu, menarik jika selain pendidikan tentang gender, HAM, politik, ekonomi, dll diajarkan di sekolah ini, pendidikan tentang perdamaian juga diajarkan.

Pendidikan perdamaian yang diajarkan nantinya akan berintegrasi dengan kearifan lokal yang ada di Poso, agar tercipta sebuah kesadaran untuk melestarikan lingkungan demi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan (sustainable peace).

Latar Belakang Sekolah Perempuan Mosintuwu

Sekolah Perempuan Mosintuwu didirikan oleh seorang aktivis perempuan di Poso tahun 2011 bernama Lian Gogali, yang pernah menjadi Ikon Pekerja Sosial tahun 2012 versi Majalah Gatra.

Sekolah itu dinamai Sekolah Perempuan Mosintuwu, karena merupakan bagian dari Institut Mosintuwu yang diketuainya, yang bergerak di bidang pemenuhan hak sipol dan ekosob bagi masyarakat, khususnya perempuan, di wilayah Poso. Nama Mosintuwu sendiri diambil dari bahasa Pamona (salah satu suku di Poso) yang berarti bekerja bersama-sama.

Seiring berjalannya waktu, sekolah perempuan berdiri setidaknya di 10 desa di tiga kecamatan. Antara lain, Kecamatan Lage, Kecamatan Poso Kota, dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Mereka terdiri dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori. Sekolah ini baru saja menyelesaikan angkatan pertamanya, yang belajar 8 modul kurikulum selama 10 bulan di sana, dan tahun ini masuk angkatan kedua.

Mengapa pendidikan perdamaian penting untuk perempuan di Poso? Paska konflik, rekonsiliasi di Poso masih menyisakan satu bagian lain yang penting: bagaimana melanggengkan damai di antara warga masyarakat yang telah mengalami trauma konflik?

Dalam perjalanannya kemudian, muncul realitas bahwa perempuan berperan sebagai kunci dalam membangun kehidupan baru di Poso.

Perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca konflik. Secara budaya, masyarakat Poso sangat tergantung pada perempuan. Padahal, dalam kondisi konflik mereka adalah kelompok yang rentan jadi korban.

Secara sosiologis, Perempuan Poso adalah kelompok yang paling mudah membangun komunikasi yang kuat. Kondisi itu menjadi sangat dominan ketika masyarakat mulai bergerak membangun diri mereka, baik secara ekonomi-politik-agama, dll. Menarik untuk itu jika pendidikan perdamaian diajarkan juga kepada perempuan di Poso melalui sekolah perempuan ini.

Mengintegrasikan Pendidikan Perdamaian

Pendidikan perdamaian adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk menanggapi masalah-masalah yang terkait konflik dan kekerasan, yang berskala global dan nasional menuju ke skala yang lebih kecil, yaitu lokal dan personal. Pendidikan perdamaian juga mencari cara-cara untuk menciptakan masa depan yang adil dan berkelanjutan (sustainable).

Pendidikan perdamaian akan melibatkan partisipasi dari para perempuan Poso dalam mengekspresikan pemikiran mereka dan bekerja sama antar sesama mereka untuk menghilangkan kekerasan dalam kehidupan individu, komunitas, maupun masyarakat.

Pendidikan perdamaian juga lebih efektif dan bermanfaat bagi masyarakat jika diintegrasikan dengan konteks sosial dan budaya lokal (local wisdom). Ia harus diperkaya oleh nilai-nilai kultural dan spiritual, bersamaan dengan nilai-nilai kemanusian universal. Ini adalah wawancara singkat penulis dengan Loreta Castro, yang mana pemikiran beliau juga dapat dibaca di Castro-Galace, 2010.

Education for Sustainable Development akan terwujud melalui program-program pendidikan perdamaian yang melibatkan partisipasi masyarakat, khususnya perempuan.

Perempuan menjadi aktor penting dalam hal ini karena mereka umumnya masih memelihara nilai-nilai lokal masyarakatnya. Selain itu, seperti sudah disebutkan tadi, perempuan Poso mudah membangun komunikasi yang kuat. Ini dapat menjadi modal dalam mengembangkan dialog yang menjembatani antar perbedaan-perbedaan yang ada.

Perempuan Poso juga akan belajar untuk mengerti hubungan saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungannya (alam) dan paham akan perubahan-perubahan yang diperlukan untuk memastikan keberlangsungan ekosistem bumi, yang mana tetap akan berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan manusia sekarang, dan di masa depan.

Proses intervensi sosial yang akan dilakukan terhadap kaum perempuan di Poso sendiri akan bermanfaat terhadap mereka karena melalui pendidikan perdamaian mereka akan mengalami perkembangan wawasan dalam hal pencegahan konflik (conflict prevention).

Intervensi sosial sendiri direncanakan untuk suatu kegiatan berjangka panjang, bertahap, dan berkelanjutan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan harus spresifik dan diukur keberhasilannya. Kegiatan intervensi harus sejak awal diniatkan untuk meningkatkan kapasitas dan kesadaran pada diri seseorang atau kelompok sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan martabat diri dan kelompoknya.

Diharapkan sekolah perempuan ini akan terus berjalan dan eksis, walaupun potensi munculnya konflik tetap ada di Poso. Untuk itulah, intervensi sosial diperlukan agar sekolah ini dapat berjalan dalam waktu yang panjang, bertahap, dan tentunya berkelanjutan.

Penting juga kita bahas di sini adalah bagaimana mendesain program kurikulum pendidikan perdamaian di Sekolah Perempuan Mosintuwu. Saya rasa integrasi dengan kurikulum yang sudah diajarkan di sana, seperti Toleransi dan Perdamaian,  Gender, Perempuan dan Budaya, Perempuan dan politik, Hak layanan masyarakat, dan Manajemen ekonomi keluarga dan komunitas lebih penting, apalagi ditambah muatan budaya lokal yang inheren di dalamnya.

Akan tetapi, perlu juga menambah dua atau lebih materi pendidikan yang secara khusus membahas pendidikan perdamaian, seperti Education for Mutual Understanding, Conflict Resolution Education, dll.

Selain itu, kegiatan di sekolah perempuan diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, serta menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), misalnya.

Pendidikan perdamaian bisa dimasukkan ke dalam kegiatan-kegiatan seperti tadi, contohnya menonton film yang terkait upaya-upaya perdamaian, atau juga kunjungan ke rumah ibadah agama lain di mana hal itu mengajarkan sikap toleransi beragama.

Dalam hal ini peran kearifan lokal sangatlah penting, seperti istilah sintuwu maroso, yaitu salah satu sistem nilai kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Poso. Sintuwu Maroso dalam perkembangannya dimaknai sebagai suatu pengikat hubungan tali persaudaraan antara sesama.

Sistem tersebut tetap dipertahankan secara turun temurun dimanapun penganutnya berada, walaupun ditanah rantau sekalipun. Hingga saat inipun falsafah tersebut dilestarikan sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat di Poso

Pendidikan tentang lingkungan hidup juga bagian dari pendidikan perdamaian. Efek dari kerusakan lingkungan sangat terasa dewasa ini, pemanasan global adalah contoh paling nyata. Cara hidup masyarakat yang masa bodoh dengan alam, termasuk paradigma bahwa pembangunan lebih penting daripada lingkungan, harus dirubah karena sikap seperti ini yang akan memicu munculnya konflik.

Salah satu istilah kearifan lokal di Poso adalah membetulungi mombepalae, yang artinya kepedulian sosial. Harus ada kepudulian masyarakat terhadap lingkungannya, karena manusia dan alam pastinya berjalan seiring.

Untuk itulah, pendidikan perdamaian harus mampu menciptakan sebuah kesadaran untuk melestarikan lingkungan demi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan (sustainable peace). Masyarakat secara personal harus diajarkan untuk hidup “socially green”, contohnya seperti melakukan recycle, re-use, dan reduce.

Keberadaan Sekolah Perempuan di Institut Mosintuwu sangat membantu dalam pelaksanaan pendidikan perdamaian karena kurikulum yang diajarkan, selain pemberdayaan perempuan dalam skala luas, tetapi juga pemuatan unsur atau kearifan lokal di sana.

Proses integrasi dengan konsep dan budaya lokal Poso, terkait perdamaian, saya rasa akan semakin menguatkan signifikansi dari pentingnya kurikulum pendidikan perdamaian dimasukkan dalam sekolah perempuan tersebut.

Adanya pendidikan perdamaian di Sekolah Perempuan Mosintuwu ini juga membantu PBB dalam mensukseskan Millenium Development Goals (MDG’s), yaitu terkait kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan memastikan kelestarian lingkungan. Semoga eksistensi sekolah ini semakin terlihat dalam upaya mulianya membawa pesan damai di tempat yang dahulu pernah terjadi krisis kemanusiaan yang sangat besar. #LombaEsaiKemanusiaan