Hari-hari ini dunia seperti tanpa batas. Satu kepada yang lain tampak terbuka. Pada titik inilah sebetulnya kita telah tumbuh menjadi masyarakat global, sesuatu yang kemudian kita pahami sebagai globalisasi.

Adaptasi historis berupa perjumpaan dengan sejarah kekerasan peradaban, pemusnahan dan kebencian manusia, kemiskinan serta ketimpangan ekonomi telah membawa kita kepada suatu pikiran bahwa persoalan kita sebetulnya adalah persoalan bersama dan akan lebih mudah bila diselesaikan secara bersama.

Kita menjumpai dunia yang oleh Edward Lorenz (1972) disebut sebagai dunia berbentuk efek kupu-kupu (Butterfly effect). Kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. 

Artinya bahwa sesuatu yang terjadi pada suatu negara dapat juga menyebabkan efek kepada negara lain. Kita dengan yang lain adalah sebuah keterikatan yang saling memengaruhi, meski itu dalam sebuah masalah sekalipun.

Kesadaran bahwa sebetulnya kita memiliki persoalan bersama dan harus diselesaikan secara bersama bisa kita lihat di dalam wujud Sustainable Development Goals (SDGs) dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Untuk menjamin globalisasi tetap berlangsung, kepada kita diharuskan untuk menerima kondisi perbedaan yang nyata dan memahaminya sebagai kondisi percakapan bersama.

Kemerdekaan diri tidak boleh dihalangi oleh kekuasaan politik apa pun, apalagi bila sumber kekuasaan itu berasal dari doktrin-doktrin komunal. Di sinilah titik persoalan kita sebagai perawat muslim, di satu sisi kita terlibat langsung di dalam globalisasi, di sisi yang lain kita memiliki asal-usul yang kental dengan nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi.

Pertanyaannya, dapatkah kita mewujudkan itu? Bisakah kita tetap menjadi perawat yang terlibat di dalam globalisasi tetapi hidup dengan nilai islami? Atau yang lebih revolusioner, apakah justru melalui nilai islami seorang perawat mewujudkan cita-cita MEA dan mengimplementasikan harapan SDGs?

Islam, Globalisasi, dan Keperawatan

Menurut Azzouzi (2013)agama dan globalisasi adalah dua hal yang terlibat dan berhubungan secara terus-menerus membentuk ikatan yang fleksibel. Agama tidak lagi hanya berada di rumah-rumah ibadah dan alam batin pemeluknya,tetapi dipraktikkan dan disebarkan di seluruh dunia tanpa ada batasan geografis.

Dalam globalisasi, agama ada di dalam kontradiksi; agama akan berbenturan dengan nilai-nilai kehidupan baru, sesuatu yang oleh Karic (2002) disebut sebagai “legitimasi tuntutan multi-budaya yang mengglobal”. Pada kesempatan yang lain, agama juga menjadi mudah untuk disebarkan dan mencapai setiap bagian dari dunia karena ketiadaan batasan yang jelas (Karlsen, 2002). 

Pada dua situasi di atas, Daun & Arjmand (2005) mengatakan bahwa penting bagi seorang muslim untuk menemukan keseimbangan optimal di antara dua persoalan pokok itu.

Dalam laporan Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life (2009), didapati bahwa Indonesia menempati urutan pertama jumlah penduduk beragama muslim di dunia dengan populasi sebanyak 203 juta orang dan di ASEAN jumlah muslim mencapai 50% dari 629 juta penduduk.

Banyaknya jumlah penduduk muslim di ASEAN dapat dilihat sebagai peluang bagi perawat muslim untuk mengimplementasikan ilmu keperawatan yang berasaskan nilai Islam, baik itu dalam MEA melalui pemanfaatan tenaga perawat di dalam jasa pelayanan kesehatan maupun mewujudkan cita-cita dunia pada bidang kesehatan dalam SDGs sebagai kerangka kerja untuk 15 tahun ke depan hingga tahun 2030.

Agar keterlibatan perawat tampak nyata dalam usaha mewujudkan cita-cita SDGs dan MEA, perawat perlu memberikan tindakan keperawatan berkualitas tinggi untuk pasien dengan kesadaran iman Islam. Perawat perlu memahami implikasi dari nilai-nilai spiritual dan budaya dalam praktiknya, perawat harus menyadari kebutuhan akan privasi, serta penggunaan yang tepat akan sentuhan, kebutuhan diet, dan penggunaan obat-obatan (Rassool, 2014).

Dalam penelitian Van (1997), ditemukan bahwa adanya keterlibatan kebutuhan rohani oleh pasien dalam perawatan yang meningkat dari waktu ke waktu. Kebutuhan rohani itu berupa pencarian makna hidup, mencari pengampunan dan kebutuhan akan cinta dan harapan.

Sebuah studi kualitatif fenomenologis oleh Wright (2002) dalam Mohammad, Sheila, & Mahvash (2005), yang melibatkan 16 partisipan menyimpulkan bahwa bimbingan spritualitas dalam perawatan sangat dibutuhkan pasien.

Selanjutnya, menurut Wright (1999), spiritualitas dapat dilihat sebagai nilai-nilai yang menentukan proses bagaimana kita berinteraksi dengan dunia; sedangkan agama dipandang sebagai jalur untuk mengimplementasikan suatu bentuk iman tertentu. Baik agama maupun spiritualisme, keduanya dapat menjadi satu kesatuan juga keterpisahan.

Dalam pemikiran ulama Islam dimensi spiritual adalah bagian paling penting dari manusia (Sobhani, 1997). Karena tidak mungkin bagi manusia untuk memiliki kehidupan yang sehat tanpa spiritualitas (ide, keinginan, dan iman). 

Biasanya perawat merawat individu (pasien) dari berbagai agama dan budaya. Dan karena tidak mungkin untuk menjadi benar-benar berkenalan dengan semua agama dan aturan mereka, disarankan agar kebutuhan rohani mereka harus dinilai secara tepat agar adanya langkah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan rohaninya itu (Taleghani, Alimohammadi, Mohammadi, & Akbarian, 2013).

Dari sudut pandang ulama Islam, seorang perawat memiliki tugas tidak hanya melayani semua manusia tanpa memandang etnis, kebangsaan, dan kriteria materi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan spiritual pasien dan berusaha untuk memenuhinya. Dalam pandangan ini, salah satu poin yang paling penting bahwa dalam memberikan asuhan keperawatan yang holistik perlu melibatkan kebutuhan spiritual pasien (Javadi, 1999).

Dalam penelitian Taleghani, Alimohammadi, Mohammadi, & Akbarian (2013), ditemukan bahwa ulama Islam menganggap keperawatan adalah profesi yang memiliki atribut dan nilai islami. 

Asadi (1996) mengatakan bahwa dari sudut pandang ulama Islam, keperawatan adalah pekerjaan yang terhormat dan merupakan bentuk ibadah. Selain itu, sejarah Islam juga menjelaskan bahwa nabi sering merawat pengkikutnya yang terluka di masjid-masjid karena menganggap manusia adalah karya dan khalifah Allah di bumi

Gagasan di atas tentunya akan menguntungkan perawat muslim dalam memberikan tindakan perawatan di dalam era MEA dan SDGs. Pertama, jika memberikan pelayanan keperawatan bagi sesama muslim, perawat bisa menggunakan pendekatan keagamaan. Kedua, bila diberikan kepada non-muslim, perawat bisa menggunakan pendekatan spiritual secara universal yang diadaptasi dari nilai-nilai islami.

Kesimpulan 

Menghadapi MEA dan mewujudakan cita-cita SDGs, perawat muslim memiliki peluang yang sangat besar. Seorang perawat muslim bisa lebih mudah mengaplikasikan nilai-nilai islami ke dalam tindakan keperawatannya karena populasi muslim yang banyak. Di samping itu, dalil dan hadis memungkinkan perawat untuk berperan lebih nyata memberikan asuhan keperawatan.

Meski begitu, kita tidak boleh terlena terlebih dalam menghadapi MEA. Persaingan antarnegara ASEAN tentu menjadi tantangan bagi perawat di masing-masing negara, tidak terkecuali bagi perawat Indonesia.

Indonesia yang merupakan salah satu anggota negara ASEAN dituntut agar dapat bersaing dengan sembilan negara ASEAN lainnya, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Setiap negara ASEAN memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim sudah selayaknya menjadi pelopor perkembangan keperawatan bernilai islami. Diharapkan kita bukan hanya menjadi perawat yang terlibat di dalm MEA maupun SDGs yang hidup dengan nilai islami, tetapi lebih revolusinoer membuktikan bahwa melalui nilai islami seorang perawat mampu mewujudkan cita-cita MEA dan mengimplementasikan SDGs.

Rekomendasi 

Perawat muslim bisa berperan langsung di dalam menghadapi MEA dan mewujudakan cita-cita SDGs. Tetapi jalan untuk terlibat langsung tentu tidaklah mudah. Kita perlu meningkatkan pengetahuan dan kompetensi kita agar kemampuan kita makin baik. 

Di samping itu, kita harus lebih memahami bentuk-bentuk pendekatan spiritual keperawatan yang berbasis nilai Islam dan nilai-nilai kebaikan universal agar kita bisa menjadi rahmat bagi semesta, rahmat bagi semua.