Peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 pagi hari, boleh dibilang heroik dan dapat menjadi suatu nomenklatur dari semangat pemuda saat itu. Beberapa pemuda yang haus akan kemerdekaan negara dan mewakili seluruh rakyat Indonesia saat itu benar-benar mendesak elite yang terwakili oleh Soekarno sesegera mungkin memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tentu semangat muda ini akan selalu didentumkan dengan membandingkan semangat pemuda era millenial dengan yang lalu. Lantas bagaimana ini dijelaskan?

Tsamara Amani Alatas, politisi muda salah satu partai politik, beberapa hari ini sangat getol dalam meluapkan semangat mudanya. Melansir ucapannya yang dilakukan dalam program talkshow MetroTV dan cuitannya dalam caption IG pribadinya “Millenial adalah generasi yang optimis. Mereka tertarik dengan bayangan Indonesia yang lebih baik di masa depan. Permainan politik yang menebar ketakutan tidak akan mendapat tempat di hati mereka. Pemilu 2019 harus menjadi pesta demokrasi serta ajang adu ide, gagasan, visi dan program”. 

Pesta demokrasi atau PEMILU 2019 seolah menjadi patron dan sentris dari segala kemelut peristiwa negara saat ini. Seolah dengan terlaksananya PEMILU seluruh permasalahan dapat selesai dalam sekali kejap. Tentu hal ini tak dapat dijadikan patokan. Menurut Mahfud MD “Pemilu bukanlah memilih yang terbaik, tapi mencegah yang jahat berkuasa”. Dan dengan ini, PEMILU tahun depan hanya merepresentasikan salah satu bagian dari kesejahteraan negara.

Terdorong dari semangat muda pada peristiwa Rengasdengklok. Kesejahteraan bangsa Indonesia tentu tak dapat dilakukan oleh segelintir orang saja. Adanya saling kesinambungan beberapa stakeholder dan masyarakat juga menjadi acuan utamanya. Sangat disayangkan jika elite politik hari ini bukannya menebar visi misi yang membangun malahan menebar isu SARA dan kebohongan kepada masyarakat.

Menjelang peringatan HUT RI ke-73 harusnya menjadi dorongan semangat kepemudaan untuk turut aktif dalam menjaga marwah stabilitas negara dan kesejahteraan rakyat. Memang patut dibenarkan jika era millenial atau pemuda dalam PEMILU tahun depan cukup mendominasi surat suara. Tetapi apakah dengan menunggu pesta demokrasi para pemuda di biarkan untuk berdiam diri tanpa mengadakan aksi nyata menjaga marwah demokrasi? Tentu tidak.

Melalui semangat yang telah dilakukan Tsamara, pemuda saat ini seharusnya dapat benar-benar menjadi penyambung lidah rakyat sepenuhnya. Adanya saling adu visi misi yang ditawarkan harus dijembatani pemuda utamanya agen of change saat ini. Minimnya pengetahuan akan perpolitikan Indonesia hari ini mereduksi semangat muda dalam keaktifannya dalam ranah politik. 

Penulis tentu memiliki suatu pemikiran dan harapan, jika saja para elite politik saling memiliki visi misi dan kesemuanya di implementasikan, dengan bantuan seluruh pemuda Indonesia memungkinkan harapan kemajuan negara Indonesia di masa depan bukan hanya sebagai impian belaka, tapi kenyataan !.

Seharusnya melalui semangat muda Tsamara hari ini mendorong pemuda hari ini getol dalam menciptakan harapan besar ini. Memang dalam hal ini Tsamara mendapat tempat Tim Sukses JOIN (Jokowi dan Ma’ruf Amin) tetapi jika melihat dari skala yang lebih besar apabila kesemuanya turut bahu-membahu membantu dengan tidak melakukan tindakan apatis, bukan kemustahilan jika kelak Indonesia akan menjadi poros dunia, menjadi negara percontohan baik budaya, ekonomi dan politik.

Sudah saatnya para pemuda bersatu padu dan bangkit untuk memproklamirkan dirinya atas dasar terciptanya kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Atas dasar kerelaan dan semangat kepemudaan, mari kita saling membangun kesadaran diri akan pentingnya rumah kita bersama. Merasa sakit jika ada bagian dari kita tersakiti, melawan dengan tanpa rasa takut akan tindakan yang menyimpang dari UUD ‘45 dan Pancasila. 

Mewarisi semangat perjuangan Proklamasi kemerdekaan Indonesia ke-73. Indonesia harus bangkit sedini mungkin, pemuda adalah calon pemimpin masa depan. Apabila pemuda hari ini telah hilang jiwa semangatnya, bagaimana mungkin kita mendesak para tetua yang mulai hilang semangatnya di makan usia dan kepentingan pribadinya.