Kembali kita harus menarik napas panjang. Kali ini media sosial dikejutkan oleh tindakan ujaran kebencian. Seseorang telah diduga memposting meme bernada kebencian terhadap Panglima Tentara Negara Indonesia (TNI) Marsekal Hadi Tjahjanto. Pelaku diduga meminta pribumi merapatkan barisan untuk membenci anggota TNI tersebut. Kejadian ini setidaknya membuat internet menjadi ajang agresivitas dan kekerasan saling bertemu.

Ujaran kebencian yang mengandung unsur Suku, Adat, Ras, dan Agama (SARA) masih menjadi perhatian yang serius. Satu di antara unsur tersebut agama adalah faktor utama terjadinya Ektremisme, Radikalisme, dan Terorisme.

Paham ekstremisme merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan doktrin atau sikap yang berlebihan terhadap agama. Sikap yang menyerukan aksi dengan segala cara untuk mencapai tujuannya. Di mana tujuannya memperkuat ideologi agama, dengan memperlakukan agama secara keras dan kaku hingga melewati batas kewajaran.

Ekstremisme seolah menjadi api dalam sekam yang setiap saat bisa meluap menjadi kobaran api konflik yang tidak dapat terkendali. Agama dianggap senjata ampuh untuk mempertahankan ideologi. Setiap orang memiliki ideologinya masing-masing yang tidak dapat dipaksakan. Hal itu belum dirasa dimengerti oleh masyarakat sehingga apa yang dirasanya kurang sesuai harus dilakukan perubahan bagaimanapun caranya.

Gerakan ekstremisme jauh dari syarat nilai kemanusian. Formulasi aksi yang bersifat radikal, maka nilai yang membangun gerakan ekstremisme ini dipastikan juga radikal. Ibarat kata agama itu “Jubah”, sehingga jubah itu dapat menutupi kebusukan dari gerakan yang dinamai radikalisme. Dari sini kemunculan sikap ektremisme mengatasnamakan agama mulai bermunculan menjadi fenomena global yang tak terelakkan.

Gerakan Radikalisme berasal dari kata radikal yang berarti “Mendalam” atau “Menyeluruh”. Sebuah gerakan yang dilakukan dengan atau atas dasar keinginan yang sangat kuat. Dalam konteks agama dan politik sikap radikal cenderung mengarah kepada makna negatif. Artinya sikap yang keras dalam menjalankan agama tanpa kompromi dan tidak menerima perbedaan.

Radikalisme merupakan embrio lahirnya Terorisme. Kenapa hal itu dapat terjadi? karena radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan umumnya bersifat revolusioner. Cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuannya. Menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrem.

Menurut Alex Schmid dalam studi Komparasi mengenai definisi Terorisme yakni 80% (kekerasan), 65% (Politik), dan 51% (ketakutan/teror). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa definisi dari terorisme sendiri multidefinition tergantung bagaimana korban dan masyarakat menyikapinya.

Mindset radikal yang meyakini pandangan mereka sebagai representasi Islam yang sebenarnya, seperti inilah yang telah dijadikan sebagai ideologi dan pola pikir yang mampu mempengaruhi seorang muslim radikal, sehingga berani melakukan aksi kekerasan seperti pembunuhan, perampokan, penyerangan terhadap aparat pemerintah dan instansi, dan penyerangan pada tempat ibadah serta tokoh agama.    

Fenomena konflik agama seolah menjadi kabar yang setiap hari menghiasi surat kabar maupun media online. Seolah-olah dibelahan dunia ini konflik agama menjadi pemberitaan nomor satu. Kita sering bertanya kenapa konflik agama bisa terjadi? Bagaimana negara sebenarnya menyelesaikan masalah itu? Apakah hukum yang menjadi landasan hanya sebagai formalitas?

Persoalan agama tidak akan pernah lepas dari seorang individu. Agama merupakan tumpuan individu untuk dapat bersikap toleransi. Tapi pada kenyataannya apakah seorang individu sudah mampu toleransi dengan agama yang lain. Fenomena menjelaskan masyarakat belum bisa toleran pada agama yang dirasa berbeda dengan keyakinannya.

Sikap saling curiga antara agama yang satu dengan agama yang lain sebagai fanatisme agama. Ini berimbas pada keturunan selanjutnya terlebih masyarakat yang notabene tidak berpendidikan. Merambahnya sikap intoleran akan terus tertanam jika tidak dibasmi sekarang. Perlu adanya pendekatan masyarakat yang serius.

Sikap mempertahankan kehendak ini yang nantinya memicu konflik. Kurangnya pengetahuan akan ektremisme menjadikan momok yang setiap tahun meningkatnya korban jiwa bahkan kerugian materi. Sehingga mereka  mudah saja terpengaruh karena belum mampu menyaring hal yang seharusnya dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Hak pribadi terampas menjadi gambaran nyata dampak konflik agama. Indonesia sebagai negara hukum belum sepenuhnya bisa melaraskan apa yang termakhtub dalam undang-undang yang harusnya melindungi. Seharusnya negara yang bersifat aktif melindungi, sebaliknya negara bersifat pasif.

Belum dapat disesuaikan dengan sebagaimana termakhtub dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2015 pasal 18 ayat 4, “Negara pihak dalam kovenan ini berjanji untuk menghormati kebebasan orang tua dan apabila diakui wali hukum yang sah, untuk memastikan pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.”

            Diskriminasi terhadap agama terus terjadi. Apapun yang menjadi Agama atau kepercayaan masyarakat itu adalah keyakinan yang menjadi pegangan dan pedoman hidup. Dan orang lain tidak berhak untuk memaksa bahkan melarang. Namun, kenyataannya mereka yang agamanya tidak sama dianggap sesat. Negara sendiri pun melanggar apa yang sudah tertulis. Lalu bagaimana mereka yang menjadi bagian dari negara itu. Akan berlindung pada siapa jika negara tempat dia hidup tidak melindungi?

Pemuda yang kurang cakap ditambah pula dengan pemahaman yang kurang akan mudah terpengaruh. Kesulitan untuk menyaring mana yang benar dan mana yang salah dirasa kabur. Dalam artian kabur disini adalah dia akan percaya dengan pemahaman yang salah sekaligus tetap mempertahankan ideologinya.

Ditekankan disini setidaknya pemuda mengetahui apa itu paham ekstremisme. Sebab, mereka yang memegang paham itu sering kali tidak menyadari dampak yang akan terjadi akibat perbuatannya. Masalah yang dianggap sepele menjadi masalah besar yang berimbas pada hilangnya nyawa bahkan materi.

Pemuda harus dapat menangkal penyebaran paham ektremisme. Jangan sampai terpengaruh dan membela yang salah. Seorang pemuda harus menjadi benteng perdamaian bangsa dan negara.

Perlu digaris bawahi bahwa agama itu tidak sesat. Tetapi yang ada adalah agama yang disesatkan. Agama itu tidak salah. Subjek yang menjadi pelakon agama itu yang menjadikan agama dipandang sesat. Agama itu ada sebagai pedoman untuk meluruskan hidup manusia. Sehingga sangat salah sekali jika masyarakat mengatakan agama yang dianut seorang individu sesat.

Inilah yang menjadi tugas pemuda untuk meluruskan. Perlu adanya pelurusan akan paham tentang agama. Jangan mengatakan bahwa agama itu sesat sebelum tahu apa makna tentang agama sesungguhnya.