Saat ini masyarakat Indonesia maupun masyarakat dari seluruh penjuru dunia merasakan banyak hal ganjil yang dipertontonkan oleh alam. Bulan yang seharusnya musim kemarau malah diguyur oleh air hujan begitu pula sebaliknya.

Selain itu juga bermunculan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya belum atau bahkan tidak terpikirkan seperti hujan es di Bandung pada 19 April 2017 dan 3 Mei 2017, serta turunnya salju di Uni Emirat Arab pada bulan Februari 2017 seperti yang diwartakan oleh detik.com. Fenomena perubahan alam ini menjadi salah satu dampak dari pemanasan global di mana terjadi peningkatan jumlah CO2 di atmosfer bumi. Peristiwa ini  dikenal dengan istilah efek rumah kaca.

Efek rumah kaca sebenarnya bukanlah peristiwa yang baru. Hal ini sudah lama terjadi di bumi. Bahkan dengan adanya efek rumah kaca menjadikan bumi menjadi hangat dan layak dihuni oleh manusia. Tanpa adanya efek rumah kaca bumi akan menjadi sangat dingin seperti halnya planet Mars (Widodo. dkk, 2016). Namun jika suhu bumi semakin meningkat efek rumah kaca yang tadinya bermanfaat untuk menghangatkan bumi berubah menjadi malapetaka bagi penghuni bumi.

Bumi yang semakin panas akan menyebabkan melelehnya es di kutub utara dan kutub selatan. Selain itu akan memicu terjadi bencana dan perubahan iklim di seluruh belahan bumi tanpa terkecuali. Peningkatan CO2 di atmosfer salah satunya disumbang dari CO2 yang dihasilkan dari hutan yang terbakar.

Kebakaran hutan merupakan peristiwa yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Baik itu kebakaran yang terjadi karena alam atau karena sengaja dibakar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pembakaran hutan yang disengaja ini dimaksudkan untuk pembukaan lahan baru untuk pemukiman, lahan perkebunan, maupun lahan pertanian.

Membuka hutan untuk lahan baru sebenarnya bisa dilakukan dengan tanpa pembakaran namun waktu yang dibutuhkan lebih lama dan biayanya lebih mahal. Oleh karena itu kebanyakan orang lebih memilih membakar hutan untuk menghemat biaya dan tenaga.

Secara teoritis, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam pembukaan lahan, sebagai pengganti api. Cara pertama dengan menggunakan jamur dan bakteri. Jamur yang digunakan adalah Trichoderma liorianum dan Trichoderma viridae dan Glialadium Sp.; dan kelompok bakteri Pseodomous dan Dacillus Sp. Cara kedua dengan arborisida untuk pelapukan kayu dan herbisida untuk pelapukan daun-daunan.

Akan halnya cara ketiga dengan memotong kayu atau daun-daun sampai kecil dan dibiarkan lapuk sendiri. Sebaiknya, lahan itu dipersiapkan selama dua tahun, satu tahun untuk pelapukan setelah ditebang dan satu tahun lagi untuk pembersihan. Tetapi, ini sulit dilakukan oleh praktisi-praktisi di lapangan. Sering penebangan dan pembersihan dilakukan dalam satu tahun. Akibatnya, jalan pintas yang dilakukan adalah dengan pembakaran (Tjahjono. dkk, 1999).

Membakar hutan untuk membuka lahan lebih banyak diminati karena secara ekomomi memang lebih menguntungkan. Namun jika dicermati secara lingkungan membakar hutan dapat diibaratkan seperti membakar kehidupan. Karena tidak hanya menghasilkan CO2 yang mempertebal efek rumah kaca di atmosfer tetapi dengan berkurangnya luas hutan di muka bumi ini juga menjadi berkurangnya fungsi hutan sebagai penyeimbang alam.

Keberadaan hutan tidak hanya sebagai hiasan yang menjadikan permukaan bumi berwarna hijau seperti permata zamrud. Melainkan hutan memiliki peran yang sangat besar bagi seluruh makhluk hidup. A. Sonny Keraf dalam bukunya yang berjudul Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global menyatakan bahwa hutan mempunyai fungsi klimatologis sangat penting untuk mengatur iklim lokal dan global dan menjaga siklus perubahan cuaca.

Hutan juga mempunyai fungsi hidrologis untuk menjaga daerah resapan air, menjaga persediaan dan ketersediaan air. Selain itu hutan juga berfungsi menjaga kualitas tanah dan vegetasi alamiah serta fungsi biologis-genetis untuk menunjang berkembangbiaknya berbagai unsur biologis dan genetis di dalamnya.

Hutan dengan segudang manfaat yang dikandungnya tidak hanya berperan bagi lingkungan sekitar hutan saja tetapi juga berperan secara global. Menurut Hasanu Simon dalam buku yang berjudul Membangun Kembali Hutan Indonesia disebutkan bahwa Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar di dunia, yang terletak di antara dua samudera besar, Pasifik dan Hindia.

Dua samudera luas tersebut menghubungkan empat benua, yaitu Afrika, Asia, Amerika, dan Australia. Indonesia terletak ditengah-tengah kawasan tadi yang menempatkan ekosistem Indonesia mempunyai peranan yang sangat vital bagi ekosistem seluruh permukaan bumi. Oleh karena itu Indonesia tidak hanya berperan sebagai paru-paru bumi, tetapi juga sebagai jantung yang mengatur arus angin maupun arus laut di atas samudera Pasifik dan Hindia.

Jika hutan Indonesia mengalami deforestasi tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh bagi keberlanjutan iklim di dunia.

Manfaat dari iklim salah satunya adalah membantu petani dalam kegiatan bercocok tanam, mulai dari penentuan awal tanam sampai dengan pemanenan.  Jika iklim berubah tentu saja manfaat dari iklim yang selama ini kita rasakan juga akan berubah. Sebut saja perubahan iklim yang terjadi saat ini menimbulkan bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Musim tanam petani menjadi terganggu bahkan menyebabkan gagal panen.

Hal ini akan merugikan manusia dan mengancam ketersediaan bahan pangan dan air bersih. Perubahan iklim yang terjadi karena alam tidak bisa kita hindari. Namun kita bisa meminimalisir perubahan iklim karena ulah manusia. Salah satunya adalah memfungsikan hutan sebagai penyerap karbon yang dihasilkan dari aktivitas makhluk hidup, bukan malah menjadikan hutan sebagai donatur karbon di atmosfer.

Peran ganda hutan sebagai penyumbang karbon dioksida dan penyerap karbon dioksida dalam perubahan iklim ini sejalan dengan greenpeace.or.id. Dalam tulisannya yang berjudul Hutan Tropis Indonesia Dan Krisis Iklim dikemukakan bahwa penghancuran dan degradasi hutan berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer.

Kedua kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting karena jika kita menghancurkan hutan tropis yang tersisa, maka kita kalah dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.

Peranan hutan yang begitu banyak dalam melindungi makhluk hidup sering disepelekan oleh manusia. Manusia membakar hutan tanpa pernah memikirkan dampak apa yang akan dirasakan jika hutan semakin sempit. Yang terpenting bagi manusia adalah kemajuan ekonomi saat ini tanpa memperhitungkan dampak apa yang akan terjadi pada beberapa tahun ke depan. Mereka tidak pernah memikirkan nasib generasi penerus bangsa ini.

Jika hal ini terus dibiarkan anak cucu kita hanya akan mewarisi alam yang sudah rusak, iklim yang amburadul, dan mungkin mereka akan menertawakan cerita para orang tua tentang betapa indahnya negeri ini dengan hutan hijau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Maukah kita ditertawakan oleh anak cucu kita karena cerita kita hanya dianggap sebagai omong kosong belaka. Jika jawabanya tidak maka marilah kita mulai menjaga hutan Indonesia demi keberlangsungan bumi ini dan seluruh makhluk  hidup yang ada di dalamnya.