Awalnya saya memperoleh informasi terkait penyalahgunaan obat-obatan yaitu pertama kali ketika usia Pendidikan SMP. Saat itu, banyak diberitakan oleh media televisi tentang kasus penyalahgunaan obat dikalangan orang dewasa dengan latar belakang profesi, tingkat Pendidikan dan keluarga apa saja. Dan yang paling banyak mendapat sorotan media adalah mereka kalangan artis dan pejabat pemerintah.

Sejak saat itu, sepintas dalam pahaman saya bahwa penyalahgunaan obat dapat terjadi pada siapa saja. Tidak memandang entah dia terpelajar atau pun tidak. Baik dia anak pejabat atau bukan, demikian halnya dengan tingkat usia seseorang bukan lagi menjadi jaminan. Lantas apa yang membuat seseorang mudah untuk menyalahgunakan obat-obatan?

Sampai hari ini pertanyaan tersebut masih menggeliat untuk dijawab. Ditambah lagi, muncul trend baru penyalahgunaan pada obat-obatan yaitu obat daftar G atau obat keras. Ditunjukkan dengan hasil survei pada tahun 2014 oleh BNN menunjukkan 6% dari 1.000 orang penyalahguna obat-obatan pernah mengonsumsi obat tramadol dan Trihexyphenidyl/THP untuk penggunaan non-medis.

Untuk kasus yang cukup menyita perhatian publik. Adalah kasus penyalahgunaan obat-obat yang terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, tepatnya pada bulan September 2017. Mengapa tidak? kasus kali ini menimpa 30 remaja sekaligus dalam kurun waktu tidak begitu lama, dan 1 orang diantaranya meninggal dunia.

Berdasarkan sejumlah laporan, remaja penyalahguna obat beberapa diantaranya mengalami perasaan senang tanpa sebab. Dan sisanya mengalami halusinasi dan sampai tidak sadarkan diri. Kondisi ini terjadi dikarenakan remaja mengonsumsi obat dengan dosis dan jenis yang dikreasikan sendiri.

Obat yang dikreasikan terdiri dari Somadril, Tramadol, dan PCC. Dari sejumlah obat ini, jika diidentifikasi maka akan ditemukan beberapa obat dengan golongan obat keras atau dikenal dengan obat daftar G. Pada peredarannya, golongan obat keras atau obat daftar G ditandai dengan huruf K dalam lingkaran merah pada kemasan obat.

Obat daftar G ini merupakan obat yang dapat beredar hanya jika melalui resep dokter.

Obat daftar G memiliki sifat obat yaitu analgesic. Berfungsi meredahkan rasa nyeri tanpa mengurangi kesadaran. Namun, jika dikonsumsi dalam dosis yang banyak maka akan bersifat sedative atau mengurangi bahkan menghilangkan kesadaran.

Yang mendorong remaja menyalahgunakan obat resep

Jika melihat kasus penyalahgunaan obat yang dialami oleh puluhan remaja Kota Kendari bukanlah sesuatu yang kebetulan. Mengingat kasus ini melibatkan banyak remaja. Maka, hal ini dapat dilihat sebagai indikasi bahwa obat-obat ini sangat mudah untuk diakses oleh siapa saja.

Beberapa teori memandang kemudahan akses sebagai faktor yang cukup berpengaruh. L. Green dalam teorinya menjelaskan faktor yang berkontribusi terhadap terbentuknya perubahan sebuah perilaku adalah akses atau enabling.

L. Green menekankan bahwa faktor enabling memberikan kemungkinan sebuah perilaku dapat terbentuk dan berlangsung secara terus menerus. Melalui tersedianya sarana dan kemudahan untuk mencapainya.

Penelitian Olajide dan Smyth di tahun 2013 yang diterbitkan Journal of Psychoactive Drugs. Dalam judul Non-Medical Use of Psychotropic Prescription Drugs Among Adolescents in Substance Use Treatment. Olajide dan Smyth menjelaskan kemudahan akses terhadap obat memberikan kontribusi dalam perilaku penyalahgunaan obat-obat resep dikalangan remaja.

Kontribusi ini, dinilai terjadi melalui ketersediaan dan kemudahan mengakses obat-obat resep. Olajide dan Smyth menambahkan, ketersediaan dan kemudahan dikarenakan obat-obat resep terdapat di lingkungan pergaulan sebaya remaja.

Temuannya ini, diperkuat melalui hasil pengamatan lanpangannya dengan angket. Menunjukkan 76% (dari total sampel 85 orang remaja) remaja mendapatkan obat resep melalui teman sebayanya.

Hal ini, mengindikasikan bahwa lingkungan sosial remaja tidak hanya menyediakan wadah untuk bersosialisasi saja, namun lebih jauh lagi lingkungan sosial memiliki pengaruh terhadap perilaku menyimpang. Hipotesis ini, juga diperkuat dengan penelitian Rees & Wallace di tahun 2015.

Rees dan Wallace dalam Reprint of: The myth of conformity: Adolescents and abstention from unhealthy drinking behaviors. Menjelaskan pengaruh negatif teman sebaya secara langsung berhubungan dengan kecenderungan perilaku mengkonsumsi alkohol. Situasi ini dinilai terjadi ketika seorang remaja mendapat pengaruh sosial dan akhirnya mematuhi norma kelompok pergaulannya.

Penerimaan norma kelompok dianggap sebagai kondisi yang memungkin seorang remaja akan sulit untuk mengurangi perilaku penyalahgunaan ini. Dan membuat perilaku dapat berlangsung secara terus menerus.

Pengaruh ini terjadi melalui penguatan-penguatan yang bersifat memaksa. Sifatnya memaksa, jika dilihat dalam bentuk teknisnya yaitu pemberian sanksi sosial. Sanksi sosial diterima oleh remaja seperti diansingkan dari kelompok pergaulan sebayanya.

Pemaksaan dianggap sebagai cara yang cukup efektif. Pemaksaan dalam pandangan B. F Skinner sesuatu yang terjadi secara alamiah. Skinner seorang behaviourisme yang meyakini sebuah perilaku seseorang merupakan hasil rangsangan dari lingkungannya. Skinner menamai proses tersebut "cara kerja yang menentukan" atau operant conditioning.

Skinner menjelaskan operant conditioning dengan ganjaran atau penguatan. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subyektif. Sedangkan penguatan merupakan suatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur.

Bagaimana perilaku penyalahgunaan obat terbentuk?

Sehingga sampai terbentuknya perilaku penyalahgunaan obat resep di kalangan remaja. Diukur berdasarkan akses terhadap obat dan pengaruh lingkungan sosial yaitu bagaimana sebuah ganjaran dan penguatan bekerja. Pertama, akses terhadap obat menjadi contributor yang memberikan ketersediaan dan kemudahan atas obat bagi remaja.

Dimana akses terhadap obat adalah sesuatu yang hadir dan mendahului sebuah perilaku, yang memungkinkan sebuah perilaku tertentu dapat diterjadi.

Kedua, pengaruh lingkungan sosial dalam bentuk pergaulan sebaya remaja. Point ini, menjadi faktor penguat sehingga sebuah perilaku penyalahgunaan obat terealisasi. Melalui beberapa pengondisian seperti sanksi sosial diansingkan dari kelompok pergaulan. Sehingga paten sebuah perilaku terbentuk dan berlangsung secara terus menerus.

Dengan demikian, mengapa remaja mudah menyalahgunakan obat-obat daftar G? Itu karena disekeliling kita peredaran obat terjadi dengan mudah dan lingkugan sosial yang mendukung. Tanpa kita ketahui bahwa hal ini telah lama terjadi.

Mungkin diantara kita pernah mendapati beberapa remaja bahkan teman sejawat mengkonsumsi obat ini diluar peruntukkan pengobatan. Namun, bukannya peringatan yang keluar dari kita tapi penerimaan dan pembiaran. Bukankah hal ini sama dengan kita me-ridhoi mereka sakit dan akhirnya sekarat.!!