Penulis bekerja keras menemukan dan menuangkan gagasan dalam rupa-rupa bentuk, seperti prosa, puisi, autobiografi, dan sebagainya. Saya membaca karya-karya penulis yang abadi hingga hari ini, salah satunya berkat kertas yang dikemas dalam bentuk buku. Bagi saya, buku yang dicetak membuat saya bergairah menuntaskan bacaan, ketimbang, misalnya membaca karya sastra dalam bentuk e-book.

Terlepas dari peranan komputerisasi, kehidupan penulis juga tidak bisa lepas dari pena atau pulpen yang menandai bergeraknya zaman dan fungsi penting dari kertas bagi penulis sebagai media yang digunakan mencatat dan menggagas ide-ide yang hendak dikembangkan. Namun, tak disangkali oleh Dominguez (2016: 64) yang mengatakan, bahwa kertas adalah produk organik yang pada akhirnya seperti pohon pinus, karena akan dimangsa oleh rahang-rahang segara yang tenang menghancurkannya.

Dari definisi metafor yang dikemukakan Dominguez yang saya baca dalam novelnya berjudul Rumah Kertas, merujuk pada sebuah perspektif, bahwa di balik kertas yang digunakan penulis atau manusia, ada pohon yang harus ditebang. Untuk membuat satu rim kertas, dibutuhkan satu pohon yang berkualitas berumur lima tahun.

Sadar tidaknya kita, sejak kemunculannya, kertas menjadi kebutuhan efektif dalam membangun peradaban intelektual, hasil produk dari sebuah industri besar yang bergerak tanpa henti memperoleh rupiah. Hal itu, tentu kejelian industri dalam mengamati kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat.

Melihat kerja keras penulis dalam menggali gagasan, patut dipahami, bahwa kehadiran kertas menjadi babak penting dalam hal publikasi. Maka tidak heran, pasca membaca novel tipis legendaris berjudul Rumah Kertas ini, saya harus memercayai tiga hal dari gagasan penulis.

Pertama, menjadi bibliofil memang butuh perjuangan. Kedua, ada seseorang di dunia ini yang terbiasa dan candu menghirup aroma kertas. Ketiga, merawat berlembar-lembar kertas dari koleksi buku-buku penting agar tak robek dan dimakan rayap juga bukan perkara mudah.

Bernama lengkap Carlos Maria Dominguez, prosais kelahiran Buenos Aires, Argentina ini, menyeret saya menjelajahi peristiwa demi peristiwa dalam novelnya. Mulai dari kematian yang disebabkan dari membaca dan ditimpa buku, seseorang yang menempuh perjalanan mencari pengirim paket buku aneh, buku-buku seorang pecinta buku yang rumahnya disesaki buku hingga harus meletakkan koleksi buku-buku itu di toilet.

Novel setting tahun 1990-an ini, menurut saya, turut andil menyumbangkan pentingnya peradaban tulis-menulis dan menandai perkembangan kertas yang masih masif digunakan.

Kisah lain mengenai kertas juga datang dari penulis dan pustakawan Fernando Baez. Sejak kecil, Baez sudah gemar membaca buku. Baginya setiap bacaan yang bagus dapat memberikan dorongan yang kuat untuk terus membaca buku. Namun, pada suatu waktu, kebahagiaannya terenggut ketika Sungai Caroni, salah satu anak Sungai Orinoco meluap.

Luapannya menenggelamkan kota dan yang paling buruk dikenang Baez adalah kertas-kertas yang menjadi sumber rasa keinginantahuannya hanyut dan hancur. Lenyap semua jilid penting yang menemani masa kecilnya di Perpustakaan Umum San Felix di Guayana, Venezuela itu. Kertas-kertas yang membuatnya menjelajahi dunia melalui buku telah membawanya pula menyaksikan pembakaran buku oleh kelompok kriminal yang ingin menghancurkan peradaban intelektual yang ada di balik buku cetak.

Pasca membaca tulisan Dominguez dan Baez yang turut mengulas arti penting sebuah kertas, saya pun semakin tertarik menyusuri lorong kehidupan penulis. Waktu itu, langit cerah di tanggal 17 Mei 2017, saya menghadiri pameran bertajuk Manoeskrip Sadjak di Rumata’ Art Space.

Pameran itu menghadirkan tulisan tangan puisi-puisi penyair Sapardi Djoko Damono pada tahun 1958-1969. Rangkaian Makassar International Writers Festival itu membuka pengetahuan pengunjung melalui penuturan kreatif Sapardi sebagai penulis puisi menggunakan tulisan tangan di kertas, kemudian mesin tik, hingga benda digital bernama komputer untuk menuangkan gagasannya.

Selepas mendatangi acara tersebut, saya mencoba berinisiatif melakukan hal serupa yang menjadi bukti autentik sejarah kepenulisan penyair Sapardi. Waktu itu, sebelum menuju arah rumah kontrakan, saya luangkan waktu untuk singgah membeli dua buku catatan.

Saya ingin memulai mengukir sejarah dalam kehidupan literasi melalui tulisan tangan. Dan saat tiba dan duduk di kamar, saya langsung memulai menulis hal-hal yang saya jumpai di lokasi acara dan sepanjang perjalanan hari itu.

Setelah buntu ingin menulis sesuatu hal, saya pun membuka kembali buku puisi berjudul Perahu Kertas karya Sapardi, berharap ada keajaiban yang datang untuk kembali menemukan ide dan melanjutkan catatan. Satu hal yang penting, buku itu turut mengawali langkah saya menyukai dan menulis puisi. Saya tak bosan-bosan membaca puisi yang berjudul sama dalam buku tersebut yang selalu membuat saya terkenang masa kecil. Berikut kutipan bait pertama puisi tersebut:

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas
dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang,
dan perahumu bergoyang menuju lautan.
(Sapardi Djoko Damono, 1983)

Saya kira bukan hanya saya yang sewaktu kanak-kanak berbahagia melipat-lipat dan merobek-robek kertas, lalu tak sadar melakukan hal kreatif mengubah kertas menjadi sesuatu untuk dimaini. Di balik kenangan itu, puisi berjudul Perahu Kertas di atas menjadi pengingat sekelumit kisah masa kecil saya yang senang membuat perahu atau pesawat dari kertas. Secara pribadi, mungkin sudah banyak kertas yang saya gunakan percuma dan sesuka hati hingga menginjak usia remaja kini. 

Berbeda halnya bagi Sapardi yang membuat saya sadar, tulisan tangan di kertas mampu membuat seseorang menjadi fenomenal. Kertas yang mudah sobek itu digunakan Sapardi sebaik mungkin untuk menulis dan menjadi langkah penting yang menandai kepenyairannya. Bisa dikatakan, puisi-puisi yang mempuni dari tangan Sapardi berawal dari proses coret-mencoret yang dituangkannya di kertas.

Tentu di kehidupan manusia, kertas sering kali dijumpai di sekolah, di kampus, di rumah, di jalan-jalan, dan terlebih lagi di percetakan. Dalam rilisnya di youtube, Asian Pulp and Paper Sinar Mas (2017) mengungkapkan, bahwa Indonesia adalah negara penghasil kertas urutan keenam di dunia dan urutan kesepuluh dunia untuk pulp.

Tidak heran kiranya jika kertas bertebaran dan tidak hanya digunakan sebagai media untuk menulis seperti yang dilakukan Sapardi atau media untuk menggambar semata, tetapi lebih dari itu, fungsi kertas dalam kehidupan manusia saat ini tidak sekadar digunakan dalam kegiatan baca-tulis, melainkan berperan penting sebagai kebutuhan pembersih dan pembungkus di berbagai tempat.

Sebagai mahasiswa yang berjuang meraih gelar akademik, saya menggantungkan harapan pada kertas dan banyak menggunakannya untuk membuat tugas laporan, makalah, dan sekarang mengerjakan skripsi. Hal yang saya lakukan adalah bukti nyata, bahwa benda yang bernama kertas ini masih produktif digunakan sebagai sarana tulis-menulis dan baca-membaca.

Masa-masa penggunaan kertas dalam lingkungan akademik belum mencapai gerbang keredupan. Sapardi yang juga seorang pengajar di berbagai perguruan tinggi, membuktikan keajaiban dari gagasannya yang dimunculkan di permukaan kertas, ia menjadi penyair penting di negeri ini.

Selain penyair Sapardi, saya juga membaca puisi penyair lainnya. Termasuk beberapa waktu lalu, saya membaca puisi berjudul Kertas dari penyair Mardi Luhung yang lahir di Gresik, Jawa Timur. Potongan puisinya yang saya baca di media cetak koran Kompas sebagai berikut:

Dan siapa pun yang pernah disebutnya sebagai ingatan,
berdikit-dikit menjadi mendung. Terus turun dalam rupa gerimis.
Gerimis menjadi hujan. Dan hujan pun melunturkan apa-apa
yang telah ditulisnya di kertas. (Kompas, 2017: 26)

Baik koran, majalah, tabloid, iklan, dan brosur bahan dasarnya adalah kertas. Namun, pelaku bisnis percetakan koran hari ini selain memproduksi dalam bentuk cetak, juga telah mendigitalisasikannya yang dikenal dengan sebutan koran digital.

Media cetak dan sosial media adalah dua hal yang silih berganti dikonsumsi orang-orang di sekitar saya untuk memahami transformasi peradaban. Puisi Mardi Luhung di atas tentu bisa dinikmati melalui koran cetak atau koran digital, dua media yang dibuat pelaku bisnis karena gagasan.

Dilihat dari segi lapis ketiga dalam puisi berjudul Kertas tersebut, kita bisa merujuk pada analisis fenomenologis Roman Ingarden (dalam Pradopo, 2014: 18) merujuk pada dunia penulis. Puisi tersebut tentu melibatkan si aku (penyair) yang dalam kehidupannya memiliki pengalaman bersentuhan dengan objek-objek yang menjadi kata kunci dalam puisinya seperti, ingatan, mendung, gerimis, hujan, dan termasuk pengalaman bersentuhan dengan kertas.

Tentu, bagi penyair, kertas adalah media yang begitu dekat dan tidak bisa dilepaskan dari proses kreativitasnya, hingga sebagai pembaca, saya bisa menikmati sebuah suguhan metafor yang diciptakannya. 

Baik Dominguez, Baez, Sapardi, dan Mardi, mereka adalah manusia yang populer karena profesinya yang membutuhkan hadirnya kertas. Melalui itu, penyebarluasan hasil karya yang mereka tulis, dapat dibaca hari ini. Membuat saya percaya, bahwa produksi kertas tidak akan pernah mati di balik ramalan berbagai ahli mengenai masa depan kertas.


Daftar Bacaan:

Baez, Fernando. 2013. Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. Tangerang Selatan: Marjin Kiri. (Terjemahan: Lita Soerjadinata)

Damono, Sapardi Djoko. 1983. Perahu Kertas. Jakarta: Balai Pustaka.

Dominguez, Carlos Maria. Rumah Kertas. Tangerang Selatan: Marjin Kiri. (Terjemahan: Ronny Agustinus)

Pradopo, Rachmat Djoko. 2014. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Puisi Koran Kompas, edisi 16 Desember 2017.