Suatu ketika, saya pernah melihat sebuah meme di media sosial, begini bunyinya, ”masih buang sampah sembarangan, ke mana aja sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun lalu lanjut kuliah 4 tahun?” Sindiran tersebut sangat mengena. Mungkin Anda juga pernah membacanya, bukan?

Ya, membuang sampah adalah hal sepele, namun sering kali orang membuang sampah bukan pada tempatnya. Padahal sudah menghabiskan waktu hampir 15 tahun di bangku sekolah sampai kuliah. Ada apa gerangan, apakah ada kaitannya dengan karakter masyarakat kita yang telah memudar?

Dewasa ini, kata karakter kembali digaungkan oleh pemerintah. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dibuatlah peraturan untuk menumbuhkan karakter ini, salah satunya melalui budaya membaca, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan lain sebagainya. Tetapi tepatkah itu semua? Karena tentu setiap karakter anak adalah berbeda, tentu dengan penangangan yang berbeda pula.

Pengertian Karakter

Menurut Endang Sumantri dalam bukunya Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, bahwa kata karakter berasal dari kata Latin kharakter, kharassein, dan kharax yang maknanya tools for making, tools engrave, dan pointed stake. Kata ini mulai banyak digunakan kembali dalam Bahasa Perancis pada abad 14, yaitu character, kemudian masuk ke dalam Bahasa Inggris character sampai menjadi kata karakter dalam Bahasa Indonesia. 

Sedangkan Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan Perspektif Islam mengatakan bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia, sehinga ketika muncul tidak dipikirkan lagi.

Karakter itu sangat erat hubungannya dengan sifat dan tingkah laku manusia karena karakter menjadi penting sebagai pembeda antar manusia, baik buruknya seseorang dan tindakan manusia sangat berkaitan dengan karakter. Dengan karakter yang baik, tentu saja kita bisa berpikir sebelum melakukan seuatu, baik ucapan maupun perbuatan.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Untuk menumbuhkan pendidikan karakter tidak harus menambahkan satu pelajaran khusus tentang karakter, karena kita sepakat bahwa mata pelajaran di Indonesia ini sudah terlalu banyak. Pendidikan bukan hanya dibicarakan namun juga dipraktikkan. Dulu sempat ada mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang saat ini sudah tidak ada dan diganti dengan mata pelajaran PPKn.

Mencetak anak dengan prestasi akademis bagus tidaklah mudah, tetapi mencetak anak yang memiliki akhlak yang baik itu jauh lebih sulit. Dibutuhkan ketegasan, kesadaran dan kebiasaan yang bukan hanya wacana, namun juga contoh yang baik, khususnya dari guru dan kepala sekolah. 

Pendidikan karakter lebih kepada bagaimana menanamkan nilai-nilai moral yang baik melalui pembiasaan yang baik pula. Seperti peraturan tentang penumbuhan budi pekerti yang isinya membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Itu juga merupakan bagian dari menumbuhkan karakter positif melalui kebiasaan membaca.

Untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik, masyarakat kita memang harus ada peraturan terlebih dahulu, seperti di lingkungan sekolah dilarang merokok. Nah, guru harus memberikan contoh agar tidak merokok di lingkungan sekolah. Itu contoh kegiatan mewujudkan pendidikan karakter. 

Di tengah era perkembangan teknologi yang pesat dan menakjubkan, kita dituntut untuk terus memotivasi diri kita agar tidak ketinggalan zaman. Kita harus tahu perkembangannya. Tujuannya adalah untuk ikut serta membimbing anak-anak kita dalam memanfaatkan teknologi informasi ke hal positif.

Pendidikan karakter telah menjadi banyak perhatian semua pihak, pemerintah melalui Dinas Pendidikan membuat seminar dan workshop tentang pendidikan karakter. Namun, tentu tidak berhenti sampai disitu saja, hendaknya pemerintah lebih serius dalam mengajak peran serta masyarakat dan orang tua. Justru ini yang sering diabaikan, tidak melibatkan masyarakat. 

Masyarakat sekitar sekolah dan orang tua adalah orang pertama yang paling bertanggung jawab terhadap penumbuhan budi pekerti anak. Anak hanya 6 jam berada di sekolah mulai dari pukul 7 sampai pukul 1 siang, selebihnya berada di rumah. Jadi melalui konsep keluarga peduli anak, maka orang tua akan memiliki tanggung jawab bersama pihak sekolah.

Peran Guru dan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter

Guru merupakan salah satu faktor kunci penting dalam mengembangkan pendidikan karakter. Mereka adalah orang tua ke dua di sekolah selain orang tua di rumah. 

Sejak zaman dahulu, guru memiliki peranan penting suksesnya proses belajar mengajar di kelas. Pantas saja kalau guru itu ada yang memberikan singkatan menjadi digugu dan ditiru, ucapannya didengar dan perbuatannya patut dicontoh. Berat, tentu saja, menjaga lisan dan perbuatan karena dilihat oleh anak didik di lingkungan sekolah.

Salah satu peran penting yang harus dilakukan guru di sekolah salah satunya adalah berdisiplin datang tepat waktu. Ini tidak mudah, namun jika sudah menjadi kebutuhan dan kebiasaan datang tepat waktu, maka siswa juga akan melihat dan mencontohnya. Itu dari segi disiplin.

Sebagai orang terdekat dengan murid selain orang tua, guru bisa mengoptimalkan peran orang tua siswa dalam bekerjasama untuk kemajuan karakter anak, misalnya dengan membentuk paguyuban orang tua setiap kelas. Setiap wali kelas selalu berkoordinasi dengan paguyuban orang tua tersebut. Jadikan mereka merasa memiliki sekolah melalui kegiatan-kegiatan paguyuban. 

Jangan hanya datang pada saat pembagian raport atau ketika dipanggil guru bimbingan dan konseling (BK). Inilah salah satu sinergitas yang baik antara orang tua dan sekolah melalui program paguyuban orang tua. Rekam jejak anak akan selalu termonitor melalui keberadaan paguyuban, apalagi saat ini dimudahkan oleh adanya grup WhatsApp yang setiap saat orang bisa berkomunikasi di grup tersebut.

Guru juga bisa mencontoh kebiasaan pendidikan karakter yang baik seperti membaca buku di luar jam pelajaran, tidak merokok di ruang kelas dan lingkungan sekolah, tidak membuang sampah sembarangan, dan masih banyak lagi contoh-contoh peran yang dilakukan guru untuk mewujudkan pendidikan karakter.

Lalu, apa yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah? Sebagai seorang leader, tentu saja semua tanggung jawab dibebankan kepada kepala sekolah. Namun, kepala sekolah bisa mengajak serta guru dan masyarakat serta komite untuk mewujudkan pendidikan karakter melalui peraturan yang disepakati bersama. 

Sekali lagi, peraturan. Kenapa harus ada peraturan, karena masyarakat kita belum bisa berjalan tanpa peraturan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu mewujudkan aturan untuk mewujudkan karakter bersama guru, masyarakat, orang tua dan komite sekolah. jangan lupa perwakilan siswa juga diajak, karena inilah pentingnya sebuah keterbukaan dan kerja sama dengan semua warga sekolah.

Kepala sekolah yang baik tentu harus menjadi manajer yang baik, seperti contoh-contoh di atas, jika guru datang ke sekolah pukul 07.00, maka kepala sekolah harus datang lebih pagi dari itu. Itulah keteladanan yang baik. 

Selain itu, kepala sekolah juga harus melaksanakan class visit atau blusukan ke setiap kelas untuk melihat kondisi pembelajaran, tidak hanya dilapori secara lisan dan hanya duduk di ruang kepala sekolah. 

Sekolah yang baik adalah sekolah yang bergerak, bukan statis. Menyediakan tong sampah dan mencontohkan membuang sampah pada tempatnya, adanya westafel agar siswa terbiasa cuci tangan, itu merupakan contoh-contoh yang harus dibuat oleh kepala sekolah untuk mewujudkan pendidikan karakter dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Seorang kepala sekolah juga harus melayani semua warga sekolahnya, tidak membeda-bedakan suku, ras dan agama, tentu dengan demikian akan tercipta keharmonisan di lingkungan sekolah tersebut dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkarakter untuk semua. Semoga.