Permasalahan kelaparan dan kekurangan gizi bukanlah hal baru yang dihadapi manusia. Umumnya permasalahan ini dihadapi oleh penduduk di negara berkembang dan miskin. Masalah ini merupakan sebuah masalah yang serius karena hal tersebut dapat memengaruhi permasalahan lain, baik secara praktis maupun fisiologis.

Berdasarkan data Global Hunger Index tahun 2020, Indonesia menempati posisi ke-70 dari 107 negara dengan nilai 19.1 di mana tingkat kelaparan Indonesia menempati tingkat moderate dengan tren statistik kelaparan yang menurun sejak tahun 2012. Namun, pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan ancaman ketahanan pangan.

Selain faktor pandemi yang melanda hampir di seluruh negara, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan krisis pangan ini, di antaranya demografi, kelangkaan sumber daya alam, perubahan Iklim, food waste, dan perubahan cara pandang pada masyarakat di hampir seluruh negara yang dimulai sejak era industrialisasi.

Bagi penduduk usia muda di pedesaan, pada umumnya mereka lebih memilih melakukan perpindahan ke daerah yang lebih baik atau menuju perkotaan guna mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang lebih baik. Orang tua berharap anak-anaknya pergi ke sekolah yang baik dan mendapat nilai bagus, diterima di universitas, dan punya pekerjaan bagus di kantor yang ada di perkotaan. Para orang tua berharap anak-anak mereka mendapatkan pekerjaan tetap dan menjalani kehidupan yang lebih baik dari mereka.

Tren ini bukanlah hal baru dan juga bukan pemikiran yang sepenuhnya salah. Permasalahan ini tidak hanya dihadapi oleh negara-negara miskin dan berkembang saja, tetapi negara maju sekalipun turut menghadapinya. Penyebab menurunnya minat tenaga kerja usia produktif di sektor agrikultur adalah adanya anggapan bahwa citra sektor agrikultur yang kurang bergengsi dan kurang bisa memberikan penghasilan yang memadai.

Menurut penelitian Leavy dan Hossain dari Institute for Development Study yang dilakukan pada tahun 2012, menyatakan bahwa terdapat 4 faktor utama yang menyebabkan kaum muda memiliki pandangan tersebut, yaitu: (1) Kaum muda ingin memiliki pendidikan yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik; (2) Bertani memberikan tantangan untuk mental dan fisik;

(3) Kaum muda tidak mempertimbangkan agrikultur sebagai bagian masa depan karena kurangnya pemasukan dan lahan; (4) Perubahan norma, khususnya kaum wanita dimana mereka saat ini mendapatkan kesempatan yang baru dalam hal edukasi dan pekerjaan.

Umumnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor agrikultur, peternakan, perikanan dan lain sebagainya. Apabila kita berkunjung ke wilayah pedesaan, mungkin dapat dilihat pada umumnya para petani adalah orang-orang yang tergolong usia pertengahan dan lanjut.

Banyak dari mereka yang mungkin saat ini memikirkan mengenai keberlanjutan usaha mereka karena banyak anak-anak mereka yang tidak mau meneruskan pekerjaan tersebut. Di lain sisi, banyak orang tua di pedesaan juga tidak menginginkan anak-anak mereka bekerja sebagai petani di desa.

Pada akhir tahun 2016 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan hasil Survei Penduduk Antar Sensus tahun 2015 yang disebutkan bahwa selama periode 2015-2035 Indonesia akan mengalami bonus demografi dengan presentase penduduk usia muda dan produktif di Indonesia diperkirakan akan mencapai kisaran 70% yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan penduduk usia non-produktif kepada penduduk usia produktif.

Umumnya bonus demografi yang dialami suatu negara akan disertai dengan dinamika kependudukan lain seperti peningkatan jumlah penduduk, meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia, perpindahan penduduk antar daerah, dan meningkatnya proporsi penduduk perkotaan.

Bonus demografi dapat dikatakan bagai pedang yang bermata dua, jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi potensi besar bagi suatu negara namun jika tidak dipersiapkan dengan baik akan menjadi suatu beban yang besar. 

Pertambahan penduduk usia produktif menuntut penciptaan edukasi yang lebih baik dan peluang kerja yang sangat besar. Penduduk usia muda dan populasi yang terus tumbuh menuntut pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Lalu apa yang akan terjadi ke depannya? Saat ini salah satu isu dalam agrikultur yaitu perubahan struktur demografi tenaga kerja seperti penuaan petani yang kurang mendapat perhatian serius dibandingkan dengan isu-isu lain padahal permasalahan penuaan petani merupakan tantangan demografi serius yang akan dihadapi. Perubahan struktur demografi ini tidak hanya akan terjadi di wilayah benua Asia namun juga terjadi di wilayah benua lain.

Teknik dan sistem agrikultur yang ada saat ini dapat dikatakan belum mampu mencukupi kebutuhan pangan dan peningkatan gizi. Seiring waktu berjalan apabila tren penurunan minat kerja di sektor agrikultur terus berlanjut ke depannya, peningkatan jumlah petani yang berusia lanjut akan semakin meningkat di sisi lain semakin berkurangnya petani muda dapat mengakibatkan kurangnya pasokan pangan yang akan mengakibatkan masalah kelaparan dan kekurangan gizi.

Pola pikir masyarakat yang menolak perubahan dan penolakan penggunaan sains serta teknologi turut memperparah keadaan ini. Hal-hal tersebut memicu kurangnya inovasi yang ada di industri agrikultur. Padahal untuk memenuhi tantangan ini dibutuhkan sebuah upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, peneliti, investor, teknologi serta sains pertanian yang inovatif.

Saat ini, seiring berkembangnya sains dan teknologi memunculkan revolusi baru dalam industri agrikultur yaitu revolusi agrikultur 4.0. Hal tersebut memungkinkan petani untuk memanfaatkan teknologi seperti drone, A.I., sensor, mesin, robot, IoT dan big data untuk menciptkan ekosistem agrikultur yang pintar dan presisi.

Dalam bidang sains pemanfaatan teknologi Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeat (CRISPR) dapat digunakan untuk pengeditan genom yang memungkinkan selektivitas untuk menghasilkan varietas tanaman dengan hasil yang lebih baik dan ketahanan terhadap kondisi buruk, serta juga dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman dengan kandungan nutrisi, vitamin, dan mineral penting lainnya.

Beberapa penelitian dengan inovasi-inovasi baru juga telah dilakukan untuk ke depannya seperti budidaya tanaman dengan air laut dan agrikultur gurun yang saat ini sedang diteliti oleh King Abdullah University for Science and Technology (KAUST) di Arab Saudi.

Perangkat canggih dan presisi serta sistem robotik ini memungkinkan pertanian menjadi lebih menguntungkan, aman, efisien, dan ramah lingkungan. Dengan bantuan sains yang dikolaborasikan dengan teknologi diharapkan mampu membantu dalam menghadapi permasalahan agrikultur saat ini dan yang akan datang.

Selain itu, dengan adanya modernisasi agrikultur dengan bantuan sains dan teknologi diharapkan mampu mengubah persepsi agrikultur yang umumnya dikaitkan dengan pekerjaan keras dibawah terik matahari, kotor, sulit, dan berisiko tinggi menjadi industri agrikultur yang bergengsi dan berteknologi canggih.

Meskipun teknologi dan sains bukan satu-satunya solusi untuk dapat menyelesaikan masalah kelaparan dan kekurangan gizi. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah dan masyarakat juga perlu memainkan peran kunci untuk mengambil peran yang lebih menonjol dan lebih luas.

Banyak penelitian dan opini publik yang sebagian menganggap bahwa permasalahan ini merupakan ketakutan yang tidak berdasar dan terlalu dibesar-besarkan, sebagian lainnya menanggapi masalah ini dengan serius dan perlunya menerima perubahan karena perubahan yang bersifat dinamis. Apabila melihat kondisi yang ada saat ini, bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan?