Almarhum Utomo Dananjaya adalah seorang pembaca serius. Ia paham arah pewartaan yang baik. "Coba kamu baca majalah ini," ujarnya kepada saya, sambil menyodorkan satu majalah terkenal di Indonesia. Kemudian saya membacanya dengan serius. "Apa yang kamu lihat dari narasi itu?" tanyanya.

Saya hanya diam. "Nah, detail pemberitaan itu penting!" ucapnya kemudian. "Wartawan ini mewawancarai seorang arsitek pada peristiwa bom." Saya membaca lagi berita itu sekaligus memerhatikan apa yang diajarkan almarhum Pak Tom.

Waktu itu, Jakarta sedang diteror bom. Liputan khusus sebuah majalah dengan narasi seperti sebuah gambar. Pak Tom paham sekali bahwa detail sangat penting dalam menulis warta sekaligus untuk melihat peristiwa yang sudah terjadi.

Pemberitaan bom di Sarinah, Jakarta, cepat sekali direspon oleh Netizen. Ada yang menebar tagar, ada pula yang menebar berita (teks) juga foto. Saya teringat soal detail yang pernah disinggung Pak Tom itu. Pertama, untuk menuliskan. Kedua, membaca latar peristiwa. Saya pikir, ini ilmu sederhana untuk melihat sebuah peristiwa. Baik penulis atau pembaca harusnya memperhatikan detail. Apalagi ketika ia harus membuat opini.

Literasi Detik. Dalam dunia modern, berita harus segera turun cetak atau tayang. Dengan hitungan detik, peristiwa bisa menjadi isu semua orang. Misalnya, untuk peristiwa bom di Sarinah, Jakarta. Bahkan warga di lereng gunung kabupaten dengan cepat bisa mengetahuinya lewat televisi.

Tidak hanya itu, sebuah peristiwa mengandung wacana (discourse). Benar ketika ledakan bom terjadi, benak kita langsung terhubung dengan makna teror atau teroris, sebab dengan secepat kilat juga media elektronik/cetak menayangkannya menjadi headline demikian.

Lantas apa artinya teks naratif liputan khusus bagi si pembaca cepat? Ya, saya pikir benar kata almarhum Pak Tom, detail peristiwa itu penting. Seperti seorang arsitek menggambar bangunan dengan daun di pinggir tembok, ia harus membuat detail sampai hal yang tak pernah terlihat orang lain.

Begitulah kiranya, saya punya pendapat bahwa sebuah liputan khusus sama halnya dengan sebuah analisis. Ia membutuhkan satu ketelatenan untuk membaca, tidak hanya menilai (judgment). Sedangkan berita super cepat membutuhkan penilaian sekaligus kehilangan detail. 

Saya pikir pelajaran detail dari pendiri Yayasan Wakaf Paramadina itu penting. Detail adalah cara kita untuk menunda penilaian dan mengharuskan mata membaca satu persatu kaitan sebuah peristiwa. Dengan cara ini, benak kita akan bijaksana melihat satu kejadian.

Sebenarnya, tidak hanya itu. Pihak kepolisian harus cepat berada di lapangan (pengamanan) sekaligus menurunkan sebuah penilaian. Dengan itu, mereka dapat melayani serbuan pertanyaan media. Misalnya, jaringan teror bom Sarinah terkait dengan ISIS.

Oleh sebab itu, ada netizen yang ngedumel ketika cap gerakan radikal itu disematkan kepada peristiwa bom Sarinah. Padahal, belum tentu mereka terkait. Penyebabnya, literasi detik informasi membuat benak kita seperti sebuah shelter yang menampung bus-bus, yang dengan cepat datang dan pergi. Kita boleh mencapnya, namun saya pikir, pelajaran detail seperti pernah diujarkan Pak Tom ini amatlah penting.