Sampah adalah bekas dari pemakaian kebutuhan manusia. Pada awal sejarah kehidupan manusia, sampah bukan jadi masalah karena sampah bisa dimanfaatkan sebaik mungkin sebab masih merupakan sampah organik. 

Setelah menuju ke peradaban yang lebih moderen dengan teknologi canggih, kebutuhan manusia dikemas sedemikian rupa yang menghasilkan sampah nonorganik.

Sampah non-organik menjadi permasalahan khusus bagi manusia saat ini. Bahan sampah non-organik banyak menimbulkan permasalahan pada lingkungan sekitar disebabkan oleh bahannya yang sulit dan lama terurai oleh alam. 

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mencari solusi mengenai sampah non-organik hingga mengurangi pemakaian kantong plastik dan menekan  jumlah konsumsi air botol mineral contohnya. Namun hal itu tidak berpengaruh secara signifikan untuk keberlangsungan lingkungan hidup sehat yang aman dari dampak yang ditimbulkan oleh sampah.

Manusia sering kali menyalahkan sampah sebagai objek jahat ketika terjadi banjir yang merugikan manusia misalkan bahkan menelan korban jiwa. Suatu permasalahan pelik di masyarakat modern hanya memakan isinya dengan meninggalkan jejak sampahnya seperti kacang lupa kulitnya. 

Menurut Hadiwiyoto (1983), sikap mental atau perilaku merupakan salah satu faktor yang menimbulkan masalah sampah, sehingga sukar untuk dikendalikan. Bahkan hewan lebih beretika dari manusia yang hanya meninggalkan jejak kakinya saja yang mengisyaratkan bahwa hewan itu pernah berada di tempat itu tanpa mencemari lingkungan.

Permasalahan sampah dialami bukan hanya di perkotaan, tetapi juga di desa-desa yang kurang memperhatikan pengolahan sampah. Merambahnya toko-toko modern yang menjual kebutuhan manusia berkemasan plastik mengubah pola hidup masyarakat desa. 

Mentang-mentang di desa masih banyak lahan kosong dan tidak diperadakannya tempat pembuangan sampah sementara (TPS), sampah plastik dibuang sembarangan di lingkungan sekitar untuk dibakar bahkan untuk lebih simpelnya hanya dihanyutkan saja di sungai. 

Masyarakat di desa sering mengandalkan bahwa sampah organik maupun non-organik masih belum menjadi alasan utama banjir tidak seperti apa yang terjadi di kota. Namun sampah yang kita bakar setiap hari dan kita hanyutkan di sungai dapat menyebabkan vektor penyakit terhadap kesehatan malah sampah di desa lebih berbahaya dengan sampah yang ada di peekotaan. 

Pencemaran yang diakibatkan oleh sampah yang kita bakar, yaitu pencemaran udara dan tanah yang secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan. 

Macam pencemaran udara yang ditimbulkan oleh pembakaran sampah dapat meningkatkan karbonmonoksida (CO), karbondioksida (CO2) nitrogen monoksida (NO), gas belerang, amoniak, dan asap di udara. 

Asap di udara, asap yang ditimbulkan dari bahan plastik ada yang bersifat karsinogen, artinya dapat menimbulkan kanker. Begitu pun dengan membuang sampah di sungai seperti pencemaran perairan yang ditimbulkan oleh sampah terjadinya perubahan warna dan bau pada air sungai, penyebaran bahan kimia dan mikro-organisme yang terbawa air hujan dan meresapnya bahan-bahan berbahaya sehingga mencemari sumur dan sumber air.

Menurut WHO pada tahun 2001 bahwa rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, di mana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya, baik untuk kesehatan keluarga dan individu. Sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang bersih untuk menunjang kesehatan fisik dan psikologis. 

Pemerintah Desa harus hadir untuk mensosialisasikan pentingnya mengolah sampah. Tidak hanya tinggal diam menunggu pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan kebersihan lingkungan. 

Pemerintah Desa selaku pelayan publik yang sangat dengan dan mengenal karakter masyarakatnya harus menyadari untuk melaksanakan desentralisasi sampah yang diproduksi masyarakat setiap hari untuk mengatasi pembakaran sampah nonorganik dan membuang sampah di sungai dengan memperadakan gerobak sampah keliling dan TPS. 

Dalam Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan langkah baru untuk membenahi penyelenggaraan pemerintahan. Melalui otonomi dan desentralisasi yang diharapkan mampu melahirkan partisipasi aktif masyarakat. Serta dalam Undang-undang RI nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang harus dilakukan secara komprehensif sejak hulu sampai hilir dimulai dari desa. 

Manusia sebagai makhluk yang memiliki nalar harus mampu memikirkan masa depan lingkungannya dengan menjaga kebersihan desa yang dikenal sebagai ruang yang masih perawan atau hijau. Kesadaran individu tentang pentingnya kesehatan untuk menyediakan tempat sampah organik maupun non-organik dan membuat pengolahan daur ulang sampah untuk menunjang produktivitas masyarakat.