Data statistik UNESCO menyebutkan, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia ada di peringkat pertama dengan tingkat literasi tinggi. Sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kepedulian, tentu patut sedih melihat fakta ini.

Sudah banyak informasi yang kita terima sejak kecil akan manfaat membaca, mulai dari supaya wawasan kita luas, menumbuhkan imajinasi, hingga melatih kita untuk berpikir kritis. Sebagaian orangtua tentu mengatakan bahwa memang pada dasarnya tidak semua anak memiliki hobi membaca, jadi mereka cenderung membiarkan, yang penting nilai ujiannya di sekolah bagus.

Tidak heran hari ini kita melihat tumbuh suburnya bimbingan belajar yang menjanjikan nilai anak bagus dengan capat, dengan mengajarkan anak cara-cara cepat menyelesaikan soal ujian. Akhirnya sang anak pun akan beranggapan bahwa yang penting dapat menyelesaikan soal ujian dan dapat nilai bagus. Ia tidak terlatih untuk berpikir di luar pelajaran sekolah.

Jika dilihat sepintas, kita tidak menemukan masalah dalam hal ini. Tetapi, jika kita melihat lebih dalam lagi, sebenarnya ketika seorang anak tidak ditumbuhkan minat membaca sedari kecil, ia menjadi minim imajinasi dan dikhawatirkan ketika dewasa kelak ia akan memiliki pola pikir yang minim inovasi. 

Sebab, selama ini pola pikirnya berfokus pada penyelesaian masalah pada saat ujian sekolah, dan malah tidak dapat menyelesaikan persoalan di sekelilingnya. Padahal, banyak hal di luar sekolah yang sebenarnya penting dipelajari dan hanya ada di buku buku tetapi tidak diajarkan di sekolah.

Ambil saja contoh bapak pendiri bangsa kita, apakah Ir. Soekarno akan memiliki pemikiran bagaimana supaya Indonesia tidak dijajah jika dari kecil hingga dia dewasa dia hanya belajar pelajaran sekolah saja, dan hanya berpikir bagaimana mendapatkan nilai bagus tanpa membaca buku buku progresif di masa itu?

Lalu lihat banyaknya koleksi buku Muhammad Hatta dan Tan Malaka, dan tingginya minat baca mereka ketika mereka berpergian yang tidak akan lepas dari buku bukunya. Mereka tidak akan mungkin memiliki pemikiran yg progresif jika mereka hanya terpaku pada bagaimana menjadi pelajar yang baik dengan nilai yang bagus saja.

Dewasa ini saya melihat kurangnya minat baca bukan semata mata karena kurangnya motivasi dari anak-anak, jika kita mengharapkan anak anak memiliki motivasi minat baca tanpa ada dukungan orang tua tentu akan sangat susah. Maka dari itu menurut saya orang tua lah yang pertama tama berperan penting supaya anak nantinya dapat memiliki minat baca yang tinggi.

Tetapi, ini akan menjadi problem ketika orang tua ternyata tidak dapat membelikan buku buku yg cukup untuk anaknya. Mungkin orang tua sudah berusaha untuk menumbuhkan minat baca kepada anak anaknya, hanya saja mereka tidak sanggup membelikan buku untuk anak anaknya, karena ekonomi keluarganya hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari hari. Barulah dalam hal ini komunitas baca menjadi penting di daerah atau desa desa yang dimana di situ banyak orang tua yg tidak sanggup membelikan buku kepada anak anaknya.

Komunitas baca tidak hanya mengumpulkan mereka yang suka membaca, justru seringkali komuitas baca bukanlah tumbuh dari pemikiran agar orang yang suka membaca buku bisa saling bertukar pikiran.  Pada prakteknya komunitas baca malah lebih mementingkan agar daerah di sekitarnya yang jauh dari perpustakaan yang dimana letak perpustakaan biasanya letaknya ada di pusat kota masih dapat membaca buku, dan agar anak anak di daerah tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses buku.

Tentu memang pada prakteknya komunitas baca yang dibuat oleh biasanya anak muda ini koleksi bukunya tidak sebanyak yang ada di perpustakaan. Tetapi menurut saya, ini justru malah lebih berperan menumbuhkan minat baca anak anak ketimbang menambah koleksi buku di perpustakaan atau mempermegah perpustakaan yang letaknya di kota yang justru tidak dapat dijangkau oleh anak anak di desa.

Anak-anak tentu tidak hanya membaca buku yang mereka suka ketika berkumpul dengan teman-temanya di komunitas baca, mereka bisa berdiskusi dan saling bertukar pikiran dengan temanya. Budaya ini lah yang nantinya dapat membuat anak-anak tidak hanya pandai menyelesaikan masalah di sekolah, tapi juga di lingkungan sekitarnya. Dan akhirnya menjadikan mereka generasi yang sanggup berpikir kritis, toleran dan tidak mudah menyebarkan ujaran kebencian atau berita bohong.

Komunitas baca jauh lebih penting ketimbang membangun perpustakaan di desa-desa. Mengapa demikian? Karena dengan adanya komunitas baca di desa-desa timbul adanya interaksi, diskusi, dan bertemunya perbedaan pendapat. Sedangkan di perpustakaan, kita dihadapkan aturan supaya anak-anak ini patuh dan larangan untuk berisik.

Padahal anak-anak tidak mungkin dapat diam seperti para orang dewasa, sudah naluri mereka ketika mereka bosan untuk membaca, mereka akan bermain dan ngobrol sama teman-temanya.

Bagi saya, seyogyangya pemerintah harus menyadari sedari awal dan menemukan solusi akan minat baca di negara kita ini agar bisa tumbuh dan tidak tertinggal dengan negara lain. Sayang sekali jika bonus demografi yang kita agung agunkan nantinya justru menumbuhkan generasi yang memiliki minat baca rendah.

Caranya tentu yaitu dengan menumbuhkan komunitas baca di desa-desa. Bisa dengan mewajibkan para karang taruna di desa untuk membentuk komunitas baca. Dan untuk daerah tertentu yang dimana di daerah tersebut sudah memiliki komunitas baca didukung dengan cara memberikan bantuan berupa buku agar koleksi di setiap komunitas baca bertambah banyak, dan juga memberikan buku sesuai permintaan anak-anak di daerah itu.