Kerusakan alam yang terjadi hingga hari ini telah banyak memancing bencana alam, mereka datang silih berganti, dimulai dari gempa bumi, banjir, hingga pencemaran udara. Tanpa pandang bulu alam dengan ganas menyerang manusia, bencana yang muncul tidak lagi memandang siapa yang benar dan siapa yang salah. 

Kerusakan alam tentu tidaklah terjadi dengan sendirinya, sebagaimana yang kita lihat, manusia adalah kelompok dari sekian makhluk yang berperan dalam memicu berbagai macam bencana di muka bumi.

Jika ini dibiarkan, maka bisa kita prediksi bahwa alam akan semakin ganas menghukum manusia. Menurut BNPB, tercatat sekitar 2,175 bencana alam yang terjadi selama tahun 2017 di Indonesia. Bencana tersebut meliputi banjir 737 kejadian, tanah longsor 577 kejadian, kebakaran hutan 76 kejadian, banjir dan tanah longsor 67 kejadian, kekeringan 19 kejadian, gempa bumi 18 kejadian, gelombang pasang 8 kejadian dan letusan gunung api 2 kejadian.

Salah satu penyebabnya adalah paradigma antroposentrisme yang melahirkan sikap egosentris pada manusia. Paradigma atroposentrisme telah membawa manusia pada situasi yang kelam, dan secara tidak sadar membuat banyak sisi kehidupan bermasalah, salah satunya kerusakan alam. 

Rahmat Dwi Susilo dalam buku Sosiologi Lingkungan menuliskan bahwa kerusakan yang terjadi pada alam dewasa ini banyak disebabkan oleh sifat rakus (egois) manusia yang selalu mengeksploitasi alam untuk kebutuhan pribadi, dalam mengeruk potensi alam dengan cara yang berlebihan, tanpa diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan alam, sehingga berdampak pada rusaknya tatanan alam yang ada. Manusia seolah-olah adalah raja atas semua makhluk, yang semua kebutuhannya harus dipenuhi oleh alam dan isinya.

Di Papua misalnya, PT Freeport dengan segala sumber daya yang dimiliki begitu aktif menggunduli gunung-gunung berisi emas demi meraup keuntungan yang tidak terhitung jumlahnya. Eksploitasi alam ada di mana-mana, dan rasa-rasanya manusia tidak akan puas sebelum kekayaan alam dikuras habis layaknya air aquarium yang airnya keruh. 

Tidak hanya Freeport, tapi juga kerusakan alam juga terjadi di beberapa daerah yang memiliki potensi alam yang besar baik dalam bidang pertambangan, kelautan maupun pertanian. Beberapa daerah seperti Kalimantan, Banyuwangi, Riau dan Sulawesi adalah sasaran empuk eksploitasi. 

Tidak terlihat sedikit pun kepedulian untuk mengambil sumber daya alam dengan bijak, bahkan demi berjalannya kepentingan tersebut mereka rela menambrak semua aturan dengan uang suap.

Dampaknya adalah, kondisi alam di sana sangat rawan terkena bencana, seperti polusi, limbah dan sulitnya air bersih serta kondisi masyarakat sangat mudah terjangkit penyakit. 

Tidak hanya itu, dampak lain dari eksploitasi alam adalah pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin mengalami krisis, karena lapangan kerja dan ruang-ruang produksi dikomersialisasi secara tidak ethis oleh sekelompok orang yang orientasinya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Ruang bagi masyarakat yang seharusnya menikmati hasil buminya tertutup rapat karena didominasi dan dipolitisasi dari segelintir orang yang mengendalikan perputaran itu.

Pada akhirnya manusia juga yang harus merasakan konsekuensinya, mereka harus bersusah payah membersihkan sungai yang telah penuh dengan sampah, menggali saluran air kembali karena tersumbat, atau menanam pohon untuk mencegah datangnya longsor. Itu saja aktivitas yang dilakukan oleh manusia saat ini, habis bencana datang, mereka sadar, tapi ketika bencana tidak muncul, kesadaran itu menjadi surut dan akhirnya berulah lagi.

Dalam hal ini, sikap manusia yang membentuk aktivitas eksploitasi alam dan dalam mengelola alam berakibat fatal terhadap kelansungan hidup manusia itu sendiri. Seharusnya, paradigma manusia hari hanya sebatas pemenuhan kebutuhan manusia belaka, di mana alam dijadikan sebagai objek untuk memperkaya diri sendiri.

Manusia lebih egois terhadap alam, sehingga mengabaikan kepentingan alam yang sejatinya perlu mendapat perhatian agar keberlangsungannya tetap ada dan bisa memenuhi kebutuhan manusia untuk mempertahankan eksistensinya.

Paradigma, Etos dan Aksi

Berbicara tentang menjaga kelansungan alam, setidaknya tiga prinsip utama yang harus dimiliki oleh seseorang agar mampu merealisasikan tujuan tersebut, dan berujung pada kesadaran manusia untuk menjaga eksitensi alam sebagaimana manusia menjaga eksistensinya sendiri. Tiga prinsip itu adalah paradigma, etos dan aksi. Pinsip ini merupakan manifestasi dari kesadaran manusia untuk melihat alam sebagai salah satu ciptaan yang harus dihormati layaknya manusia.

Agar manusia lebih peduli dengan alam, harus memiliki pondasi yang kuat bernama paradigma. Bruce Witsel mengatakan bahwa eksploitasi alam yang berkepanjangan ni tidak lepas dari paradigma masyarakat yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri, atau lebih dikenal dengan sikap atroposentrisme. Maka dengan mudahnya alam dieksploitasi secara bebas, dan dijadikan komoditi dalam melancarkan praktek kapitalisasi yang lebih dikenal sebagai praktik ekonomi tidak sarat etika.

Untuk menjaga alam, prinsip pertama yang harus dimiliki oleh manusia adalah paradigma saling mengisi., di mana manusia dan alam harus harmoni dalam memenuhi kebutuhan satu sama lain. Jika manusia dan alam memiliki hubungan yang harmoni, maka sejatinya manusia sebagai makhluk yang berakal akan dengan bijak mengelola alam tanpa harus merusak tatanannya. Menanam padi hanya menggunakan ikan-ikan kecil untuk mencegah hama, kedepannya ikan-ikan itu juga bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

Tujuannya adalah untuk menciptkan keseimbangan, seperti dalam ajaran filsafat China yang mengatakan bahwa hidup jika ingin damai harus mengaktualisasikan konsep yin dan yang sebagai simbol keseimbangan hidup. Paradigma inilah yang nantinya akan memberikan pengaruh pada nilai dan tindakan seseorang terhadap alam. 

Dalam hal ini, paradigma menjadi sebuah landasan atau pondasi utama bagi manusia agar mampu bijaksana dalam mengelola sumber daya alam. Bukan karena terpengaruh oleh perkembangan zaman yang serba modern sehingga mengharuskan penggunaan produk modern juga, seperti peptisisda, atau produk kimia lainnya yang sangat tidak cocok untuk keberlansungan hidup alam.

Yang kedua adalah nilai atau ethos, Bruce Witsel menilai bahwa kerusakan alam yang terjadi saat ini karena nilai yang dianut oleh masyarakat tidak berasas pada landasan ekologis yang ada. Landasan ekologis atau dalam kajian ekologi ini juga disamakan dengan ekosentris, di mana manusia juga harus memiliki rasa hormat pada alam yang notabenenya adalah makhluk yang sama dengan manusia. 

Untuk merealisasikan ini, para aktivis lingkungan mendirikan sebuah paham ekosentrisme yang memiliki pandangan bahwa manusia dan alam adalah sama dan harus dihormati layaknya manusia. Gerakan serupa juga muncul, seperti gerakan biosentrisme dan ekofeminisme. Dimana gerakan-gerakan tersebut memiliki prinsip yang bertujuan untuk menghilangkan dominasi manusia di muka bumi ini.

Ketiga, untuk menjaga alam manusia harus memiliki gerakan nyata dalam memerhatikan alam. Gerakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan alam yang selama ini dilupakan oleh manusia. salah satu gerakan yang bisa dilakukan oleh manusia adalah menjaga keberadaan lahan hijau. 

Ditengah pembangunan gedung-gedung yang pesat, sudah tentu akan menguras lahan hijau yang juga besar. Maka untuk mencegah hal itu, pembangunan tidak boleh dilakukan dilahan-lahan hijau, seperti taman, hutan atau margasatwa, apapun alasannya.

Agar gerakan itu terlaksana dengan baik, maka pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus mampu menindak tegas siapapun dan kelompok apapun yang mencoba untuk menabrak aturan ini. Masyarakat pun harus mampu mengambil peran vital dalam mengatasi kerusakan alam yang semakin parah, sehingga kedepannya terbangun gerakan ‘mencintai alam’ yang di dalamnya pemerintah dan masyarakat bersinergi. 

Sudah saatnya manusia dan alam saling mengisi satu sama lain, manusia harus bersikap layaknya alam yang senantiasa menyediakan kebutuhan manusia, tanpa harus salah satunya menjadi superior.