Orang bilang menonton tv terlalu dekat itu tidak baik, aku benar-benar manjauhi tv dan gambar-gambar indah di dalamnya. Karena aku sedang memegang pensil yang tak pernah memberiku gambar apapun.

Pensil itu sering kali mau kupatahkan, tetapi aku merasa pensil itu pernah menulis namaku dalam selembar kertas yang telah kusimpan dalam setiap mimpi di malam hari.

Pensil itu kadang membuatku naik darah karena sering patah dan patah. Tapi aku masih saja melancipkan ujungnya, biar nanti, suatu saat nanti pensil itu memberikan sebuah gambar hitam di atas putih.

Tetapi saat orang lain memutar tv di depanku, gambarnya menggodaku dan ingin sesekali kubuang pensil yang tak pernah habis karena tak terpakai olehku.

Pensil itu adalah pensil yang jauh sangat berbeda ketimbang pensil lain di tempat pensil yang yang tak pernah jadi miliku.

Dia lebih ramping dan berwarna abu-abu.

Ingin sekali sebenarnya kupegang pensil ramping itu di tangan setiap hari, lagi-lagi ada yang tak kupahami dari diriku, atau dari pensil itu. Hanya sekali aku memotret gambarku bersamanya. gambar itu ada dan akan selalu ada.

Kuberi nama pensil itu. Sayang.